Celomet

Literasi Omah Aksoro

Di kala itu cakrawala menutup mata
terbius kehidupan durjana
sempit gerak untuk mencerna
arah selalu tertutup kosongnya aksara.

Dalam perjalanan kutemukan sebuah ingar bingar kehidupan,
warna warni corak bumi kuterjal
meski kaki tak kuat menahan badai
yang berterbangan di halaman aksara.

Mimpi aku tak punyai
hanya lamunan yang mengiasi panggung aksara.
Telah lama aku termenung
di kala bintang malam gembira riang,
menanti cahaya-cahaya terang berkiasan tetesan darah belalang.

Tak beda dengan seokan rembulan
murung melipat senyum tanpa sinar malam,
langit meruntuhkan meganya tanpa kata.

Di saat itu kosong bergemuruh daun-daun layu,
semangat tak menjadi sebuah harapan,
percaya diri layaknya kabut terhembus angin dalam kehancuran.
Tak hanya kawah hitam yang akan menjadi jerit tangis,
aku pun akan mati ketika aksara
tak menemuiku di sebuah sanggar sederhana.

Literasi kutemukan di kala gonjang ganjing hati bertengkara,
di saat itu aku berkabung di sebuah wadah yang bernama Omah Aksoro.
Di saat itulah semangat tersenyum
layaknya rumput- rumput sehabis disisir pungawa.
Arti sebuah ikatan yang tak pernah kukenal dan kini
telah mengikat jiwa di sebuah sanggar sederhana “Omah Aksoro”
tumbuh dalam butanya budaya literasi baca nan tulis sepilah ini kupuisikan.

Tinta sajak yang kucoret-coret ini adalah sebuah literasi yang telah kudapati.
“Omah Aksoro” layaknya rajawali yang melalang tinggi,
merelakan sayapnya lumpuh untuk sebuah negeri merah putih,
menjadi wadah sebuah literasi pemuda pemudi bangsa tercinta
sepanjang tutupnya usia di pijakan bumi.

Omah Aksoro?
Tumbuh… Tumbuh… Tumbuh berkembang
selagi senja masih bercinta dalam istana Bumi.

#OmahAksoro

Click to comment

Komentar

To Top