Puisi

Wajahmu Menjelma Kunang-kunang

Wajahmu menjelma kunang-kunang seketika malam tiba.
Hening kosong nan gelap merangkak rintih sendu-biru telanjang begitu indah.
Lentik tubuhmu menarik berserakan di pantai
sedang bintang menyimak dan kilau permata termenung
melihat indahnya malam.

Karang menari, gelombang pasang bernyanyi,
bersuarakan lantang mengundang daun-daun tua
yang hampir lumpuh berguguran,
sedang wajahmu menjelma kunang kunang.

Kulihat awan langit memerhatikanmu,
siang, malam menyapa, menanya kabar tentang keseharian.
Ombak ngilu serentak berlabuh mengunjung langit biru
seakan tegar nan kuat berseri-seri
tanpa hirauan cahaya kunang-kunang, nyata murung.

Angin malam menyelimut gelap melirih
menepis lamunan langit yang tak kunjung usai,
kadar jingga dikerumuni pedang merobek isak tangis sang awan.

Fajar mengolet, pagi telah tiba dan mentari segera merapi,
sedang wajah menjelma kunang-kunang masih terlihat manja,
Tak Peduli.

Omah Aksoro, Jakarta 2015

Senja yang Sakit

Senjamu kini sakit, tak nampak di sore ini.
Apa engkau ingin menjenguk?
Jika iya, aku ingin menitipkan pesan untuknya.
Jaga dan rawat kesehatanmu karena sakitmu melukaiku.
Kau harus sehat nan tegar seperti biasanya.
Terlihat cantik nan rupawan, mengiasi lirik-lirik jalan.

Dan kini mereka mencarimu,
mencari kebiasaanmu, tertawa, bercanda,
celotehan tanpa letih.
Kau harus bangkit nan tetap bersinar di soreku.
Karenamu aku rindu.
Rindu akan namamu, akan sinar wajahmu
yang menyelinap masuk di jendela manisku.

Omah Aksoro, Jakarta 2015

Click to comment

Komentar

To Top