Cerpen

Surat dari Para Mantan

Sepucuk surat datang dari pengirim-pengirim dan alamat yang telah berkali-kali berkirim kepada Dimas. Ditujukan ke rumah Dimas yang baru satu tahun ia tempati bersama istrinya yang baru. Belasan kali surat datang hanya dari tiga pengirim dan tiga kali dibalas. Lembar-lembar surat disertai lampiran foto itu selalu menghangatkan suhu di dalam rumah, meski hujan seharian membasahi seluruh sudut sekitaran rumah.

“Mas, ada surat lagi dari Yana,” kata istri Dimas dengan suara kaku.

“Ada fotonya lagi?” Tanya Dimas.

“Ini ada tiga lembar, yang semuanya berbeda tempat. Di gunung, di air terjun dan di sebuah batu besar.”

“Isi suratnya gimana?”

“Dia masih setia dengan janji manismu dulu.”

Gemuruh hati Dimas menjadikan keringat mulai terasa merembes melalui pori-pori kulit, meskipun di luar gerimis masih belum berhenti.

“Di foto yang ini ada tulisannya mas,” kata istri Dimas melanjutkan percakapan.

“Apa tulisannya?”

“Batunya ditulisi cat warna merah berbunyi ‘Aku kan setia menunggu kau menepati janjimu. Aku sayang kau Dimas. By: Yana’.”

Happppp!!! Dimas tidak mampu melanjutkan tarikan nafasnya. Dengan cekatan sang istri segera menolongnya untuk kembali menarik nafas pelan dan rileks. Sang istri segera meninggalkan Dimas yang masih duduk lemas di ruang depan.

***

Untuk ke sekian kalinya surat dari wanita itu datang lagi. Dan lagi-lagi, sebagai istri yang hanya di rumah ketika suami bekerja, amplop surat yang diantar tukang pos itu diterimanya. Ia menyadari bukan haknya untuk lebih dahulu membuka surat itu. Karena yang dituju adalah sang suami, meskipun ia sudah tahu bahwa surat itu dikirim salah seorang dari tiga wanita yang sering mengirim suaminya surat.

“Ada surat datang lagi?” Tanya suami ketika sampai di rumah mendapati istrinya berwajah beku. Sang istri duduk di kursi seperti sebongkah batu yang kokoh tak bisa bergerak, meski sekedar memalingkan wajah.

Wajah beku itu sering terlihat beberapa bulan terakhir, sejak surat-surat itu sering datang. Ketika surat pertama datang, hampir semua perabot ruang tamu berantakan. Pembacaan surat pertama dari wanita itu berujung pada pertengkaran di ruang tamu.

Pasangan ini berusaha membangun komunikasi terbuka sesama mereka, dalam masalah apapun. Termasuk cerita-cerita mengenai kegagalan hubungan asmara di masa lalu. Mereka menyadari, kegagalan masing-masing dalam menjalin asmara disebabkan oleh komunikasi yang buruk. Mereka baru menyadarinya setelah menjalani kehidupan pernikahan.

Pesan dari beberapa saudara ayah Dimas yang telah memiliki cucu diingat dan dilaksanakan dengan baik. Inti pesan itu adalah bahwa dalam rumah tangga harus terjalin komunikasi yang baik agar tidak gagal di tengah jalan. Segala persoalan harus dipahami dan dibicarakan bersama agar keduanya saling tahu dan paham perasaan pasangannya.

Buktinya, meskipun sudah beberapa bulan dan belasan kali surat itu datang dari wanita yang pernah menjalin asmara dengan Dimas, mereka masih sanggup bertahan. Keduanya saling percaya satu sama lain. Keduanya sudah berkomitmen di depan saksi.

Tanggung jawab dijalankan oleh masing-masing, sembari mengingat bahwa mereka sudah tidak lagi bujang. Sang istri pun yakin, suaminya tidak akan serong dengan wanita-wanita pengirim surat itu. Istri tetap setia meskipun surat itu datang bertubi-tubi.

***

Kejenuhan membelenggu hati pasangan muda yang baru satu setengah tahun menikah itu. Surat-surat tidak berhenti, meski hanya dibalas masing-masing satu kali. Keduanya sepakat untuk tidak menghiraukan. Namun, meskipun kesepakatan tercapai dan dijalankan, tetap saja ada yang berbeda rasanya.

Naluri dan hati sebagai seorang istri yang memiliki hak atas suaminya tetap terbakar. Marah, curiga, dan cemburu tidak bisa selamanya dibendung. Setebal apapun waduk dibangun, jika termakan waktu tetap harus ada perbaikan di sana-sininya.

Di hari libur, pasangan itu menyempatkan mengunjungi tempat wisata. Dengan menyewa vila untuk tiga hari, pasangan ini bermaksud mencari solusi terbaik untuk masa depan mereka.

“Saya yakin mas memegang komitmen kita,” kata istri membuka percakapan saat mereka tengah bersantai di halaman vila sambil minum kopi hangat.

“Ya, saya tidak ingin kegagalan membangun rumah tangga menimpa kita. Aku malu terhadap tetangga jika gagal membangun keluarga.”

“Mas, saya punya ide.”

“Apa kira-kira sayang?” jawab Dimas.

“Kita temui mereka, kita ajak bicara baik-baik, bahwa kita tidak ingin diganggu ulah mereka.” Seloroh istri.

“Tidak. Saya tak mau terjadi pertengkaran.” Dengan tegas Dimas menolak.

“Kok pertengkaran? Kita bicara baik-baik, Mas.” Jawab sang istri dengan wajah bingung.

“Saya sudah memahami watak dan alur hatimu. Meskipun kau mampu menahan emosi saat hanya berhadapan denganku, tapi kau tetap wanita.” Jawab Dimas.

“Emang kenapa”

“Cemburu akan tetap menguasaimu. Amarah akan mengendalikanmu. Hatimu akan tetap kalap kalau di hadapannya.”

“Tidak akan mas.” Istri meyakinkan.

“Tetap tidak. Karena aku lebih tahu mereka. Mereka bertiga adalah para mantan kekasihku dahulu. Itu kau pun juga tahu. Tapi, aku lebih memahami mereka daripada kau sayang.” Dimas menjawab sambil membelai kepala istri yang duduk di sampingnya.

“Mereka bagaimana, Mas?” Tanya istri.

“Mereka terlalu gila untuk kau temui. Mereka akan kukuh membujuk aku ataupun minta darimu. Karena mereka bertiga pun juga pernah bertengkar memperebutkan aku.” Jelas Dimas. Lama mereka terdiam dan, larut memikirkan solusi yang paling mungkin.

“Baiklah, kita pindah kontrakan saja. Dan tidak usah kita beritahu tukang pos kalau kita pindah.” Usul Dimas kepada istrinya.

“Kalau Mas mau pindah, saya setuju aja. Tapi saya punya satu permintaan. Saya ingin membalas surat mereka atas namaku.”

“Silakan.”

Pindah tempat tinggal lagi berarti berkemas lagi dan harus berkeringat lagi. Pasangan itu pun dengan berat hati merapikan barang dan bersiap untuk keluar dari kontrakannya. Di depan, truk yang akan membawa barang-barang sudah menanti.

“Mas, ini semua gara-gara para mantanmu,” gerutu sang istri.

“Iya. Ini semua karena mereka,” sahut Dimas.

“Dasar mantan,” tambah istri.

“Manatan semua bangsat,” sesal Dimas.

 

Penulis: Ibnu Athoillah

Click to comment

Komentar

To Top