Cerpen

Bocah Kecil dan Hujan di Manggarai

Sumber foto: muhammadjavad.wordpress.com

Sumber foto: muhammadjavad.wordpress.com

“Dik, bisa antar bapak ke ujung sana?” sambil menepuk punggung, orang tua itu bertanya.

“Bisa pak, mari.” bocah itu menjawab.

lantas bocah kecil itu bangun dari duduknya dan berdiri. Mereka berdua menapak membelah jalan yang mulai sepi. Menuju sekumpulan bajaj yang parkir di ujung jalan. Entah apa yang ditanyakan, sepertinya orang tua itu mengajak bocah kecil berbicara, kadang, sesekali mengusap-usap rambut bocah kecil.

***

Sesekali kilatan petir berbareng gemuruh geluduk menemani malam Kamis Jakarta. Rinai hujan yang tipis namun lebat menyapu langit Jakarta. Gerimis yang jatuh lambat laun menjadi deras, mengeluarkan ketukan suara yang bersautan, menimpa genteng yang terbuat dari bahan plastik Stasiun Manggarai.

Di sudut bangunan, airnya mengalir deras mengucur dari talang membasahi tanah Jakarta. Aktivitas sekitar stasiun berhenti seketika, termasuk para penjual kali lima baik yang menjajankan aneka makanan, siomay, pempek, sate padang, batagor atau yang mendagangkan charger hp, tongsis, jam tangan, power bank dan lain sebagainya, dan memang malam sudah larut.

Tinggal penjual jas hujan dadakan, selebihnya lenyap dan jalanan sunyi ditelan hujan. Sorot lampu kota menambah suasana mesra bagi mereka, sedikit pasangan remaja yang terjebak menunggu hujan reda.

Iya, aku sudah menunggu, di teras pintu keluar stasiun Manggarai sekitar 30 menit yang lalu. Aku tidak sendirian ada puluhan orang yang tertahan karenanya. Sebagian dari mereka mungkin sudah lebih dahulu menunggu, karena memang hujan sudah turun lebih dari dua jam tadi.

“Kereta jurusan Bogor, kereta jurusan Bogor, rangkaian berangkat dari Stasiun Sudirman.” Begitulah, dari dalam terdengar suara petugas kereta membelah keheningan. Memberi informasi kepada calon penumpang commuter line yang masih duduk di peron stasiun.

Di teras pintu keluar stasiun, terlihat wajah-wajah pengguna jasa kereta api mulai gelisah menunggu, mungkin karena pekerjaan di kantor sepenuhnya belum terselesaikan, atau tunggakkan kontrakan sudah saatnya dibayar. Atau bisa jadi memang jarum jam sudah menunjukkan jam 11 malam, barangkali anak-anak mereka sudah menunggu orang tuanya pulang.

***

Bukannya berhenti, hujan semakin tambah deras, deras sekali. Aku yang awalnya punya niat menerobos jadi menanggalkan maksud tersebut. Dari kejauhan terlihat bocah kecil berjalan menuju tempat dimana aku dan puluhan orang berteduh.

Sambil membawa payung dia berjalan. Derap langkahnya mendekat, bocah kecil itu memakai kaos bola timnas Kroasia berwana kotak-kotak putih merah dan sandal jepit swallow hijau. Bocah itu bergerak mendekat, menghampiri pintu keluar stasiun. Aku langsung bisa menebak, bocah kecil ini masih anak SD, karena bocah itu masih memakai celana pendek khas seragam pramuka, coklat tua.

“Payung pak, payung buk,” bocah itu berkata.

Aku yang dari tadi duduk di teras ubin lantai terperangah, aku kira bocah itu datang, menjemput orang tuanya. Ada pergulatan batin dalam hati. “Bagaimana mungkin anak sekecil ini bekerja, mengais rupiah?, Apa besok dia tidak sekolah, ini sudah hampir jam 12, belum tidur, tidak ngantukkah?”.

Bocah itu terus mondar-mandir,”Om, payung om, payung tante, pak, buk.”

Terus dan seperti itu, memegang payung warna birunya. Bocah kecil menjajakan jasanya. Ada yang menolak sinis, sebagian lagi mengerakkan, memekarkan lima jarinya, jika itu dibahasakan seolah mengatakan tidak. Bahkan ada sebagian lagi malah menjauh saat didekati. Bocah itu berjalan tanpa lelah dan terus menemui satu persatu orang yang ada di pintu keluar stasiun.

***

Aku memang pernah mendengar bahwa anak-anak di Jakarta itu dewasa sebelum umurnya. Apakah benar, ini yang dimaksudkannya?. Jika benar, begitu kejamnya Jakarta ini. “bocah kecil ini korbannya.” Batinku.

Kupandang bocah itu sedang duduk, sambil memainkan ujung payung dan sesekali menggaruk-garuk rambutnya, menempelkan ujung payung pada ubin lantai, seperti menulis sesuatu. Kemudian berdiri, duduk lagi, berdiri lagi, berjalan sambil menawarkan jasanya. Kemudian duduk dan seperti itu berulang.

Beberapa menit kemudian, ada orang tua mendekat. berdialog sebentar mengajak berbicara dan kemudian jalan bersama ke luar, meninggalkan stasiun.

Tidak lama, dari ujung yang sama dia kembali. Sambal berlari girang dan senyum riang, bocah kecil itu lari menuju dimana aku dan sebagian orang masih menunggu hujan reda. Semakin dekat terlihat jelas, tangan kanannya masih setia memegang payung birunya, sedang aku melihat di tangan kirinya ada selembar uang kertas Rp 5.000 yang digengamnya. Wajah yang polos tidak bisa dibohongi, bocah kecil itu penuh gembira mendapatkan kemerdekaan, langkah kecilnya penuh kemenangan sekembalinya ia mengantar orang tua tadi.

Sesampainya, sebelum dia menawarkan jasanya kembali. kupanggil bocah kecil itu untuk mengantarkan ke ujung jalan. Kami berdua berjalan bersama, bersama payung yang sama. Selama perjalanan aku membatin, “Di tengah sebagian bahkan semua orang yang menunggu, menganggap hujan adalah serapah, bagi bocah kecil ini, hujan adalah rahmat.”

 

Manggarai, 2016

 

Penulis: Faridur Rohman

 

Click to comment

Komentar

To Top