Puisi

Iri Pada Kopi

Aku hanya secangkir teh di pagi hari
Selalu merasa iri pada secangkir kopi
Selalu sendiri ketika disebut
Tak pernah memiliki pasangan serasi
Meski setiap pagi selalu dibutuhkan
Setiap pagi pula aku berganti pasangan
Sang tuan dimanapun selalu sama
Selalu mengganti-ganti pasanganku
Tak akan sama
Pagi ini dengan pisang goreng
Besok dengan ketan bakar
Lusa dengan kue lapis
Dan lusa aku tak tahu lagi

Aku iri pada kopi
Diracik dengan khusus
Disajikan dengan cara tersendiri
Dinikmati dengan sepenuh hati
Diminum dengan meluangkan waktu
Dibanggakan ke seluruh penjuru

Aku iri pada kopi
Dimanapun berada selalu tak jauh dari rokok
Selalu disandingkan, selalu dipasangkan
Jika rokok tak ada akan diadakan
Jika kopi tak hadir akan dihadirkan

Aku iri pada kopi
Pahit tapi dicinta
Hitam tapi disuka
Merepotkan tapi menenangkan
Menyusahkan tapi menyenangkan

Aku hanya secangkir teh
Sadar dengan segenap kewarasanku
Kopi memang selalu dipasangkan dengan rokok
Pasangan yang selalu diperdebatkan
Sedangkan aku selamanya begini
Berganti pasangan setiap waktu
Hanya dibutuhkan untuk sekedarnya

Aku sadar dengan diriku
Diciptakan berbeda dengan kopi
Tak selalu dirindu tapi selalu ada
Tak pernah diburu tapi sering tersedia
Tak pernah dibanggakan tapi pantas dicoba

Aku bangga dengan diriku
Jarang menjadi ‘kambing hitam’
Aku dicinta meski tak sebanyak pecinta kopi
Aku dimanja meski tak seistimewa kopi
Aku secangkir teh
Tak akan menjadi kopi
Tak mau disatukan dengan kopi
Aku akan mampu menjadi diriku yang sejati
Tak butuh pasangan pasti
Karena apapun bisa menyatu denganku
Aku secangkir teh akan selalu beda dengan secangkir kopi

Ibnu Athoillah

1 Comment

1 Comment

  1. ANONIM

    13/10/2016 at 3:27 pm

    lusa, kembali pada secangkir kerinduanku pada sandaran
    entah bayanganmu yang mana? tapi ejaan ini terlalu kaku tuk dibaca
    kembali pada secangkir kerinduanku yang melewati bayangan semu
    pada keheningan pagi yang bertemakan kehampaan, kuulang beberapa kali mengeja kebisingan
    tapi, entahlah rindu tak ukur bayanganmu kemabali lagi.
    aku ingin kembali menulis puisi, seperti keindahanmu yang tak menduakan kerinduanku,
    dan adahalnya ketika dikau yang temaram dalam kelopak mata binarku

    anak perantau lamongan

Komentar

Terpopuler

To Top