Reportoar

Jokpin Jenaka dan Pandai Memilih Diksi

Omah Aksoro – Perkembangan puisi tidak lepas dari perkembangan zaman dan tren yang terus bergeser. Jika dahulu para penyair membuat puisi sebagai media menyampaikan aspirasai ataupun media kritik, saat ini puisi lebih banyak sebagai hiburan. Sakralitas puisi sudah jarang ditemukan dalam puisi-puisi masa kini.

Begitu pun juga karakter penyair yang banyak mengalami perubahan dalam pandangannya tentang puisi. Pergeseran ini dipengaruhi oleh kondisi zaman, kondisi politik, sosial, budaya, dan kondisi alam di sekitarnya.

Tadarus buku kumpulan puisi karya Joko Pinurbo berjudul Selamat Menunaikan Ibadah Puisi yang diselenggarakan oleh komunitas literasi, Omah Aksoro, pada Kamis (13/10/2016) memberikan pengetahuan baru kepada para pegiat yang selama ini kurang miinat dalam perpuisian. Ketika membaca, banyak yang tercengang dengan puisi karya Joko Pinurbo atau sering disebut Jokpin.

@Faridurrohman mengatakan, berdasarkan bacaannya, Jokpin memiliki kekhasan dalam membuat puisi. Ia banyak membuat puisi yang sederhana dan menggunakan kata baku yang mudah diingat. Sehingga membaca puisinya seolah tidak membaca puisi.

@Faridurrohman mengaku belajar dari jokpin dalam berpuisi. Maka jika dilihat dalam puisi-puisi @Faridurrohman juga sederhana dan tidak bertele-tele. “Saya belajar dari Jokpin. Kalimatnya menarik. Pemilihan diksi yang tepat dan kuat menjadi kekuatan puisinya,” jelasnya.

Menurut @a_thok99, Jokpin ini dalam beberapa puisinya membingungkan, apakah ia menulis puisi atau cerpen. Misal puisi yang berjudul “Sepeda Merahku”. Secara tulisan, puisi tersebut lebih terlihat sebagai cerpen, yang memiliki alur cerita.  Tetapi secara paragraf, puisi tersebut berbentuk puisi.

“Pada dasarnya puisinya memang sederhana. Tema yang diangkat adalahsesuatu yang tak jauh dari sekitarnya. Tapi saya jadi bingung dengan puisi yang berjudul Sepeda Merahku. Ini puisi atau cerpen. Atau malah ada istilah baru gabungan dari keduanya. Ini menjadikan pertanyaan dalam benak saya,” ujarnya.

@faiz_mao memaparkan bahwa Jokpin dahulunya belajar dari WS Rendra dan Sapardi Djoko Damono. Dia mencoba meniru gaya keduanya, sehingga beberapa puisinya juga menyebut Sapardi DD. “Akhirnya dia (Jokpin) mencari jalan sendiri yang berbeda dari keduanya. Kita bisa melihat karya-karyanya sekarang memang sangat berbeda sehingga dia punya power sendiri,” ujarnya.

Menurut @faiz_mao setiap penyair memiliki ciri masing-masing, dari karakter puisinya maupun karakter kepribadiannya sehingga puisi akan sesuai dengan karakter penyairnya. Misal WS Rendra, puisi dan cara membacanya menggebu, penuh power, Sapardi DD, puisinya melankolis maka sering dibaca melankolis, dan sebagainya.

“Sehingga sering terjadi jika seorang penyair yang membacakan puisi penyair lainnya terasa ada yang tidak pas. entah intonasi, rima, mimik atau lainnya. Ini karena tadi, perbedaan karakter. Dulu puisi sebagai sarana perlawanan, maka Rendra membuat puisi sebagai alat menyampaikan perlawanannya. Puisinya pasti menggebu,” tegasnya.

Lebih lanjut, @faiz_mao dalam menaggapi unek-unek @a_thok99 mengatakan bahwa Jokpin mengiyakan kata Sapardi DD, bahwa “Puisi itu yang penting bunyi, soal makna nanti“. Mungkin hal in yang mempengaruhi juga terhadap puisi-puisi Jokpin, karena dia menulis puisi dengan cara ‘berpuisi tanpa terasa berpuisi’. Sehingga puisinya Jokpin bisa multi tafsir tergantung pembacanya. Dan saat ini Jokpin memang sudah kurang produktif dalam puisi, ia lebih sering membuat cerpen.

Pegiat literasi Omah Aksoro yang mulai menggeluti puisi, @Bayu_radix menilai, kalimat-kalimat Jokpin rumit, susah untuk dipahami. Tak jarang ia hanya sekedar membaca tidak tahu maksud dari puisi yang dibacanya. Hal ini memang sangat berbeda dengan karya Sapardi DD yang lebih mudah dipahami.

“Saya mempelajari karya-karya Jokpin, memang tak segampang mempelajari puisi Sapardi DD. Puisi Jokpin kurang menarik, karena puisi-puisinya kurang romantis seperti Sapardi Djoko Damono. Jujur saja, saya suka dengan puisi yang romantis,” jelasnya.

Pegiat literasi Wiwik, seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta di Jakarta yang sedang menggeluti puisi dan cerpen mengaku bingung dengan puisi Jokpin dalam buku Selamat Menunaikan Ibadah Puisi. Menurutnya memang banyak puisinya yang susah untuk dimengerti.

“Saya setuju dengan @a_thok99 bahwa harus membaca berulang untuk memahami puisinya, dan butuh penalaran lebih keras dalam mencari maksd puisi Jokpin,” cetusnya.

Sementara itu @Farizalniezar, seorang dosen di perguruan tinggi swasta Jakarta mengatakan bahwa memang Jokpin ini mengidolakan Sapardi Djoko Damono, sehingga puisinya sering juga menyebut namanya. dalam perjalanannya kemudia Jokpin mencari jalur ciri khas sendiri sampai sekarang.

Jokpin telat bersinar. Diusianya saat ini ia baru menerbitkan buku puisi, berbeda dengan penyair lain yang telah menerbitkan banyak buku ketika seusia dia. Dan menurut para pengamat sastra, kadang Jokpin hiper dalam berhiperbolik. Misalnya kalimat Celana memakaiku, padahal seharusnya celana kupakai atau aku memakai celana, dan sebagainya.

“Dulu Jokpin sangat kontatif, sekarang dia sangat denotatif. Inilah yang sekarang menjadi kekuatannya. Saya pikir saat ini Jokpin memiliki langkah tersendiri. Ia memiliki misi ‘mendenotatifkan kata-kata konotatif yang saat ini menjamur di masyarakat’. Karena saat ini seperti kita rasakan bahwa konotasi lebih sering ke arah konotatif daripada denotatif,” ujarnya.

Bagi @Farizalniezar saat ini trend puisi adalah puisi ngepop, yang cepat tidak laku seiring waktu. Beda dengan WS Rendra dan sebagainya, yang puisinya sampai saat ini masih relevan saat dibacakan ulang. Ia mengaku bahwa dalam hal sensitivitas sosial, WS Rendra belum ada yang menandingi sampai saat ini. Apalagi dengan penyair sekarang yang tidak banyak berpuisi dengan mengangkat isu sosial, pendidikan, budaya, atau isu lainnya.

@Farizalniezar menutup paparannya dengan menyatakan bahwa “Penulis jenaka kalau dalam ber-esai adalah Mahbub Djunaidi, sedangkan dalam puisi adalah Jokpin. Keduanya Jenaka tapi berisi dan (diksi yang digunakan) kuat,” tutupnya.

Click to comment

Komentar

Terpopuler

To Top