Reportoar

Gitanyali, Blues, dan Merbabu

Omah Aksoro – Gitanyali. Seorang anak laki-laki. Hidup tanpa ayah sejak usia Sekolah Dasar (SD). Ia kehilangan ayahnya tanpa sebab yang jelas. Keadaan yang berubah drastis. Ayahnya dijemput paksa karena keanggotaannya sebagai kader PKI (Partai Komunis Indonesia). Begitu juga ibunya. Dijemput paksa tidak lama setelahnya. Termasuk beberapa saudara dan tetangga. Semua yang dianggap ‘masuk kategori’ dijemput. Gitanyali hidup bersama dengan nenek dan budenya sejak ditinggalkan sabg ayah, Sutanto Singayuda, hingga ia menyelesaikan sekolah SMP.
Komunitas Literasi, Omah Aksoro, akan mentadaruskan buku karya Gitanyali hang berjudul Blues Merbabu pada Kamis (20/10/2016) di kampus STAINU Jakarta jam 19.30 WIB. Buku ini menceritakan pengalaman seorang PKI yang kehilangan ayahnya. Tadaris akan dihadiri oleh para pegiat literasi, sastra, aktifis, akademisi maupun mahasiswa dari kampus sekitar Jakarta.
Gitanyali membuka kenangan sejak kecil hingga dewasa saat diwawancara oleh Nita, seorang perempuan berprofesi reporter di majalah Independen. Nita datang setiap hari minggu. Jadwalnya sudah hampir pasti, minggu pagi sebelum film kartun Crayon Shinchan mulai atau sesudahnya di rumah Gitanyali. Kebiasaan itu berlangsung berulang hingga keduanya akrab seperti saudara.
Pengalaman yang paling pribadi dari seorang anak PKI diceritakan semua. Kebiasaan mengintip tetangga mandi. Tragedi sunat lebih awal dari tema-teman seusianya setelah jatuh dari pohon saat melarikan diri menjadi titik akhir kebiasannya mengintip tetangga-tetangga perempuannya mandi. Pengalaman pahit tersebut bukan menjadi renungan untuk tidak mengulang. Ia melanjutkan dengan mencoba kedewasannya saat Mbak Kadar, panggilan dari Kadarini, saudara perempuan orangtua dari semarang diminta tinggal di rumahnya dan mengajar di sekolah yang akan didirikan.
Tahun ajaran baru saat Gitanyali masuk SMP, ia bertambah teman dengan Robby, yang memiliki khayalan tentang wanita seperti dirinya. Jika awalnya ia hanya hanya berhayal, selanjutnya ia mulai mengenal pacaran. Perkembangan pesatnya tidak hanya soal wanita karena ia juga murid paling pandai di kelasnya. Guru yang mengajarnya tidak memberi kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan kepada murid. Ia selalu angkat jari paling awal dan bisa menjawabnya.
Lulus SMP, Gitanyali pindah ke Jakarta, ikut om Kris dan Tante Martha. Lingkungan dan gaya hidup berubah drastis. Dari desa ke kota. Ia melanjutkan sekolah SMA di sekitar Jakarta Pusat. Kemampuan menulis dan seni nya berkembang cepat. Sesuai pesan orang tua dan neneknya. Belajar untuk menjadi pandai. Ia sering menulis kemudian dikirimkan ke media cetak. Sering dimuat meski hanya disingkat menjadi satu paragraf.
Nama Gitanyali semakin kabur karena ia sering menggunakan nama samaran. Setelah ia diajak liburan ke Bali oleh Om Kris beserta keluarganya, ia semakin memiliki banyak penggemar. Tulisannya pengalaman di Bali dijadikan berita besar dan ada yang terbit dua kali dalam koran ataupun majalah. Om Kris dan keluarganya semakin bangga.
***
Nita, reporter yang mewawancarainya memberikan kejutan pada ulang tahun Gitanyali. Ia diajak kembali menelusuri kenangan dengan datang ke tempat asalnya. Usahanya gagal karena segalanya sudah berubah. Kampung telah menjadi kota. Tempat-tempat yang paling terkenang sudah lenyap. Hanya satu yang berhasil dari sekian banyak kejutan dari Nita. Bertemu kembali dengan Kadarini. Mbak Kadar. Perempuan yang dahulu sempat diidamkannya saat masih SD. Mereka yang terpisahkan saat Mbak Kadar turut dijemput Paksa. Dipenjarakan di Semarang.

Click to comment

Komentar

Terpopuler

To Top