Celomet

Pengorbanan dan Ma’rifat Tuhan

Omah Aksoro – Sepinya malam adalah kesunyian telaga relung hati hamba yang mau bercengkerama dengan kekasih. Dia ber-halwat demi memuncakkan hasrat keharibaan melalui ritme dan denyut nadi cinta yang konsisten. Aliran darahnya deras namun tetap stabil, karena jantungnya ada di cengkeraman kekasihnya. Tak ada lagi nafas memburu awal nafsu, yang wujud hanyalah nafas kekekalan karena menyatu dengan kekasihnya.

Pena usang pun mengorek kertas bekas peradaban dengan penuh hayat. Renungan ini adalah cambukan mendalam bagi penulis sendiri yang selalu menanti kepastian Tuhannya. Ibnu Athaillah As Sakandary telah menginspirasi dalam imajinasi hidupnya. Ia tak lelah, mengais ilmu meskipun dilihat mata adalah pengemis dan tukang sampah. Mutiara pun dapat timbul dari permukaan tai anjing sekalipun. Penulis menggodok perasaan dan imajinasinya melalui ulasan pepatah bijak leluhurnya.

“Ijtihaduka fi-ma dhomanu laka wa taqshiruka fi-ma thola minka dalilun ‘ala inthomasi al-bashiroti minka”

Artinya:  “Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dituntut darimu adalah bukti dari rabunnya mata batinmu.”

Yang Allah harapkan adalah agar kita berjuang demi pencerahan spiritual dan kesepian untuk akhirat. Berkecamuknya perasaan dan ketidakamanan material hanyalah bayang-bayang gelap yang membelokkan serta mengalihkan kita dari jalan keberhasilan. Penghidupan utama kita dan perkembangannya telah dijamin, dan upaya serta hasrat kita dibutuhkan untuk menyelami samudera keesaan Tuhan dan mengikuti mata hati sejati kita.

“Laa yasykukunnaka fi al-wa’di ‘adamu wuqu’u al-mau’ud, wa innaka ta’yina zamanuhu, lialla yakuna dzalia qadchan fi bashirotika wa ikhmadan linuri sariratika”

Artinya: “Tak terjadinya sesuatu yang dijanjikan, padahal waktunya telah tiba, janganlah sampai membuatmu ragu terhadap janji Allah itu. Supaya, yang demikian tidak mengaburkan pandangan mata batinmu dan memadamkan cahaya relung hatimu.”

Untuk mempertahankan jalan yang tepat menuju pencerahan batin, kita perlu membuang semua keraguan terhadap kesempurnaan, keadilan, serta kebijaksanaan Allah di balik bentangan peristiwa yang terjadi sesuai dengan urutan dan waktunya yang tepat. Yang terpenting adalah penyerahan diri sepenuhnya dan kepercayaan total kita kepada kehendak serta tujuan-Nya, meskipun mungkin kita sudah memperoleh ilham yang benar dan wawasan batin menuju suatu penyingkapan atau peristiwa, yang tidak terjadi.

“Idza fatacha laka wajhatun mina al-tarifi fala tubala ma’aha in qalla ‘amaluka. Fainnahu ma fatachaha laka illa wa huwa yuridu an yata’arofa ilaika: alam ta’lam anna al-ta’rifa huwa muriduhu ‘alaika wal-a’malu anta mahdiha ilaihi. Wa aina ma tahdihi ilaihi mimma huwa muriduhu ‘alaika?

Artinya: “Jika Allah membukakan pintu makrifat bagimu, jangan hiraukan mengapa itu terjadi sementara amalmu amat sedikit. allah membukakannya bagimu hanyalah karena Dia ingin memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkah engkau mengerti bahwa makrifat itu adalah anugerah-Nya kepadamu, sedangkan amal adalah pemberianmu? Maka, betapa besar perbedaan antara persembahanmu kepada Allah dan karunia-Nya kepadamu?!”

Kita tidak bisa mengukur seluruh kemurahan Allah, atau membandingkannya dengan pengorbanan atau amal-amal saleh kita. Apa pun yang kita persembahkan kepada sang Pencipta tidaklah ada artinya bila dibandingkan dengan apa yang telah Dia karuniakan kepada kita, yakni fitrah dan cahaya ruh. Sesungguhnya Dia adalah Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu yang ada di sekitar kita, yang terlihat maupun yang tak terlihat. Tindakan dan amal kita hanyalah tanda serta pendahuluan menuju penyingkapan dan pertolongan yang sesungguhnya sudah ada namun kita terhalang dari melihatnya.

 

Penulis: Yusuf Ar Rifai Al Funungi Al Jinariy Al Jawiy

Mahasiswa STAINU Jakarta

yusuf

Click to comment

Komentar

To Top