Reportoar

Minat Baca Masyarakat Indonesia Peringkat 60 dari 61 Negara

Omah Aksoro – Minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan. Sebuah survei yang dilakukan Central Connecticut State University di New Britain yang bekerja sama dengan sejumlah peneliti sosial menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara terkait minat baca.

Survei dilakukan sejak 2003 hingga 2014. Indonesia hanya unggul dari Bostwana yang berada di posisi 61. Sedangkan Thailand di posisi 59, satu tingkat di atas Indonesia.

Survei yang dilakukan terhadap lebih dari 60 negara itu menempatkan Finlandia di posisi teratas disusul Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia. Sementara, Negara Amerika Serikat berada di peringkat tujuh. Posisi hampir sama juga didapat Kanada, Prancis, dan Inggris.

“Beberapa faktor yang kami periksa adalah potret vital sebuah negara, dan seperti apa peringkat ini mempengaruhi keberhasilan individu dan bangsa dalam pemahaman ekonimi untuk menentukan masa depan global,” kata Presiden Central Connecticut State University Jhon W Miller seperti dilansir The Washington Post, Selasa (30/8/2016).

Peringkat itu ditentukan setelah melihat beberapa variabel yang berhubungan dengan hasil tes pemahaman literasi terhadap siswa untuk melihat perilaku literasi mereka.

Selain itu, ada 15 variabel lain yang terbagi dalam lima kategori, di antaranya perpustakaan, koran, sistem pendidikan (inputs), sistem pendidikan (outputs), dan ketersediaan komputer sesuai dengan jumlah populasi.

Penilaian terhadap hasil tes siswa terhadap literasi dipertanyakan banyak pihak. Miller mengatakan, peringkat yang diperoleh akan berbeda jika penilaian hanya berdasarkan hasil tes pemahaman literasi saja.

Dalam satu dekade terakhir di Indonesia telah banyak diluncurkan program untuk menaikkan minat baca masyarakat Indonesia. Perpusatakaan di pusat maupun di daerah banyak dikembangkan. Perpustakaan kelililing pun banyak dikembangkan di daerah-daerah guna memfasilitasi masayarakat yang jauh dari perpustakaan, terutama di daerah pinggiran kota.

Namun, pada kenyataannya, masayarakat Indonesia masih sangat minim memanfaatkan infrastruktur. Pertumbuhan minat membaca tak selalu dilihat dari berapa banyak perpustakaan, buku dan mobil perpustakaan keliling. Meski banyak infrastruktur yang tersedia, masih sangat mungkin masayarakatnya belum sadar pentingnya membaca.

Tantangan lain masih minimnya kesadaran literasi adalah perkembangan tekonologi saat ini. Banyak anak-anak sekarang yang sejak dini sudah terbiasa dengan gadget. Anak lebih senang membawa dan menggunakan gadget daripada membawa dan membaca buku. Kemudahan internet dan game pun juga tantangan berat untuk menjauhkan anak dari gadget.

Kondisi tersebut adalah tantangan bagi bangsa yang sedang dalam perkembangan teknologi dan informasi yang serba sangat cepat. Jika tidak banyak inovasi dari pemerintah maupun masyarakat pegiat literasi, akan sangat mungkin generasi selanjutnya semakin menjadi generasi yang menjadi incaran global sebagai konsumen segala produknya.

Click to comment

Komentar

Terpopuler

To Top