Reportoar

‘Proyek’ dan Orang Proyek

Omah Aksoro – Pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan dan dikerjakan dengan baik akan mewujudkan infrastruktur yang layak untuk digunakan. Mutu atau kualitas adalah hal utama dalam pembangunan infrastruktur. Jika mutu yang bagus, maka hasilnya akan dinikmati masyarakat dalam jangka waktu yang lama. Maka, pembangunan jembatan di atas sungai Cibawor, yang diaksanakan oleh seorang insinyur, sebagai representasi pembangunan yang sesuai dengan ilmu-ilmu dalam pembangunan.
Kepala pelaksana proyek pembangunan jembatan di Cibawor seorang insinyur lulusan perguruan tinggi ternama, Kabul. Seorang yang terdidik. Lahir dari keluarga petani lapangan. Ia mengerjakan pembangunan infrastruktur untuk yang ke tiga kali. Sebelumnya, bersama perusahaan kontraktornya ia merasa berhasil sebagai insinyur. Namun, di proyek yang ketiga ini ia merasa kecewa.
Pelaksanaan proyek pembangunan yang digarap Kabul dijadikan bancaan oleh banyak pihak, terutama politisi, aparat sipil, aparat pemerintah serta masyarakat di sekitar pembangunan jembatan. Proyek yang dijadikan ‘proyek’ oleh kalangan elit ini banyak penyimpangan. Terutama rekomendasi dari teknik sipil.
Pembangunan dimulai saat masih hujan dan dikebut demi peringatan HUT partai Golongan Lestari Menang (GLM). Keduanya sangat menyalahi rekomendasi dari teknik sipil. Apalagi kualitas bangunan yang banyak diturunkan dari standar mutunya.
Masalah itu timbul karena banyaknya anggaran yang bocor dan dimanfaatkan demi kepentingan politik. Kabul merasa gerah dengan proyek yang sedang dilaknsanakannya. Ia merasa tak ada gunanya keinsinyurannya, karena sebagai pelaksana ia tidak diberi wewenang yang sesuai dengan hati nuraninya sebagai insinyur dan idealismenya.
Kegerahan yang dirasakan mendapatkan sedikit hiburan karena perkenalannya dengan pak Tarya, seorang warga di sekitar jembatan yang memiliki hobi mancing siang maupun malam. Ada juga Mak Sumeh, seorang pemilik warung menjajakan dagangannya bersamaan dimulainya pembangunan. Dan ada Wati. Asisten Kabul di bidang administrasi. Warga kampung yang tidak terlalu cantik namun memiliki daya tarik saat merengut. Basar, kepala desa di Cibawor yqng juga teman lamanya kuliah dan aktifis. Dan lainnya.
Demi menjaga idealismenya yang dibangun Kabul sejak masih kuliah, ia sering berbicara kepada pak Tarya ataupun Basar yang dianggap pas untuk diajak curhat. Tapi semua tak cukup. Kabul selalu ditekan dari atasannya, Dalkijo, yang sudah tobat melarat. Dan Dalkijo pun juga ditekan oleh atasannya lagi, dan seterusnya. Begitulah keadaan di balik pembangunan proyek jembatan di Cibawor.
Cerita menarik dari Ahmad Tohari dalam novel berjudul Orang-Orang Proyek mengajak pembaca untuk merenungi keadaan dan menelisik lebih dalam pada pembangunan masa tahun 1991. Ahmad Tohari menyuguhkan bacaan yang sangat berat harus istrahat membaca, apalagi selesai.
Untuk lebih lengkapnya, maka hadirilah tadarus buku yang akan digelar Omah Aksoro pada hari Kamis, 15 Desember 2016 di theater kubah UNUSIA, Jl. Taman Amir Hamzah No. 5, Pegangsaan, Menteng Jakpus pada jam 19.30 WIB. Acara terbuka untuk umum dan gratis. Akan dihadiri oleh para pegiat literasi dan diramaikan grup musik Lingga Binangkit.
Ibnu A’thoillah

Click to comment

Komentar

Terpopuler

To Top