Reportoar

Korupsi Jembatan Oleh Orang Proyek

Omah Aksoro – Ahmad Tohari menyajikan tulisan kritis, tajam, dan menyasar pada novelnya yang berjudul Orang-Orang Proyek. Novel dengan latar kondisi masyarakat desa yang miskin dan tertinggal dalam pendidikan ini dengan gamblang menyuguhkan adegan pola korupsi yang dilakukan oleh pelaksana proyek pembangunan jembatan di Cibawor.
Praktik korupsi, suap, dan manipulasi data serta manipulasi kualitas bangunan jelas terekam untuk menggambarkan kondisi tahun 1991an. Pada masa yang sama, praktik keharusan menjadi anggota partai Golongan Lestari Menang (GLM) diterapkan bagi seluruh pejabat, aparat dan pihak yang berhubungan dengan pemerintahan masih gencar dilakukan.
Sebagai kepala pelaksana pembangunan jembatan, insinyur kabul diharuskan mengikuti seluruh perintah Dalkijo, atasannya dalam pengerjaan proyek. Dalkijo yang bergaya bak seorang koboi dalam penampilannya, selalu menekan dan tidak mengindahkan rekomendasi dari Kabul yang menjadi perancang dan pelaksana proyek. Ilmu keinsinyuran yang dimiliki Kabul dan sejatinya akan dipraktikkan demi taat keilmuan, menjalankan amanah uang rakyat, dan idealisme harus menelan pil pahit.
Rekomendasi agar pembangunan jembatan dimulai pada musim kemarau dilanggar Dalkijo yang juga selalu mendapat tekanan dari atasannya dalam perusahaan yang memenangkan tender pembangunan. Proyek pembangunan yang kemudian menjadi bancaan banyak oknum, terutama orang yang mengaku anggota partai GLM menyisakan banyak penyimpangan terhadap keilmuan insinyur. Bangunan infrastruktur berkualitas terbaik impian Kabul kandas. Bahan dan material bangunan -besi, pasir, batu, semen dan lainnya- yang digunakan banyak yang di bawah standar kualitas.
Pada saat memasuki tahap akhir pembangunan, setelah tiang penyangga dan balok yang terpaksa Kabul jalani dengan kualitas di bawah standarnya, jembatan yang hanya tinggal mengecor lantainya terjadi masalah besar. Jembatan belum rampung anggaran sudah habis. Kebocoran anggaran di mana-mana akibat ulah pejabat, aparat, oknum dan lainnya, yang semuanya sebagai anggota partai GLM. Kabul sudah bisa membeli besi untuk cor lantai jembatan. Dalkijo sebagai atasannya dan turut bertanggung jawab atas pelaksanaan, hasil, dan penggunaan dana. Dalkijo menyuruh Kabul menggunakan besi bekas bongkaran di lain tempat. Kabul menolak karena tidak sesuai ilmu keinsinyurannya. Konflik ini akhirnya memutuskan hubungan keduanya yang diketahui oleh Wati. Kabul mengundurkan diri. Sementara pembangunan dipaksakan Dalkijo rampung dengan target akan diresmikan pemerintah tepat saat HUT partai GLM.
Kabul melanjutkan karirnya di perusahaan swasta. Wati tetap bertahan sampai proyek jembatan selesai. Jembatan akhirnya selesai dengan kualitas struktur bangunan -tiang dan balok- berkualitas lumayan bagus dan lantai berkualitas standar. Tepat sat HUT partai GLM, jembatan diresmikan. Pesta besar si desa Cibawor. Arak-arakan penduduk yang di-GLM-kan dimulai dari jembatan. Kabul turut hadir menyaksikan untuk melihat hasil rancangannya. Truk dan tronton dikerahkan untuk membawa massa melewati jembatan. Kabul mengamati dari jauh dengan rasa was-was. Khawatir jembatan ambrol saat tronton lewat.
Kekhawatiran Kabul hilang saat melihat tidak ada tanda-tanda ambrol. Setelah arak-arakan selesai, ia mengecek langsung jembatan bersama istrinya, Wati yang dahulu asistennya. Ia menemukan kerusakan pada lantai, yang dikerjakan saat ia sudah keluar dari proyek dan dibuat dengan material berkualitas buruk.
Kisah Cinta Kabul dengan Wati pada awal terasa kaku, karena Kabul merasa belum siap mencari istri meski sudah saatnya ia menikah. Hubungan keduanya dimulai oleh Wati yang membelikan dan menyiapkan baju koko, sajadah, sarung, dan peci di meja Kabul saat akan berangkat sholat Jumat di Masjid. Meski Kabul tahu, ia tetap masih bergeming hingga ia diberi tahu Mak Sumeh bahwa Wati jatuh cinta kepadanya. Ketertarikan Kabul pada Wati diawali saat Kabul melihat Wati merengut. Ada rasa getar pada diri Kabul. Ada magnet yang menarik perhatiannya. Hingga berlanjut hubungan keduanya. Setelah Kabul keluar dari proyek jembatan hubungan masih terjalin. Satu tahun setelahnya keduanya menikah.
Ahmad Tohari menulis dengan alur datar namun mengena pada khasnya yang kritis dab terbuka. Kata, nama tokoh dan kalimat yang familiar digunakan untuk memudahkan pembaca memahami novel tersebut. Menarik untuk dibaca. Menarik untuk dipelajari gaya penulis bagaimana keberaniannya mengungkap praktek korupsi, suap, dan manipulasi dari atas sampai bawah.
Setelah membaca buku ini, bagaimana reakasi para pelaku dan cara mengatasi praktek tersebut? Itu yang perlu dipikirkan oleh semua pihak.

 

*Ibnu A’thoillah

Click to comment

Komentar

Terpopuler

To Top