Resensi

Max Havelaar dan Usaha Rekonsiliasi

Menyibak sejarah tentang kolonialisme yang dilakukan oleh Belanda ke negara kita memang selalu mempunyai daya tarik tersendiri. Banyak pertanyaan dan banyak fakta yang belum terungkap dengan tuntas. Salah satunya tentang mitos penjajahan selama 350 tahun, yang nyatanya secara terang-teragan ditolah oleh sejarawan GJ. Rensink (2013).
Salah satu karya penting yang berbicara dalam nuansa dan bingkai kolonialisme adalah karya monumental Multatuli “Max Havelaar”. Novel klasik tebal itu menggegerkan Eropa abad ke-18. Bagaimana tidak? Novel itu membedah borok kolonialisme yang selama ini dilakukan oleh pemerintah Belanda.
Multatuli yang juga nama pena dari E Douwes Dekker dengan sangat gamblang ingin mendedahkan kepada dunia bahwa selama ini Belanda telah melakukan penjajahan yang dicitrakan sebagai bantuan “membangun”. Multatuli secara tidak langsung juga ingin menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Belanda dengan program-programnya selama ini sesungguhnya hanya penjajahan saja, tidak lebih.
Novel setabal 474 halaman ini bersetting Belanda dan juga Lebak, Banten. Novel dibuka dengan perkataan khas Multatuli sebagai seorang makelar kopi “Aku makelar kopi yang tinggal di Laurergracth No. 37 Amsterdam”. Ya, setelah dia dipecat dari jabatannya sebagai Asisten Residen di Lebak Banten, ia memutuskan kembali ke Negara asalnya dan menjadi seorang makelar kopi. (hal. 17)
Multatuli adalah sosok yang digambarkan sebagai seorang yang memegang teguh prinsipnya serta menjunjung tinggi kebenaran yang ditakininya. Hal ini ia lakukan bahkan sejak ketika ia menjabat sebagai Asisten Residen di Natal, Sumatera Utara. Sampai pada akhirnya ia dikirim ke Lebak, sebuah daerah “sarang” kopi yang justru karena kekayaan alamnya, penduduknya hidup dalam gelimang kemiskinan.
Kemiskinan yang terjadi di Lebak sungguh sangat tidak tidak masuk akal. Bagaimana mungkin daerah yang melimpah serta meruah sumber daya alamnya justru penduduknya miskin dan bahkan untuk makan seharai-hari saja mereka susah? Pelbagai macam pertanyaan mengganjal berjejal di benak Havelaar setibanya di Lebak.
Kemiskinan menjadi pemandangan yang jamak di Lebak. Hamparan tanah yang subur tidak jelas kemana dan untuk siapa manfaatnya. Sementara aktivitas harian penduduk  hanyalah ke sawah dan bekerja.
Keresahan Havelaar itulah yang kemudian menggerakkan batinnya untuk bertekad membawa lebak menjadi daerah maju dan tinggal landas dari kemiskinan. Havelaar dengan cekatan mengkonsolidasikan rencana-rencana strategis dengan Adipati Karta Natanagara.
Adipati Karta Natanegara adalah seorang Adipati yang “dingin”. Naluri politiknya sangat tajam. Hal itu terbukti dengan cara “dinginnya” membunuh Slotering asisten residen yang diracun pada saat malam hari. Nah, Havelaar adalah pengganti Asisiten Residen tersebut.
Bisa dibayangkan, kecerdasan serta ketangkasan Havelaar harus bertarung melawan kecerdikan, kelicikan serta “dingin”nya sikap Adipati Karta Natanagara. Pertarungan yang panjang, seru serta kompleks. Dan Havelaar, nyatanya dibuat tidak berdaya oleh sang Adipati.
Havelaar secara terang-terangan menolak perilaku Adipati yang sewanang-wenang menyuruh serta memperkerjakan rakyat untuk mencabuti rumput halaman rumahnya tanpa dibayar sepeser pun. Ini, sebagaimana dikatakan oleh Havelaar, menyalahi dan melanggar Hak Asasi Manusia.
Di lain kesempatan, kelakuan adipati dengan seluruh perangkat demangnya yang dengan semena-mena menarik pajak dan kerbau petani desa tanpa alasan yang jelas membuat Havelaar geram. Havelaar meminta kepada siapaun yang diperlakukan tidak adil oleh sang adipati dan kroni-kroninya secapatnya diminta melapor ke Havelaar. (hal 344)
Di tengah pertarungan politik seperti itu, novel ini menjadi sangat menarik karena dibumbui cerita percintaan antara Saidjah dan Adinda yang sangat romantis. Saidjah adalah pemuda desa yang kehilangan kerbaunya karena dirampas oleh anak buah Adipati Karta Natanagara.
Di tengah kegalauan serta kesediahan yang tidak menentu, Saidjah memutuskan untuk mengadu nasib di Batavia. Pelbagai macam pekerjaan ia jalani sampai ia merasa punya uang yang cukup dan kembali pulang menemui Adinda. Namun malang, Adinda dan bahkan keluarga Saidjah lari entah kemana karena ketakutan tidak bisa membayar pajak yang dibebankan oleh Adipati Surya Kertanegara. (hal. 397)
Jika dianilisis menggunakan teori dekonstruksi teksnya Umberto Eco, sesungguhnya pesan yang ingin disampaikan oleh Havelaar ini bukan saja tentang borok kolonialisme yang buruk di Hindia-Belanda. Namun lebih dari itu novel ini juga bisa dimaknai sebagai salah satu usaha Belanda, lewat Douis Dekker untuk merekonsialiasi hubungan Belanda dengan Hindia-Belanda (Indonesia).
Rekonsiliasi itu bisa dibaca dari batapa sesungguhnya orang-orang pribumi (Adipati Surya Kertanegara) itu lebih kolonial dibandingkan dengan orang Belanda asli sekalipun (Havelaar). Ini bisa ditangkap dari adegan-adegan yang disuguhkan dalam novel sebagaimana perampasan kerbau dan lain sebagainya.
Siapapun boleh memaknai apa yang ada dan tersimpan dibalik deretan teks. Dan semua itu sah-sah saja dalam dunia sastra.
Terlepas dari apapun pesan yang ingin disampaikan oleh Multatuli, novel ini telah membuktikan diri sebagai novel yang monumental dan tak lekang dimakan zaman. Dari novel ini dunia, terlebih Eropa, bisa membuka mata betapa penjajahan sesungguhnya menghancurkan tatanan dunia. Oleh karenanya penjajahan harus dihapuskan selama-lamanya.

Data Buku :
Judul                : Max Havelaar
Pengarang        : Multatuli
Tebal               : 474 Halaman
Penerbit           : Qanita [Mizan Group]
Cetakan           : September 2014

Fariz Alniezar

 

Click to comment

Komentar

Terpopuler

To Top