Puisi

Cinta Sepasang Telepon Genggam

Cinta Sepasang Telepon Genggam

Dari telepon genggamku, berseru suaramu. Memanggil-manggil namaku dengan suara yang parau. Nomor telepon genggammu menghitung nafas kita dengan angka-angka nol, dan kita tak pernah berhasil menjumlahkannya.

Kita telah ditunggu dering telepon untuk mengungkapkan sesuatu, semisal rindu, atau perihal cinta yang percuma. Dan kabar-kabar kebahagiaan, entah kepedihan. Dari nomor telepon genggammu aku menghitung usia kita.

Aku melihatmu tersenyum saat kutekan beberapa angka nol dan tujuh dan empat belas. Aku melihatmu bahagia di layar telepon genggamku. Setelah itu kaudengar dering panjang dari dadaku.

2015

 

Mencintaimu sama seperti mencintai kemacetan

Mencintaimu sama seperti mencintai kemacetan, penuh kesabaran dan keuletan.

Sejak rumahmu pindah ke kota, aku menjadi lebih akrab dengan klakson kendaraan, makian, dan keributan; mereka suka bertabrakan saling berebut siapa yang duluan.

Di kota, hidup menjadi serba cepat. Bunga-bunga dan rumput di halaman tak lagi terawat. Usia menjadi lebih singkat, kemacetan semakin padat tak kunjung usai.

Aku hampir kelelahan mengejar lampu-lampu kota yang berlari semakin menjauh. Sedang rambu-rambu kauletakkan terlalu jauh.

Tentu aku masih ingat apa yang kaukatakan padaku:

“Belajarlah cinta kepada rambu-rambu jalan. Jangan kepadaku. Sebab aku tak pernah teratur mencintaimu. Kapan saja dan dimana saja, mencintaimu adalah aturan yang sulit untuk ditaati. Belajarlah cinta kepada rambu-rambu jalan. Yang menyuruhmu berhati-hati. Selalu mengingatkanmu kepada bahaya-bahaya. Dan tak pernah bosan memperhatikanmu.”

2015

 

Moh. Faiz Maulana

 

Click to comment

Komentar

To Top