Puisi

Keamanan Terkoyak-koyak

Keamanan Terkoyak-koyak

Kita dididik untuk memihak yang mana?

Ilmu-ilmu yang kita dapatkan kelak dijadikan sebagai apa?

Dijadikan sebagai alat pembebasan,

Atau penindasan?

Sebab koordinatnya semua sama

Yang rajin sholat atau yang rajin berdosa

Belum terjanjikan keamanannya

Sejatinya hanya sedang menunggu giliran

 

Kekosongan drama seakan tak pernah usai

Belum juga bangkit untuk bertobat

Tak ada lagi idealisme

Pasalnya,

Ideologi kerap terancam.

 

Sementara,

Yang dapat mensejahterakan hanya bualan mimpi

Mimpipun tak lunas menjanjikan

Bila tidurpun juga tak nyaman.

 

Sajak Kelabu

Semalaman tadi gelap kau bungkus dengan nada-nada

Ketika nyanyianmu mulai bermakmum

Entah minor atau mayor

Setiap miliaran nada-nada adalah doa

Kerap doa menjadi semakin lebih kuat bersamaan dengan petikan.

 

Aku mulai membayangkan menjadi senar

Aku adalah senar

Yang dapat kau petik dan kau raih

Yang terkadang dapat memancing dan mania

 

Tak lekas dengan irama

Malam berdesakkan dengan warna-warna

Bukan hitam, putih apalagi kelabu

Melebihi pelangi, ia adalah warna-warni

 

Nyanyianmu bukan lagi rayuan dan pujian

Apalagi yang menjanjikan

Sebab kita tak lebih hanya sebatas saja

Saat tuhan membolak-balikkan segalanya

 

Umpama bunga

Aku adalah sesuatu yang tak kau hendaki adanya

Umpama bunga

Aku adalah sesuatu yang tak kau hendaki tumbuh.

 

Kau batasiku dengan tembok ketakutan

Bunga-bunga tak lagi indah

Sudah jauh dengan hakikatnya

Pasalnya, bunga menjadi sekuntum kemurkaan.

 

Diujung sajak

Kebermutuan cerita hanyalah sia-sia.

 

Jakarta, 28 Februari 2017

Robiatul Adawiyah

Keamanan Terkoyak-koyak
Click to comment

Komentar

To Top