Cerpen

Alis

Putri duduk di muka kaca rias, memandangi bentuk alisnya yang telah selesai dimodifikasi. Sejak dua hari yang lalu, ia melemburkan diri untuk mengubah bentuk alisnya.

Malam nanti ia janji bertemu dengan Joni. Teman Facebook yang baru setengah minggu lalu ia kenali. Gaun hitam dengan separuh lengan telah ia siapkan di atas ranjang. Ia benar-benar telah mempersiapkan semuanya. Ia sungguh ingin terlihat cantik di depan Joni. Ia sungguh ingin memperlihatkan bentuk alisnya yang melengkung bianglala itu kepada Joni. Alis yang menurutnya paling indah di dunia.

Ini bukan kali pertama Putri akan bertemu dengan pria yang ia kenali lewat Facebook. Sebulan yang lalu ia pernah berjumpa dengan pria asal Malaysia. Tapi pertemuan itu tak berakhir indah, sebab si pria tak menyukai perempuan beralis tipis.

Dari pertemuan itulah Putri dapat mengambil sebuah hikmah, ia merasa perlu mengubah bentuk alisnya menjadi lebih tebal agar terlihat lebih cantik dan menarik. Dan benar saja, pria bernama Joni asal Jakarta itu tertarik kepadanya.

***

Pagi itu, sesaat setelah bangun tidur, Putri mendengar telepon genggamnya berbunyi. Terlihat ada sebuah pesan masuk di Facebook-nya. Ia dengan cepat membuka pesan tersebut. “Langit di atap teluk berwarna kelam itu adalah alismu yang tebal. Melengkung bianglala. Seperti bulan sabit, di alismu kutemukan nyala cahaya.”

Pria bernama Joni Bravo dalam Facebook-nya yang telah mengirim pesan rayuan itu kepada Putri. Setelah melihat sejumlah foto yang baru diunggah Putri beberapa waktu yang lalu di beranda Facebook-nya.

Dengan jemarinya yang gesit Putri membalas pesan tersebut dengan singkat, “Makasih.” Dan percakapan terus berbalas, semakin intim, perkenalan semakin dalam. Mereka sepakat merencanakan pertemuan.

***

Di depan cermin ia pandangi tubuhnya yang kurus, pantatnya yang tepos, dan payudaranya yang rata. Tapi tubuh itu kini kelihatan lebih seksi karena bentuk alis barunya. Ia tak lagi minder dengan wajahnya yang penuh jerawat, juga matanya yang kelam oleh kesedihan. Ia yakin setiap lelaki pasti menyukai perempuan seperti dirinya; rambut panjang tergerai, bibir merah tak karuan dan tentu alis berbentuk sabit itu. “Aku kelihatan lebih seksi!”

Hampir dua jam ia memandangi bentuk alisnya yang baru. Ia merasa lebih cantik dari siapa pun. Meski wajahnya pucat pasi, kantong matanya mengembang, rambutnya tergerai berantakan. Sudah dua hari dua malam ia lembur merias alis. Sekarang, bagi kebanyakan perempuan hidup cuma sepasang alis. Selebihnya hanyalah mainan, plastik dan karet.

Gadis-gadis tak akan pernah terlihat cantik tanpa alis. Di internet atau di jalan-jalan. Termasuk bagi Putri, alis adalah satu-satunya tubuh yang ia miliki. Yang ia percayai dapat memikat hati Joni.

Telepon genggamnya berdering tapi Putri tak bergeming dari tempat duduknya. Ia masih terus memandangi bentuk alis barunya. Sebaris demi sebaris. Segaris demi segaris. Ia seperti menyaksikan pameran bentuk-bentuk bulu lucu dari kaca riasnya.

Sesekali ia menyentuh-nyentuh alisnya dengan lembut, jantungnya berdebar merasakan halus bulu-bulu alis yang baru saja ia modifikasi. Layar televisi telah berhasil mengajarkan Putri–dan mungkin perempuan lain–trik mempertebal alis yang sempurna. Kau tahu, banyak perempuan di jalanan mempunyai alis yang nyaris sama; warna dan ukurannya. Mungkin toko-toko kecantikan telah menjual alis eceran yang dikemas dalam kantong-kantong plastik.

Dengan penuh gaya, segera ia berjalan ke sana-kemari, bagai seorang model yang melintas di atas catwalk. Lantas ia berbicara kepada dirinya sendiri di depan cermin. “Kamu Cantik. Ini alis baruku. Apa kamu bisa melihat kecantikanku?” Begitulah sepanjang hari ia berbicara kepada cermin meski cermin itu tak sekalipun memberi jawaban.

Semakin lama ia pandangi wajahnya, semakin terlihat cantik saja dirinya. Setiap kali menatap berlama-lama, Putri merasakan ada yang berbisik lembut dalam hatinya. Ia heran, bagaimana sebuah alis bisa membuat seseorang perempuan merasa begitu cantik dan bahagia? Padahal ia hanya sepasang rambut yang tumbuh di tubuh terbuka di atas mata kita.

Lantas, bagaimana dengan rambut yang tumbuh di tubuh tertutup di bawah pusar kita, pikirnya, dan perlahan-lahan tawanya menguap ke udara.

Alis itu telah mengubah hidupnya. Ia teringat hari-hari sedih ketika ia belum memiliki alis setebal sekarang–saat pria Malaysia pergi meninggalkannya hanya karena ukuran alis. Ia juga teringat anak perempuan tetangganya, yang ngambek kepada ibunya; rela tak makan dan tak sekolah karena ingin mengubah bentuk alisnya. Perempuan memang selalu ingin terlihat cantik di depan teman-temannya meski nyawa taruhannya.

Ia semakin jatuh cinta pada alis barunya. Semakin lama dipandangi alis itu kian terlihat seksi. Ia suka menciumi alis barunya di muka kaca sembari membayangkan bibir Joni yang penuh ditumbuhi kumis. Ada saat-saat alis barunya itu membuatnya berahi. Dengan gemetar ia menyentuh alis itu. Rasanya lembut, seperti rambut. Kadang-kadang alis itu terasa bergoyang, seperti tubuh perempuan yang belingsatan, ketika rambut ketiaknya dicabuti.

Tak apa tak punya pacar, asal masih punya alis, batinnya, karena kini ia punya alis yang lebih pengertian dari seorang pacar. Kini ia mengerti, kenapa banyak perempuan merasa perlu mengubah bentuk alisnya. Punya alis tebal memang lebih mudah mendapatkan perhatian orang lain. Ia tersenyum memikirkan hal itu.

Tiba-tiba ia membayangkan alisnya rontok dihempas angin, ia merasakan jantungnya berdebar. Matanya berkaca-kaca. Seketika ia ingin menangis karena kehilangan alis. Lalu ia mengambil tisu yang tergeletak di meja di sisi ranjangnya. Dan mengusap air matanya berkali-kali. Mengeringkan dukanya, dan menyisir kembali alisnya dengan klimis.

Putri memutuskan mendekam dalam kamarnya dan mengurungkan pertemuannya, bukan karena tak ada ongkos. Ia hanya tak ingin alis barunya tertiup angin dan hilang. Ia amat mencintai alisnya sekarang, melebihi apa pun. Ia sudah menghabiskan dua malamnya untuk mengubah bentuknya. Ia tak ingin semuanya sia-sia. “Cinta lebih mudah didapat dengan memamerkan bentuk alis,” gumamnya. Lekas ia tertawa terbahak-bahak.

Sementara itu, waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, dan pertemuan yang mereka rencanakan setengah jam lagi tiba. Putri tak juga bersiap, seperti apa yang telah ia rencanakan sebelumnya. Ia membatalkan pertemuan itu secara sepihak, benar-benar sepihak.

Gaun hitam dengan separuh lengan masih tergeletak begitu saja di atas ranjang. Ia seperti tak menyadari bahwa waktu berjalan lebih cepat dari dua hari sebelumnya. Ia masih memandangi alisnya. Sesekali ia tersenyum sendiri membayangkan bulu-bulu alisnya tumbuh dengan bentuk baru. Sedang dering telepon genggamnya terus berbunyi terdengar seperti suara kegelisahan Joni, menyeru!.

***

Di sebuah kafe, di dekat persimpangan jalan kantor walikota, Joni menunggu dengan jantung yang berdebar tak karuan. Nomor yang sejak sore ia hubungi tak ada jawaban. Puluhan pesan singkat yang ia kirim tak kunjung berbalas. Ia sudah banyak sekali memesan makanan dan minuman: segelas wine, sepiring roti, kentang dan keju. Tapi ia tak menikmati semua kelezatan itu.

Joni, sengaja datang lebih awal. Ia ingin memberikan sebuah kejutan untuk Putri. Tapi Putri tak kunjung datang. Gagal sudah rencana malam ini, pikirnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Di kafe itu, ia seperti ranting tua yang mudah retak. Daun-daun muda mengejeknya. Lumut-lumut telah melumuri tubuhnya dengan racun dan waktu. Ia meratapi nasibnya yang ditipu gadis bau kencur beralis tebal. Sial!.

“Apakah dia tahu, aku datang dengan selusin pisau cukur di saku celanaku!” batinnya menebak-nebak.

 

Moh. Faiz Maulana

Alis
Click to comment

Komentar

To Top