Celomet

Hikayat Cinta dan Revolusi

Dulu, tiap kali meneriakkan kata ‘revolusi’ di jalanan, saya merasa seolah-olah jadi pahlawan dengan segudang impian. Sebagai generasi yang berada di fase transisi demokrasi merasa muak dengan perubahan yang di rasa lamban, penuh tipu daya politisi tua. Dorongan hormon masa muda menghasilkan sikap ingin serba cepat dan menggebu-gebu. Ya, itu masa lalu, saat orasi saya sanggup merobek udara dan bersaing dengan deru lalu-lalang knalpot kendaraan.

Beranjak tua, meski tetap saja dilirik oleh gadis-gadis era milenial, pandangan saya tentang revolusi berubah. Rasanya revolusi itu tidak selamanya identik dan berakhir dengan keindahan. Tidak menyukai perubahan yang terlalu cepat dan membuat jauh lebih hati-hati. Mungkin ada benarnya perkataan sesepuh, “semakin tua, semakin bijak.” Makin banyak asam-garam, tanggungjawab, dan penuh pertimbangan. Soal menuanya saya tolong jangan diperdebatkan mengingat banyak gadis berkeberatan.

Keyakinan saya soal di atas semakin bertambah usai menonton film Ali & Nino (2016). Berkisah seputar cinta pasangan beda agama yang berhasil menikah namun tak lama menikmati kebahagiaan. Ada lagi film Bitter Harvest (2017), juga soal cinta anak muda dengan latar yang lebih tragis. Penyebabnya, revolusi Bolshevik 1917 yang berhasil menggulingkan Tsar. Saya kira film ini jauh dari kesan propaganda mengingat kini Soviet sudah bubar dan komunisme menjadi bahan ejekan di Eropa. Soal sosialisme, ini menjadi bahan yang berbeda.

Di masa Lenin, Azerbaijan diokupasi. Sebagai wilayah kaya minyak, dalam teori geopolitik wilayah ini disebut The Heartland, yang pernah berada di bawah kekuasaan imperium Tsar, negara ini incaran teratas. Musababnya sederhana, tanpa minyak proyek komunisme gagal. Industrialisasi negara terancam. Ali dan saudara-saudaranya tewas dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Azerbaijan. Nino berhasil kabur bersama anak perempuannya.

Di bawah Stalin, Ukraina dijadikan sapi perah bagi lumbung makanan Rusia. Hasil sawah dan ladang dirampas, mirip dengan apa yang terjadi di banyak desa di Jawa selama Jepang berkuasa. Jutaan petani hidup dalam penderitaan dan makan rerumputan hingga mati kelaparan. Sang tokoh, Yuri beserta istri berhasil selamat. Namun tidak keluarganya, teman-temannya, juga banyak tetangganya.

Bagi orang yang punya kekasih atau bahkan sudah membangun keluarga, film tadi menjadi horor. Revolusi sangat menakutkan. Ada istri dan anak yang harus dilindungi. Tentu saja pandangan ini tidak berlaku untuk semua. Ambilah contoh jika dilihat dari kacamata sobat saya, Fārïz Alniézär, Ahmad Dzakirin, dan Muhammad Nurul Huda. Ketiganya punya mata bak elang. Punya kemampuan memburu dan meramu. Jika tinggal di Amerika, mereka masuk kategori kaum Hawkish, orang-orang yang menyukai peperangan. Perang perasaan dengan kaum hawa. Sudah pasti revolusi selalu indah di mata ketiganya, bukan?.

Dwi Winarno, Pelayannya para pelayan kader dan Dosen Univ. Nahdlatul Ulama Indonesia

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com.

Hikayat Cinta dan Revolusi
Click to comment

Komentar

To Top