Puisi

Meminang Keberanian

Meminang Keberanian
 
Bahagia tak layak menjadi jaminan
Bila bahagia masih menjadi sebuah kemungkinan
Kemungkinan hidup yang saling bergantungan.
Hidup adalah keberanian.
Keberanian hujan dengan sejuta alasan
Tanpa tahu yang berada dalam gendongan
Yang berada di tepi jalan.
 
Seperti gula,
Manis
Larut
Dan mengendap dalam gelas.
Wujudnya tak lagi menarik
Namun rasa adalah penggoda
Darinya keberanian tercipta.
 
Sementara,
Memandu jalannya kenangan
Tak menuntutmu untuk memberi
Dan lekas tuk disudahi.
Sebab, lelaki separas apapun
Tak akan menarik jika terluka.
 
Menimang-nimang kenangan
Sungguh membuatku kerepotan
Kenangan menjadi tumpukan bergilir
Dan air mata hanya akan terus mengalir.
 
Kenangan menjadi sangat luber.
Semua orang sibuk merawat dan menghias kenangan.
Sayangnya, kenangan tak bisa diganti orangnya
Dan tak bisa diubah rasanya.
 
Jakarta, April 2017

Ketiadaanmu adalah Keberadaanmu

Pada bingkai sajak usai
Roda dua
Trotoar
Kopi hitam
Nyanyian
Dan sepasang kursi bermesraan
Adalah kebermutuan cerita.

Kini,
Ketiadaanmu adalah keberadaanmu.
Diroda dua
Trotoar
Kopi hitam
Nyanyian
Dan sepasang kursi bermalasan
Ada kau yang menyerupai.
Nyaris persis,
Sosokmu menjelma pada alam
Dalam ketiadaan ada keberadaanmu.
Pada diriku ada dirimu,
Aku adalah kamu,
Sementara,
Nalar masih berupa kemungkinan.

Jakarta, 06 April 2017

Meminang Keberanian
Click to comment

Komentar

To Top