Resensi

Narasi Kecil Bung Mahbub Djunaidi

Apa yang menjadi kekuatan penceritaan Mahbub Djunaidi? Seperti halnya kolom-kolomnya, novel Mahbub ini sekali lagi menunjukkan kecakapannya dalam berkelakar. Bercanda dengan hidup. Bagi Mahbub, sepertinya apa yang ada di hadapan matanya bisa menjadi ladang inspirasi sekaligus bahan guyonan. Pandangannya atas segala masalah terasa sederhana, sekaligus membikin pembaca mau tidak mau menyunggingkan senyum.

“Dari Hari ke Hari” menurut saya berhasil membawakan model penceritaan yang nganeh-nganehi soal revolusi Indonesia. Jika revolusi biasanya diceritakan dengan amat serius dan berdarah-darah, penuh tragedi, Mahbub mencoba untuk berkisah dengan santai. ‘Perjuangan’ bukan melulu milik orang dewasa. Dus, cerita soal revolusi bukan soal perjuangan berdarah-darah seorang pejuang, tetapi dari mata lugu dan cerdas seorang anak.

Bung Mahbub, seolah menelusuri lorong kenangan masa kanak-kanaknya. Mahbub kecil mengungsi dari Tanah Abang ke Solo, belajar pula di Mambaul Ulum. Sekilas memang nampak seperti biografi, bukannya fiksi. Fiksi atau bukan fiksi, tulisan Mahbub ini tetap menarik hati.

Pandangan yang berbeda ini hadirkan dalam memori masa kanak-kanak. Seperti kenangannya atas Oneda-san, seorang koki masak angkatan laut Jepang yang memberinya perban katun pembungkus borok. Bagi orang-orang tua, Jepang bisa jadi berarti penjajah, tapi bagi si anak, ada seorang Jepang yang begitu karib.

Perhatian seorang anak tentu beda dengan orang dewasa. Informasi dan pengetahuannya mungkin sama, namun tafsirannya akan jauh berbeda. Tokoh dalam novel ini juga menghadapi hidup di zaman revolusi, seperti makan yang mesti diganti bubur, kota yang lengang, tentara yang kesana-kemari dan kabar-kabar soal perang tiap hari. Namun, perhatian seorang anak akan sangat jauh berbeda. Si tokoh malah sibuk memikirkan burung dara, kucing kantor, dan ujian sekolahnya. Tentu saja, ia banyak berpikir dan mencerna kabar tentang perang, yang dianggapnya seperti angin lalu saja.

Tafsiran peristiwa dari sudut anak-anak inilah yang begitu menarik sekaligus menghibur. Sang tokoh misalnya sempat diperintahnya untuk mengamalkan bacaan salawat Nariyah. Ia mesti membacanya 4.444 kali. Ia hitung-hitung, kalau dibaca nonstop dengan asumsi sekali baca setengah menit, maka mesti komat-kamit selama 37 menit tanpa henti. Itu hal yang terlalu ajaib. Katanya, “Tapi menjadi ajaib itu tidak mudah. Pernah kubaca fakir di India bersila di atas paku, selama 40 hari 40 malam tanpa makan dan minum, ini luar biasa. Tapi, di mana ada orang macam itu selain di majalah?” (hal.92).

Novel Pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ 1974 memang mengukuhkan kemampuan bercerita sastrawan serba bisa ini. Keahlian Mahbub memang pada soal membikin analogi yang begitu terang, seolah terlalu lugu, dan tentu saja lucu. Saya tidak tahu, apakah Mahbub Djunaidi orangnya lucu seperti layaknya para kyai NU lain, seperti Gus Dur dan Gus Mus misalnya. Tapi yang jelas, tulisannya jelas lucu dan cerdas. Bercerita dengan lucu tak harus dungu, itulah yang berhasil dilakukan oleh Mahbub.

Membikin perumpamaan tentu bukan hal yang mudah. Apalagi perumpamaan yang titis dan membikin ketawa. Perumpamaan yang karib, bukan yang garib. Lihatlah bagaimana penulis mengumpamakan nasib pendidikan anak-anak masa revolusi. Mahbub menulis, “Semua, begitulah mestinya,  anak-anak di negeriku yang berumur 12 atau 13 tahun seperti diriku ini bagaikan adonan kue yang tidak menentu…” (hal.15).  Simak juga analogi sunyinya kota Solo saat terjadi pemberontakan PKI di Madiun. Tulisnya, “Solo bagaikan kolam pemandian yang lagi dikuras, lengang tiada bergerak.”

Salah satu kekurangan, atau justru kelebihannya, si anak dalam novel ini nampak terlalu cerdas. Mungkin, relatif gara-gara pembaca yang dungu seperti saya. Anak sekecil itu bisa bicara soal perundingan negara, soal gerilya, dan macam soal yang lain. Atau jangan-jangan inilah yang terjadi memang pada saat kita kanak-kanak?. Pikiran dan imajinasi tak terbatas yang menjadi hilang saat kita beranjak dewasa.  Persis seperti ingatan tokoh si anak di akhir paragraf roman ini. “Ingat, sekarang kau bukan anak-anak lagi.”

Judul “Dari Hari ke Hari” yang secara sadar dipilih Mahbub, seolah menjadi kerangka bagi cerita ini. Dari hari ke hari dalam arti perjalanan dalam unit waktu yang singkat namun penuh makna, yang begitu dihayati oleh si anak. Selama ini, baik membaca novel atau teks sejarah, seringkali kita dibawa dalam konteks waktu yang panjang dalam sebuah narasi ‘besar’. Yang menjadi fokus adalah peristiwa besar yang terjadi, entah revolusi, pecahnya perang, perundingan, runtuh dan bangkitnya kerajaan dan sebagainya. Mahbub melakukan sebaliknya. Semua peristiwa besar itu dijadikan narasi ‘kecil’ dari kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks revolusi, selain peristiwa besar yang memang tejadi dan nyata penting bagi nasib negeri, ada pula kejadian-kejadian harian yang juga jadi perhatian manusia. Mungkin bagi sebagian dari kita masih ingat, bagaimana kakek dan nenek bercerita tentang masa perjuangan dan awal mula kemerdekaan. Yang diceritakan adalah soal beras yang susah didapat, orang-orang yang kurus kering kurang makan, dan peristiwa-peristiwa kecil lain. Narasi besar soal sejarah masa lampau itu jamaknya kita dapat dari buku-buku sejarah.

Pembaca bisa menyimpulkan macam-macam, dari karya Mahbub ini. Karena memang begitulah kodrat karya sastra dan teks lainnya yang memang dibaca dalam saringan subjektifitas masing-masing. Kalau bagi saya, novel ini ajakan adakan dari seorang kawan untuk ikut pula mengikuti kenangan-kenangan masa kecil sekaligus mencoba menjenguk peristiwa penting apa saja yang saat itu terjadi. Semacam memberikan konteks besar, untuk narasi kecil kita.

Di tengah banjir novel-novel picisan dan emosional, bagi yang sekuler maupun yang agamis, membaca novel Mahbub ini jadi hal wajib. Agar pikiran segar, agar kita bisa menafsirkan dunia di depan kita sembari tersenyum.

Novel ini utamanya perlu dibaca oleh para pendidik, guru, dosen, juga para kiai dan ustad. Lebih mendesak lagi untuk para pembuat kebijakan pendidikan di negeri ini.  Alasannya sederhana. Biar mereka mau menjenguk pikiran kanak-kanak mereka sendiri, yang semoga pada gilirannya akan membuka mata mereka.

Supaya mereka tahu, anak-anak punya dunianya sendiri dengan alur dan nalar pikirannya sendiri. Meskipun agak pesimis, mudah-mudahan ada satu atau dua orang dari mereka yang mau membaca novel tipis ini. Supaya alih-alih menjadi terlalu serius perihal urusan duniawi dan kekuasaan ,orang-orang tua kembali cerdas dan penuh imajinasi tulus seperti para kanak-kanak.

Peresensi; Muhammad Nafi’, Editor lepas

Data Buku :
Judul                : Dari Hari ke Hari
Pengarang       : Mahbub Djunaidi
Cetakan            : Cetakan Pertama, Februari 2014
Penerbit           : Surah Sastra Nusantara

Narasi Kecil Bung Mahbub Djunaidi
Click to comment

Komentar

To Top