Celomet

In Dwi Winarno We Trust: Melacak Akar Ideologi Dwi-isme

Berbadan tidak terlalu tinggi. Kurus. Gondrong. Karena kelewat ngiritnya, barangkali sudah tidak mampu hanya untuk sekedar membeli ikat rambut. Lelaki ini kerap menggunakan kacamata minusnya untuk dijadikan penghalau rambut gondrongnya agar tidak semrawut menutupi mukanya. Perkara ini musti dilakukan. Jika tidak, bisa bahaya dan panjang urusannya jika lawan bicara atau siapa pun yang berjumpa dengannya akan mengiranya sebagai Andika vokalis Kangen Band.

Lelaki ini kerap mengenakan sandal gunung. Selain bercelana jins, jaket kusut merupakan pakaian kebangsaan yang acap ia kenakan untuk segala kegiatan, termasuk mengajar. Kurang atau lebih, demikianlah Dwi Winarno. Oleh kebanyakan yang mengenalnya, ia sering dipanggil dengan panggilan Mas Dwi.

Mas Dwi, hemat saya, merupakan profil tidak umum bagi para aktivis yang tinggal di Jakarta. Banyak aktivis dari kampung udik yang setelah bercengkerama dengan lampu-lampu kota Jakarta, tiba-tiba tampilannya demikian berubah. Gaya hidup dan pola pergaulannya menjadi sedemikian “kota”, apalagi penampilannya. Sepatu harus mengkilat. Celana bermerek—mana ada celana tidak bermerek?–. Menenteng dua atau tiga ponsel sekaligus. Barangkali persis dengan keyakinan orang Madura bahwa siapa yang ingin berkembang maka ia harus menguasai informasi. Mengusai informasi salah satu caranya bisa ditempuh dengan membeli ponsel sebanyak-banyaknya.

Ada satu pantangan bagi aktivis model beginian, yakni tidak berani membuka dompet. Membuka dompet berarti membuka kekurangannnya sendiri. Jika dilakukan, perkara ini dikhawatirkan bisa merontokkan citra yang sudah dibangun: kesederhanaan, egaliter, pekerja, dan perjuang keadilan garis depan. Dompet memang tebal, namun isinya barangkali tidak lebih dari sekedar kartu nama senior-senior yang barangkali bisa ia hubungi kapan saja jika  sewaktu-waktu kedapatan tidak mampu membeli rokok. Begitulah cerminan aktivis “ngehek”.

Mas Dwi aktivis langka yang hidup di tengah-tengah belantara hutan beton Jakarta. Tidak sulit bagi Mas Dwi untuk mengumpulkan uang dengan cara-cara yang sering digunakan oleh aktivis ngehek. Cukup memasang muka memelas kepada seniornya supaya sang senior mengeluarkan uang seratus ribu di dompetnya. Meskipun memunyai potensi untuk itu (minimal tampang kusutnya sudah bisa ia jadikan modal), ia malah asyik dengan pilihan hidup yang berbeda: berwirausaha. Mula-mula ia berdagang susu anak-anak kemudian buka toko kelontong, sampai kemudian berjualan aksesori ponsel. Semuanya tidak ada yang sukses. Begitu-begitu saja.  Tapi ia pejuang yang tangguh, kokoh dan tak tertandingi, sekokoh semen Gresik barangkali.

Kesederhanaan Mas Dwi tidak lantas menutupi aura kharismatik yang ia miliki. Jika kedapatan ia datang di sebuah kerumunan mahasiswa, ia akan disambut dengan sangat meriah dan ramah. Ada juga yang berebut salaman dengannya sambil setengah teriak dan memekikkan namanya. Barangkali perlakukan yang demikian ini hanya bisa disamai oleh Imam Besar Umat Islam.

Pesona Mas Dwi bukan karena rambut gondrongnya namun karena ilmu yang ia pelajari. Ilmu memang menjadi hiasan bagi empunya sehingga orang yang berilmu pasti dihormati. Sebagaimana sebuah syair yang masyhur di kalangan pesantren “fainnal ilma zainun liahlihi”. Bagi empunya, ilmu merupakan hiasan.

Terlepas dari keilmuan yang dimilikinya, Mas Dwi terampil dan telaten menularkannya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya dengan baik. Bagi Mas Dwi, pendidikan bukanlah seperti orang yang sedang mentransfer uang ke rekening, kemudian resinya difoto dan dikirim ke wasap kepada orang yang ia kirimi sambil ditulisakan kata-kata “sudah aku kirim yaa…semoga bermanfaat”. Namun lebih dari itu pendidikan adalah menularkan ilmu dengan sepenuh hati. Begitulah cerminan para pendidik yang tidak berdedikasi: masuk ruangan ucapkan salam, menerangkan sambil melihat jam hatinya berguman “sebentar lagi waktu kuliah selesai”. Dan setelah selesai ia ucapkan salam. Supaya telihat sebagai nahdlliyin kaffah maka salamnya ditambahi dengan kalimat “wallahul muwafiq ila aqwamith Tharieq”.

Mas Dwi tahu betul bahwa pendidikan bukanlah sekedar transfer keilmuan, namun mentransformasi ilmu. Selain mengajarkan anak didik memahami ilmu juga—mohon maaf menggunakan istilah libidoistik– merangsang anak didik untuk membebaskan otaknya, supaya anak didik bisa berkarya dengan asas kemerdekaan.

Sejatinya pendidikan adalah memerdekakan pikiran bukan malah memasung pikiran. Jika melihat gaya mendidik Mas Dwi kepada junior-juniornya, ingatan saya melayang-layang kepada apa yang digagas oleh Paulo Freire. Substansi pemikiran pendidikan Freire terfokus pada pandangannya tentang manusia, tentang dunianya yang kemudian ditransformasikan ke dalam dunia pendidikan yang menghasilkan model pendidikan alternatif yang ia tawarkan.

Model pendidikan Freirian adalah pendidikan yang membebaskan. Freire menginginkan mengandaikan otak anak didiknya merdeka dari segala yang membelenggu dan cenderung mendiskreditkannya.

Sesungguhnya bukan hanya Freire yang menggunakan pendidikan seperti itu, di Indonesia jauh sebelum itu sudah pernah dilaksanakan oleh tokoh fenomenal pergerakan Indonesia: Tan Malaka. Salah satu perjuangan Tan adalah usahanya untuk mengenalkan muridnya tentang bahayanya hidup dalam keadaan kumuh dan kotor, terutama bagi orang-orang miskin.

Mas Dwi bukanlah Tan Malaka, apalagi Paolo Freire. Namun, metode yang digunakan oleh Mas Dwi—boleh dikata–hampir-hampir mirip dengan dua tokoh hebat itu. Mas Dwi sudah terbiasa mendatangi “gerombolan” mahasiswa yang sedang berkumpul kemudian bersenda gurau sambil menyisipkan ilmu-ilmu yang pernah ia pelajari dari beberapa tokoh kesohor macam Weber, Gramsci, dan juga Gus Dur.

Tan Malaka juga demikian. Sosok cungkring ini sering sekali ikut diskusi yang diadakan oleh kaum muda seperti Sukarni. Dalam diskusi-diskusi yang diikutinya, hampir tidak ada orang yang tahu bahwa sosok cungkring yang ikut diskusi tersebut adalah Tan Malaka.

Anak-anak muda itu baru tahu Tan Malaka setelah sekian lama, sehingga mereka tahu betul bahwa pemikiran Tan Malaka itu sesuai dengan gaya hidupnya. Dari sinilah Tan Malaka mampu menghipnosis anak-anak muda untuk terus belajar kepadanya dan tentunya menjadi kader-kader militan dan loyal kepada Tan.

Pola kaderisasi yang dilakukan oleh Mas Dwi juga hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh Tan Malaka. Bisa jadi, tantangan yang dihadapi Mas Dwi lebih berat ketimbang yang dihadapi oleh Tan Malaka. Sebabnya jelas, Tan Malaka hidup di zaman yang belum modern. Sedangkan Mas Dwi hidup di zaman revolusi digital yang demikian ruwetnya.

Lingkungan yang begitu berat itu nyatanya tidak lantas menyurutkan semangat Mas Dwi untuk selalu menciptakan kader-kader yang militan yang menjadikan hati sebagai dasar pergerakannya. Dalam mendidik, Mas Dwi tidak pernah memosisikan dirinya sebagai seorang senior yang harus didengar. Ia membebaskan kader-kadernya untuk terus berpikir dan berkarya. Dengan model pendidikan yang membebaskan itu maka tidak heran Mas Dwi banyak melahirkan kader-kader yang militan. Mereka cinta kepada Mas Dwi bukan karena harta atau jabatan namun kerena ilmu pengetahuan dan sikapnya.

Jika Mas Dwi tetap konsisten dalam jalurnya, bisa dipastikan Mas Dwi akan melahirkan banyak kader. Demikianlah kira-kira Mazhab Dwi-isme itu akan bertumbuh. Contohnya sudah banyak. Salah satunya Karl Marx, yang menghabiskan masa hidupnya di perpustakaan dan mati dalam keadaan miskin namun pemikirannya mampu menghantui dunia. Karl Marx dan Tan Malaka memunyai kesamaan, sama-sama tokoh besar dan mati dalam kemiskinan, semoga Mas Dwi juga menjadi tokoh yang besar, namun tidak mati dalam kemiskinan.

Nama Dwi Winarno dalam tulisan ini hanyalah tokoh fiktif belaka, digunakan untuk mendukung alur tulisan supaya mudah dicerna oleh pembaca. Untuk itu jika ada yang memunyai nama yang sama maka saya minta maaf sebesar-besarnya.

Muhtar Said, Alumni Pesantren Albarokah Semarang, Penulis Buku Politik Hukum Tan Malaka.
*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

In Dwi Winarno We Trust: Melacak Akar Ideologi Dwi-isme
Click to comment

Komentar

To Top