Reportoar

#AkuBaca sebuah Semangat untuk Membaca

Pagi kemarin, 17 Mei 2017 yang bertepatan dengan hari buku nasional, saya mewakili Omah Aksoro diundang oleh Kompas Gramedia untuk mengikuti sharing inspirasi dan workshop literasi #AkuBaca Gerakan Literasi Nusantara.

Acara ini dihadiri oleh 17 perwakilan Taman Bacaan Masyarakat dari 5 Pulau di Indonesia (finalis Gramedia Reading Community Competition 2016), 30 terbaik pegiat TBM/Perpustakaan, komunitas literasi di Indonesia, serta siswa & guru sekolah (PAUD/TK, SD, SMP), yang kira-kira berjumlah sekitar 100-an penggerak literasi dari berbagai komunitas se-Indonesia.

Kita tahu bahwa Indonesia, menurut hasil penelitian yang dikeluarkan oleh Unesco pada tahun 2015, menduduki peringkat ke 62 dari 65 negara dalam persoalan minat baca. Indeks baca masyarakat kita juga berada pada angka yang sangat miris: 0,001 persen. Artinya dari 1000 orang, hanya ada 1 orang Indonesia yang suka membaca.

Gerakan #AkuBaca dimaksudkan menjadi sebuah gerakan yang mendorong tumbuhnya minat baca yang berfokus pada aspek-aspek mendasar yang menjadi pembentuk dan pendorong (key driver) dalam meingkatkan minat baca. #AkuBaca secara aktif harus mengampanyekan (campaign) sisi menarik (data & fakta) tentang membaca dan hal-hal keren menjadi generasi baca.

Toh pada dasarnya, manusia, sejak dari masa kanak-kanaknya, memiliki ketertarikan (interest) terhadap suatu hal tertentu. Baik secara alamiah maupun hasil pengaruh dari lingkungannya. Ketertarikan itu melahirkan rasa ingin tahu (curiosity), yang kemudian mendorongnya melakukan eksplorasi (jelajah) untuk memuaskan keingintahuannya. Membaca adalah salah satu cara eksplorasi keingintahuan, di samping observasi atau terjun mengalaminya langsung (experience). Membaca, dengan kata lain, adalah sebuah jembatan untuk mewujudkan perubahan.

Dalam acara tersebut hadir Najwa Shihab, duta baca Indonesia dan sekaligus duta pustaka bergerak Indonesia. Ada juga Ninok Leksono, wartawan senior Kompas yang kebetulan saat ini menjadi rektor Universitas Multimedia Nasional, dan yang terakhir ada Nirwan Ahmad Arsuka seorang pendekar dan pejuang Jaringan Pustaka Bergerak Indonesia. Ketiganya membagikan pengalaman, cerita dan kisah inspiratif tentang kesuksesan yang dimulai dari kegemaran dalam membaca (success based on reading).

Selain itu ada juga Butet Manurung, penggagas Sokola Rimba yang begitu luar biasa semangatnya dalam memberantas buta huruf untuk anak-anak suku dalam di Indonesia. Tidak kalah juga, hadir seorang sastrawan, sekaligus pegiat literasi sejati Gol A Gong yang juga berbagi kisah dan sharing bersama teman-teman pegiat literasi yang lain.

Dari sekian banyak komunitas yang diundang tersebut, Omah Aksoro hadir sebagai komunitas dengan bilangan usia yang paling muda. Jika yang lain sudah menapaki minimal usia tujuh tahun, maka Omah Aksoro baru bertumbuh di tahun ke duanya. Namun, banyak apresiasi lahir dari pelbagai kalangan. Kuatnya tagline “Di Halaman Buku Kita Bertemu” misalnya menjadi nilai tersendiri. Dengan tagline yang kuat, komunitas itu bukan saja mudah diingat, namun menunjukkan visi yang jelas.

Kecuali itu semua, konsistensi dalam mendarus buku setiap minggu dan juga keistikomahan Omah Aksoro yang saban tahun mengeluarkan satu buku karya penggerak komunitas ini adalah nilai plus tersendiri yang belum dimiliki oleh komunitas lain yang diundang saat itu.

Demikianlah, saya menceritakan bagaimana proses kami bertumbuh dalam bingkai “Di Halaman Buku, Kita Bertemu”.

Faiz Maulana

#AkuBaca sebuah Semangat untuk Membaca
Click to comment

Komentar

To Top