Resensi

Kambing dan Hujan; Sebuah Ajakan Menebas Batas

“E-e, bukan muhrim lho,…”
“Boleh, atau tak jadi pulang?”
“Ah, Nahdliyyin. Sukanya mengancam.”
“Kaku. Khas orang Pembaru.” (hal.7)

Batas-batas antar manusia akan selalu ada. Entah batas yang tercipta sendiri, atau yang diciptakan oleh manusia. Persoalan perbedaan suku, ras, agama dan golongan, dalam konteks Indonesia, dari dulu selalu jadi masalah sensitif. Apalagi kalau perbedaan-perbedaan itu terlibatkan dalam persoalan asmara, plus dalam ranah budaya Jawa. Urusannya tidak lagi menjadi sederhana.

Adapula dikotomi Islam yang bagi pengamat luar mungkin aneh dan sepele, NU dan Muhammadiyah. Keduanya sama-sama orang Islam, hanya beda organisasi. Yang pertama berbasis pedesaan, yang satunya berbasis wilayah urban. NU tercirikan sebagai organisasi yang memegang tradisi, Muhammadiyah biasanya sangat tanggap terhadap ide-ide baru dan modern. Beda organisasi pun bisa menimbulkan perumitan masalah relasi sosial, apalagi di kawasan pedesaan.

Novel “Kambing dan Hujan ini, bagi saya, merupakan ikhtiar dari Mahfud Ikhwan untuk mempertemukan lalu mendamaikan beda yang ada di antara pengikut dua organisasi ini. Titik damai ini ia rangkai dalam tema cinta. Tapi, jika anda membaca lembar demi lembar karya ini, cinta bukan lagi menjadi tujuan pokok cerita. Alih-alih, meminjam kalimat Mahfud, “Kisah besar di belakang cinta itulah” yang membuat alur cerita menjadi menarik untuk disimak.

Tersebutlah sebuah desa kecil, Tegal Centong, yang terletak di kawasan Pantai Utara Jawa Timur. Di sinilah tumbuh dua orang karib, Muhammad Fauzan dan Iskandar. Keduanya penggembala kambing, sebagaimana anak-anak desa di masa tahun 60 dan 70-an. Dua penggembala itu memiliki semangat yang berlebih dalam belajar, terlebih dalam soal-soal agama. Namun, sang takdir membawa mereka ke dua jalan yang berbeda.

Iskandar – atau Is – bertemu dengan Cak Ali, figur cerdas yang mengenalkannya pada ide-ide pembaruan. Bersama dengan beberapa pemuda Tegal Centong lainnya, Is menyebarkan gagasan serta amal-amal Muhammadiyah yang berbeda dengan Islam tradisional di desa itu. Tak ayal, kelompok baru ini harus berhadapan dengan orang-orang tua di desa karena penentangan mereka atas tradisi setempat. Sementara itu, Muhammad Fauzan – atau Moek – melanjutkan pendidikannya di sebuah pesantren jauh dari Centong. Moek semakin mendalami, sekaligus tambah yakin, akan tradisi dan amalan-amalan Islam di desanya.

Perdebatan antara NU dan Muhammadiyah itu memang kebanyakan berpusat pada persoalan fiqih (hukum Islam). Bahwa orang NU dan Muhammadiyah itu beda dalam hal qunut, adzan di shalat Jumat, penentuan hilal, dan adaptasi tradisi-tradisi itu sudah jadi gunjingan umum. Agak disayangkan, dalam novel ini tidak ada obrolan panjang atau catatan kaki tentang perbedaan-perbedaan tersebut dalam perspektif mazhab-mazhab besar dalam fiqih sendiri. Mungkin saja, Mahfud sengaja menghindarinya agar pembaca tidak teralihkan dari narasi konflik antar manusia menuju konflik mazhab atau ideologi. Singkat kata, Is menjadi kader Muhammadiyah yang bersemangat dan Moek menjadi kader NU yang tangguh.

Saat Is dan Moek bertemu kembali, sebagai pemuda yang sama-sama berilmu tapi beda organisasi ini, jarak keduanya semakin melebar. Is menjadi pelopor di masjid utara yang Muhammadiyah, sedangkan Moek menjadi pemimpin di selatan yang NU. Keduanya tak lagi saling bertegur sapa, apalagi saling olok dan bercanda sebagaimana saat keduanya masih menjadi anak-anak gembala. Bahkan, keduanya seringkali harus berhadapan demi mempertahankan prinsip masing-masing kelompoknya.

Akan tetapi, nasib pula yang membuat mereka harus bertemu kembali. Miftahul Abrar, anak dari Is, jatuh cinta pada Fauziyah anak dari Moek. Kisah cinta dua sejoli inilah yang kemudian menguak kembali lembar-lembar sejarah yang terbentang dalam relasi Moek dan Is. Mif dan Fauzia, yang mulanya mengira bahwa tantangan cinta mereka hanya karena perbedaan organisasi keagamaan ini, mendapati diri mereka ikut dalam pusaran sejarah rumit dua sahabat lama.

Sayangnya, proses jatuh-hatinya Mif dan Fauziya pun tidak tercatat dengan sabar. Kiranya, penulis agak terburu-buru dalam bagian ini. Karenanya, pembaca yang mengharapkan kisah cinta yang mendayu-dayu nan sentimental akan kurang puas dengan hikayat cinta Mif dan Fauziya.

Bagian terbesar novel ini justru tentang ragam beda NU-Muhammadiyah serta cerita persahabatan Moek dan Is. Bahwa Mif dan Fauziya jatuh cinta, begitulah adanya. Kisah mereka berdua seolah menjadi wasilah – semacam perantara – untuk menyampaikan sejarah desa Centong dan menyambungkan hubungan karib antara Moek dan Is. Akan tetapi, justru hal inilah yang membuat novel ini unik berbeda dari kisah cinta pada umumnya. Dua sejoli yang saling mengasih itu sepertinya sengaja dibawa Mahfud untuk keluar dari cangkang ego mereka. Mereka berdua diseret untuk menyadari, bahwa perkawinan bukan hanya tentang dua hati mempelai tetapi juga soal mempertemukan dua keluarga.

Namun, ada beberapa hal yang mungkin akan menyulitkan pembaca. Novel pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 ini menggunakan alur maju-mundur. Mestinya, penanda waktu dibikin agak terang agar pembaca lebih mudah mengenali konteks waktu cerita. Selain itu, ungkapan-ungkapan dalam bahasa jawatimuran serta beberapa kalimat berbahasa Arab pun mungkin akan membuat pembaca agak mengerutkan kening.  Akan tetapi, kemampuan Mahfud menyusun kalimat padat nan ringkas, membuat pembaca tetap lancar dan enak menalar karya ini.

Daya tarik novel ini, menurut saya, ada di kemampuan Mahfud untuk membawa pembaca menjelajah ruang waktu di sebuah desa kecil di antara dua sahabat lama ini.  Sebuah desa kecil bernama Tegal Centong itu ternyata memiliki sejarah yang begitu panjang dan rumit. Sesuatu yang nampaknya sangat sederhana, atau dalam bahasa Mahfud merupakan “kontestasi sehari-hari”, menjadi narasi yang sangat panjang untuk dibedah. Dengan membaca novel ini, mungkin kita akan dapat lebih mengapresiasi sekaligus menggali hal-hal yang terlalu kita sederhanakan. Dan tentu saja, sebuah kisah cinta memang, sekali lagi mengamini kalimat Mahfud, mengandung cerita besar di belakangnya.

Lebih penting lagi, novel ini menjadi semacam ajakan untuk menebas batas. Batas-batas sosial, agama, budaya, ataupun politik terkadang terlalu kita besar-besarkan. Pasalnya, seringkali kita sama sekali terperangkap dalam batas-batas tersebut. Dalam skala yang kecil, kisah dalam “Kambing dan Hujan” ini menunjukkan jika kita sedikit lebih berani mendekati batas tersebut mungkin batas itu hanya sangat kecil. Perbedaan itu mungkin saja hanya egoisme yang harus dijinakkan.

Peresensi; Muhammad Nafi’, Editor lepas

Data Buku :
Judul                : Kambing dan Hujan
Penulis             : Mahfud Ikhwan
Cetakan            : Cetakan Pertama, Mei 2015
Penerbit           : Bentang

Kambing dan Hujan; Sebuah Ajakan Menebas Batas
Click to comment

Komentar

To Top