Cerpen

Hujan Bulan Desember

Hujan turun lagi. Seperti malam itu, saat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya terjadi begitu saja dalam hidupku. Hidup yang selalu indah dan kupenuhi dengan rasa syukur. Karena Allah telah membiarkan aku dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa baiknya. Abah yang penyayang dan tegas, Umah yang sabar dan selalu lemah lembut, dan Qaniya yang selalu ceria. Biasanya, saat hujan turun kami semua akan berkumpul di ruang tengah. Bercengkerama dan bersenda gurau. Diiringi irama hujan yang turun membasahi Kampung Dukuh. Kadangkala, Abah akan membuat mie rebus ala Abah lalu aku dan Qaniya akan meriung di depan Abah. Atau Umah yang akan membuat pisang goreng untuk sekadar teman ngobrol kami ketika hujan. Namun tak jarang juga hanya akan ada Abah, Umah dan Qaniya yang menikmati hujan di ruang tengah. Sementara aku mendengarkan canda gurau mereka dari dalam kamar. Aku lebih senang berdiam diri di kamar, menenggelamkan diri dalam alur-alur cerita menarik dari Andrea Hirata, atau telah entah berada di mana terbawa arus pemikiran Simon De Beauvior tentang Perempuan.

Tapi hujan malam ini berbeda. Tidak ada lagi aroma sedap mie rebus yang dibuat Abah. Tidak ada pisang goreng hangat buatan Umah, dan tidak ada renyahnya gelak tawa Qaniya saat bercerita tentang teman-temannya di Sekolah. Di sebuah ruangan berukuran 3 x 3 meter ini, hanya ada aku dan tumpukan buku-buku yang belum selesai dibaca, berkas-berkas naskah yang harus segera disunting, dan alunan lagu Desember dari Band Indie Efek Rumah Kaca yang ku putar sekeras mungkin untuk menyamarkan suara hujan dan petir di luar sana.

Hampir dua tahun berlalu, dan aku masih saja dihantui rasa takut bercampur rasa bersalah karena lebih memilih meninggalkan Abah dan Umah di sudut Pantai Wonosari, Gunung Kidul, Jogja. Hujan malam ini, sejujurnya membuatku sedikit rindu. Kehidupan Ibu Kota yang keras terkadang membuatku muak. Macet yang tak pernah ada hentinya dan sampah-sampah yang berserakan di mana-mana, suara-suara bising dari orang-orang yang hanya terus menyalahkan dan persaingan orang-orang yang memperebutkan kekuasaan. Tidak pernah ada pagi yang benar-benar pagi seperti di Kampung Dukuh. Tidak ada suara kokok ayam yang sahut menyahut sebelum suara adzan dikumandangkan. Udara bersih pun sangat terasa mahal di tempat ini. Sekali saja keluar rumah tidak menggunakan masker, rusak sudah wajah terkena polusi udara yang terus membumbung tinggi. Sungguh kehidupan yang berbeda sangat jauh jika dibandingkan dengan kehidupanku sebelumnya di Kota yang penuh keramah-tamahan oleh penduduknya. Entahlah, meskipun hampir semua sarana transportasi tersedia di sini, aku tetap tidak menyukai untuk berlama-lama tinggal di kota ini. Satu-satunya yang aku sukai dari kota ini adalah suasana malamnya. Ramai, tapi terlihat cantik. Kerlipan lampu-lampu kota seolah menggantikan bintang-bintang di langit yang sesungguhnya. Jika melihat dari atap tempat aku bekerja, kerlipan jutaan lampu itu terlihat seperti yang biasanya kulihat di Bukit Bintang bersama Rudi. Iya, aku menyukai cahaya lampu ketika malam hari.

Dulu, semasa sekolah Rudi sering mengjakku ke Bukit Bintang saat hampir tengah malam. Karena hanya akan ada aku, Rudi dan seorang penjual Jagung Bakar yang ada di sana pada saat itu. Sepi. Dan aku bisa menikmati suasana malam hari sepuas mataku memandang. Berapa tahun sudah berlalu? Mungkinkah Desember kali ini aku harus kembali pulang? Kembali melanjutkan kuliahku yang sempat terbengkalai. Kembali pada pangkuan Abah dan Umah. Aku rindu dengan Qaniya yang selalu tersenyum riang. Sudah seperti apa ia sekarang? Mendengar suaranya pun tak pernah. Jika perhitunganku tidak salah, seharusnya saat ini Qaniya sudah kelas 6, dan tahun depan akan masuk MTs. Pasti Qaniya pun sudah mulai terlihat lebih cantik dengan perubahan fisiknya.

“Raaaan! Ada mie dog-dog tuh, Kamu mau juga ngga?” suara Irene membuyarkan lamunanku.

“Eh, iya. Boleh deh. Gak pedes ya.” Jawabku sekenanya.

“Hadeuh. Kamu melamun lagi? Sudah Ran, kamu kayaknya lebih baik pulang deh.”

Aku hanya tersenyum menanggapi saran dari Irene. Dia adalah orang pertama yang kutemui di kota ini. Sekaligus menjadi atasanku bekerja di kantor. Irene mendirikan sebuah Penerbitan Buku Indie kecil-kecilan di sudut kota Depok. Buku-buku yang diterbitkan Irene adalah buku-buku karya Mahasiswa UI. Kebanyakan dari Mahasiswa jurusan Sastra, tapi tak jarang juga Irene menerbitkan buku karya Mahasiswa jurusan Ilmu Politik, Antropologi, Sosial ataupun Mahasiswa jurusan lainnya. Irene menerbitkan semua jenis tulisan. Di bawah naungan cayaksara pustaka, Irene telah menerbitkan berbagai macam buku, seperti “Aku dan Mas Sastro” karya Mahasiwa FIB UI. “Tentang Gunung dan Soe Hok Gie”,”G2 Gie dan Gunung”. Dua judul buku ini adalah karya Mahasiwa-Mahasiswa Mapala UI. Tentang pengalaman pribadi mereka saat naik gunung dan pengamatan mereka pada sosok Soe Hok Gie. Pendiri Mapala pertama di Indonesia. Dan belakangan ini, ada namaku sebagai penyunting dari buku-buku karya mereka. Aku belajar banyak hal dari Irene. Tujuannya mendirikan penerbitan buku ini hanya satu, untuk mengajak anak-anak muda produktif, kreatif dan berpikir kritis. Dan aku sendiri bernama Rania. Hijrah ke kota yang padat ini sejak dua tahun lalu, setelah peristiwa Hujan Bulan Desember terjadi.

***

Namaku Rania, aku mempunyai beberapa sahabat sejak kelas satu MTs yang kemudian selalu disebut dengan 5R. Karena nama kami berlima diawali dengan huruf R. Rudi, Raihan, Reivan, Rina dan aku Rania. Kami dipersatukan sejak kelas satu MTs di Desa kami tinggal. Berawal dari pembentukan kelompok belajar di sekolah dan berlanjut sampai hari ini. Atau hanya sampai dua tahun lalu mungkin. Setiap harinya kami selalu menghabiskan waktu bersama, di rumahku atau di atap rumah Raihan. Bersepeda menyusuri Pantai Wonosari, mendirikan kemah di Bukit Kosakora atau sekedar menghabiskan malam di Bukit Bintang bersama Pak Tua Penjual Jagung Bakar. Enam tahun berlalu begitu cepat. Melepas masa-masa MTs dan Aliyah, maka pada saat itulah akhirnya kami harus terpisah karena pilihan hidup masing-masing. Rina lebih dulu menikah dengan salah seorang teman Ayahnya yang juga teman Abah. Raihan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi di Amikom, Rudi melanjutkan cita-cita Alm. Ayahnya untuk menjadi Pilot, dan entah mengapa secara tidak sengaja aku dan Reivan berada di satu kampus yang sama di UIN. Aku memilih jurusan Sastra Arab sedangkan Reivan berada di jurusan Pendidikan. Karena kesibukan masing-masing akhirnya kami berlima jarang bgertemu. Apalagi Rina, setelah menikah ia diboyong suaminya ke Surabaya untuk mengurus salah satu Pesantren Keluarga milik suaminya. Tiga tahun berlalu lagi begitu saja, akhirnya Rudipun mengikuti jejak Rina untuk menikah dengan seorang perawat yang ia temui pada saat pelatihan simulasi tanggap darurat untuk persiapan menjadi relawan di Timur Tengah. Aku sempat kecewa dengan pernikahan itu, karena sejujurnya aku berharap Rudi akan datang melamarku pada saat hari wisudaku nanti. Diantara Rudi, Raihan dan Reivan, Rudilah yang paling terlihat menyayangiku. Ia sering mengusap kepalaku, katanya itu tanda sayang. Dan sayangnya aku telah salah menafsirkan perlakuan Rudi terhadapku. Hampir setiap sabtu malam Rudi mengajakku pergi ke Bukit Bintang. Hampir sepuluh tahun lamanya aku memendam perasaan suka secara diam-diam pada Rudi. Mungkin dia adalah cinta pertamaku. Tapi bukan hal itu yang membawaku meninggalkan Jogja dan hijrah ke kota ini. Bukan kekecewaanku atas pernikahan Rudi yang mengantarku ke kota ini. Ada sebuah peristiwa yang sama sekali tidak pernah terbayangkan olehku terjadi dalam hidupku.

Pertengahan Desember 2014, tepat setelah aku memanjatkan doa dan meniup lilin di hari ulang tahunku yang ke 20. Hanya ada Abah, Umah, Qaniya, Rudi beserta istrinya, Raihan dan Reivan. Rina tidak hadir malam itu karena sedang hamil 7 bulan. Hujan turun dengan sangat deras dan diiringi dengan suara petir malam itu. Setelah hampir satu minggu cuaca panas, Allah menurunkan rahmatNya dengan menurunkan hujan yang membasahi Kampung Dukuh. Saat semua orang yang ada di ruang tengah itu mengucapkan doa dan harapan mereka untukku satu persatu. Berbeda dengan Raihan yang justru mengeluarkan sebuah kotak kecil.

“Ini apa?” Tanyaku penasaran pada kado yang diberikan Raihan untuk ku.

“Buka ae”. Jawabnya dengan suara medok khas Raihan.

Aku menuruti perintah Raihan untuk membuka kotak kecil berwarna merah itu. Dan, Bruk! Aku ambruk terduduk.

“Apa maksudnya ini?”

“Rania, aku ingin melamarmu. Bukankah yang dari dulu kamu inginkah adalah menikah dengan salah satu dari kami bertiga?’

Aku tidak menyangka Raihan masih mengingat kata-kata yang pernah aku ucapkan sepuluh tahun lalu saat kami menghabiskan akhir pekan di Bukit Kosakora. Aku tidak tahu harus berkata apa. Cairan panas mulai mengalir di pipiku dari kedua mataku. Seperti ingin marah pada Raihan. Bukan, maksuduku, aku tidak ingin Raihan yang datang melamarku malam itu.

Aku meninggalkan orang-orang yang juga tercengang dengan tindakan yang dilakukan Raihan. Samar-samar aku mendengar suara makian dan umpatan Rudi kepada Raihan. Dan aku tidak ingin memedulikan hal itu. Malam itu, aku menangis sejadinya di balik bantal tenggelam oleh kerasnya suara petir yang menyambar karena hujan. Reivan? Kenapa dia diam saja sejak tadi. Entahlah, akupun tidak ingin memperdulikan hal itu.

Malam terasa sangat panjang. Si Jago tak juga keluar dari kandangnya dan adzan subuh belum juga terdengar. Aku gelisah sepanjang malam. Tidak mengerti apa yang baru saja aku alami. Sejujurnya yang dikatakan Raihan adalah benar. Tapi entahlah, mengapa aku merasa bukan dia yang aku tunggu. Bukan juga Rudi. Berulang kali Abah dan Umah mengetuk pintu kamarku, aku bergeming. Puluhan missed call silih berganti datang dari Raihan, Rudi dan juga Rina dari Surabaya. Aku rasa Rudi telah memberitahukan hal ini pada Rina. Teknologi membuat semua informasi dapat tersampaikan dengan cepat meski berjarak ratusan kilometer. Tapi tidak dengan Reivan, sama sekali ia tidak menghubungiku. Mengirim pesan pun tidak. Karena kelelahan menangis semalaman akhirnya aku tertidur setelah adzan subuh. Sampai akhirnya siang hari aku terbangun karena suara bawelan Sri yang sejak tadi di kamarku. Darinya aku tahu pagi tadi Raihan dan Reivan berkelahi di ujung desa. Entah apa penyebab intinya, tapi sesekali mereka menyebut namaku.

Sejak hari itu aku tidak lagi melihat Reivan di Kampung Dukuh. Begitu juga dengan Raihan. Rudi akhirnya ditugaskan ke Poso untuk turut mengamankan daerah konflik tersebut. Hari-hari ku di Kampung Dukuh menjadi kelabu. Tidak adalagi malam minggu bersama Raihan dan Rudi, tidak adalagi minggu pagi bersama Reivan.

Aku adalah sosok yang tidak banyak berbicara diantara orang-orang yang ada di sekelilingku. Kemampuan bersosialisasiku kurang baik. Temanku hanya beberapa. Tidak ada yang lebih dekat selain Rina, Rudi, Raihan dan Reivan. Benar-benar terasa sepi. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari Kampung Dukuh, mencari suasana baru. Meninggalkan Jogja, Umah, Abah dan Qaniya.

***

“Minggu ini aku ada rencana pergi ke Jogja.”

“Mau ngapain ke Jogja?!”

“Mau mulangin Mbak Jogja yang nyasar di Depok hehe”. Aku mengernyitkan dahi mendengar perkataan Irene.

‘“Becanda, Mbak. Mau ada acara workshop di dekat Malioboro”.

“Ooooh”. Aku memilih tidak menanggapi pembicaraan itu lebih lanjut. Dan kembali melanjutkan pekerjaanku. Aku rasa Irene pun sudah mengerti.

Begitu Irene pergi, aku justru terngiang-ngiang oleh perkataannya tentang Jogja. Aku jadi semakin rindu dengan Qaniya, Abah dan Umah. Sesekali aku masih berhubungan dengan Rina tanpa memberitahu keberadaanku dimana. Hanya Abah dan Umah yang tahu aku ada dimana, karena sekali waktu aku pernah mengirim surat untuk mereka. Sekedar mengabarkan bahwa aku baik-baik saja di kota ini. Seujujurnya akupun merindukan Rudi, Raihan dan juga Reivan. Mungkin saja penugasan Rudi telah selesai, dan sekarang ia sudah kembali ke Kampung Dukuh.

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi

Di balik awan hitam

Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini

Menanti seperti pelangi

Setia menunggu hujan reda

Aku selalu suka sehabis hujan di bulan desember

Di bulan desember

Sampai nanti ketika hujan tak lagi

Meneteskan duka menetas luka

Sampai hujan memulihkan luka

Ku putar kembali sebuah lagu dari Efek Rumah Kaca yang dinyanyikan oleh Reivan. Aku ingat, ketika itu kamai tidak pulang ke Wonosari karena hujan turun sangat deras. Akhirnya kami memutuskan untuk menghabiskan malam di sebuah kafe bernuansa angkringan di sekitar kampus UIN. Secangkir cokelat panas menghangatkan tubuhku yang kedinginan akibat menerabas derasnya hujan malam itu. Tidak terlalu banyak pengunjung yang datang. Reivan mengambil sebuah gitar yang disediakan di angkringan itu. Lalu ia menyanyikan sebuah lagu favoritku yang berjudul Desember. Reivan meminta aku merekam suaranya dari Hpku. “nanti kalau kangen tinggal puter lagunya versi Reivan”. Katanya sebelum bernyanyi malam itu. Dan aku menurut saja.

Setelah selesai bernyanyi Reivan kembali menghampiriku.

“Kamu tahu kenapa aku suka lagu ini?’

“Enggak, memangnya kenapa?”

“Karena kata Abi dan Umi dulu kamu lahir pada saat musim hujan di bulan Desember.”

Aku tersipu mendengar pengakuan Reivan barusan. Abah memang pernah bilang padaku bahwa aku dilahirkan pada saat musim hujan di bulan Desember. Nama Rania sendiri berasal dari kata Raina yang diatur ulang. Menurut Abah hujan adalah berkah untuk para petani, dan bagi Abah akulah hujan baginya. Aku mulai menyukai lagu Desember sejak awal kuliah karena diberitahu oleh Reivan yang lebih dulu menyukainya.

Aku memang tidak banyak bicara pada setiap orang, tapi aku mampu bercerita banyak pada Reivan. Rudi memang paling sering mengajak ku ke Bukit Bintang, tapi sejak pertemuan pertama Reivan lebih sering mengajakku bercerita. Tidak banyak yang tahu jika sebenarnya aku adalah orang yang senang bercerita, atau aku hanya mampu bercerita pada Reivan? Dengan Reivan aku merasa paling nyaman untuk melakukan apapun.

***

Pertengahan Desember 2016. Aku memutuskan untuk pulang. Untuk Abah, Umah, Qaniya dan studiku yang terhenti. Irene memaksaku untuk mengejar gelar sarjana dulu baru kembali padanya. Keretaku berangkat pukul sebelas malam dari stasiun Senen, Jakarta. Tapi sejak pukul lima sore aku telah berangkat menuju Stasiun UI, Depok diantar oleh Irene. Karena aku ingin mengejar senja di Langit Cilebut nanti, stasiun setelah stasiun UI. Sejak pertama kali datang ke kota ini entah secara kebetulan atau tidak aku selalu disuguhi pemandangan yang luar biasa indahnya di langit Cilebut. Senja di langit Cilebut selalu memesona.

Tiba di stasiun Cilebut kereta berhenti. Para penumpang naik turun silih berganti. Dan ini adalah jam-jam padat keluar kantor warga Jakarta. Hampir saja aku jatuh tersungkur karena berdesak-desakan dengan penumpang KRL lainnya. Namun aku ditolong oleh seorang pemuda yang aromanya seperti sangat aku kenali. Parfum beraroma cokelat yang aku sukai. Sangat aku kenali siapa pemilik aroma parfum seperti ini. Reivan.

Senja di langit Cilebut hilang. Digantikan mendung dan hujan gerimis yang manis. Hujan turun lagi di bulan Desember. Di kampung Dukuh hujan bulan Desember adalah berkah para petani. Di rumah, akulah hujan bulan desember bagi Abah setelah sekian tahun menikah. Reivan. Mungkinkah dia hujan bulan desember untukku?. Beberapa detik mata itu saling beradu. Cairan bening membasahi kedua pipiku. Reivan tersenyum lega.

“Akhirnya, hujanku turun lagi di bulan Desember”. Ucapnya lirih padaku.

Hujan Bulan Desember
Click to comment

Komentar

To Top