Puisi

Menunaikan Ibadah Puasa

Menunaikan Ibadah Puasa

Hampir saja aku percaya, bahwa
puasa adalah kehilangan yang
percuma. Sebelum hujan dan
magrib datang memberikan segelas
haus yang sia-sia.

Semangkuk sup yang dihidangkan di
surau-surau saat magrib tiba, adalah
perihal lain selain doa yang selalu aku
dan kau ucapkan.

Sebelum magrib tiba, puasa adalah
berhentinya kata-kata di jantung dusta.
Puasa, sama halnya puisi. Ia menuliskan
segala yang tak berdosa.

Maka di jantung puasa, mesti tak kau
temukan segala nyala api.

Maka di jantung puisi, mesti tak kau
temukan segala padam sepi.

2016

Dan Kau Namakan Puasa

Kau tulis doa di jantung puisi, dan kau
namakan puasa. Hari-hari dieja dengan
tawa dan beberapa kata-kata maaf.
Lewat telepon genggammu, pahala
diraih lewat angka-angka dan
beberapa huruf saja.

Kesalahan berubah menjadi kesalehan.
Dan degub di jantungmu bagai bedug
di jantung puasa.

Orang-orang alangkah senang
berpuasa, menulis harapan pada
semangkuk sup di siang terik.
“kebahagiaan telah tiba!”
segelas kopi dan sepasang pelukan
mulai disiapkan.

Pada mata jendela, puasa menjadi
lebih indah dengan gorden bermotif
bunga. Bukan senjata atau pentungan.

Pada mata kata, puisi menjadi lebih
indah dengan sepiring roti. Bukan sepi
atau kehilangan.

2016

Menunaikan Ibadah Puasa
Click to comment

Komentar

To Top