Catatan Perut

Mati Berdiri Mengejar Ketertinggalan

Di sebuah acara tatap pertucara atau pertunjukan wawancara yang disiarkan salah satu stasiun televisi baru-baru ini, nampak Presiden Joko Widodo menjelaskan banyak program yang sedang dijalankan pemerintahannya saat ini. Pembangunan infrastruktur, peningkatakan dan pemerataan ekonomi, penegakan hukum, penaggulangan korupsi, dan seterusnya dan sebagainya.

Penjelasannya bagus. Secara umum Presiden kita ini—sebagaimana kebaisaannya—selalu memulai menjawab dan menaggapi pertanyaan dengan tertawa kecil terlebih dahulu. Mringis istilah jawanya. Ini ciri khas yang membedakan Joko Widodo dengan yang lainnya, barangkali. Setelah merampungkan tertawa kecilnya, sejurus kemudian jawaban-jawaban mulai berloncatan dari bibirnya. Lancar. Tenang. Rapi.

Saya menikmati acara tersebut. Bohong kalau saya tidak menikmatinya. Saya sangat antusias mendengar Presiden menjelaskan di mana lokasi ia melepas kecebong, bagaimana dia merawat menthok, seperti apa ia merawat angsa. Saya juga memperhatikan betul bagaimana caranya memberi makan kambing-kambing piaraannya yang baru beranak sekitar semingguan yang lampau.

Namun, tiba-tiba saja, di tengah kekhusyukan saya itu, ada sebuah kalimat yang keluar begitu saja dari bibir pemimpin tertinggi Negara itu. Kalimat itu, terus terang, sangat mengganggu saya. Bunyinya kurang lebih seperti ini “pokoknya semua bidang kita genjot. Pembangunan kita percepat. Untuk apa? Untuk mengejar ketertinggalan.”

Mata saya melotot. Degub jantung saya melambat. Saya coba kembali mendengarkan dengan seksama. Barangkali kalimat yang saya dengarkan keliru. Hasilnya? Nihil dan sama saja. Benar nian, kalimat itu memang berbunyi “untuk mengejar ketertinggalan.”

Setengah mampus saya berusaha untuk meyakinkan bahwa paling Presiden keliru mengucapkan kalimat itu. Paling Presiden–karena terlampau letih– jadi lidahnya terbata-bata sehingga keliru dan salah ucap. Saya mendaftari dan menyiapakan sejumlah alasan untuk diri saya sendiri hanya sebagai bahan untuk meyakinkan diri bahwa Presiden hanya salah ucap saja. Saya diam-diam menyelengarakan perdebatan kecil dalam diri saya.

Malang nian. Beberapa waktu kemudian, saya menemukan banyak rekaman wawancara Presiden Joko Widodo di youtube. Presiden kita itu berkali-kali mengucapkan, melafalkan, dan berbicara di depan khalayak dengan kalimat yang sama, yakni “mengejar ketertinggalan.”

Harapan saya pupus. Apa boleh dikalam, kenyataannya memang Presiden mengucapkan kalimat itu. Dan, kita tahu, kalimat itu adalah kalimat yang bukan saja keliru tapi juga salah. Sangat salah malahan. Kalimat itu harusnya keluar dari mereka yang memiliki kemampuan pemahaman linguistik yang rendah.

Secara gramatikal kalimat mengejar keteringgalan berarti menempatkan ketertinggalan sebagai objek sasaran yang dikejar. Yang dikejar adalah ketertinggalan. Lalu pertanyaannya adalah bagaimana mungkin dan dengan cara apa kita bisa maju kalau yang kita kejar selamanya adalah ketertinggalan bukan kemajuan?

Sampai tukang bubur naik haji semuanya, sampai pria ganteng di muka bumi ini lunas jadi serigala seluruhnya, sampai kapan pun kita tidak akan pernah bisa maju kalau yang kita kejar adalah ketertinggalan. Ini kesalahan konseptual yang dampaknya sangat luar biasa.

Persoalan yang beginian ini kerap dianggap hal sepele oleh kebanyakan kita. Kita cenderung dan acap kali meremehkannya, merecehkannya, menganggapnya tidak penting. Padahal, kita tahu, masalah ini berhubungan langsung dengan cara berpikir, konsep dan juga gagasan.

Ucapan adalah kepanjangan tangan dari pikiran. Pikiran yang baik dan sehat sekaligus benar kita tahu, pada gilirannya akan memproduksi ucapan yang benar pula. Sebaliknya ucapan-ucapan yang salah keluar dan lahir dari pikiran-pikiran yang keliru dan salah juga. Maka di banyak kesempatan saya menolak dengan tegas untuk mengatakan bahwa kesalahan konsep dalam berbahasa merupakan hal sepele. Ia tidak sepele. Ia merupakan hal yang mendasar dan elementer. Karena ia dasar, maka ia penting. Karena ia penting, maka ia wajib untuk dipelajari dengan baik.

Mustahil bagi kita bisa meraih kemajuan jika yang kita kejar mati-matian adalah ketertinggalan. Kita bisa mati berdiri dibuatnya. Tujuan kita kan mengejar ketertinggalan, maka ukuran kesuksesannya itu kita dapatkan saat kita berhasil menjadi bangsa yang kian mundur, degradatif, primitif, dan  sekaligus tertinggal.

Seorang kawan berseloroh bahwa yang demikian ini kan kesalahan yang lumrah. Jamak. Kaprah. Dia juga menyodorkan banyak contoh: gali lobang dan menanak nasi misalnya. Kata seorang kawan itu di dunia ini tidak ada pekerjaan yang sejatinya benar-benar menggali lobang. Yang ada adalah menggali tanah untuk membuat lobang. Kalau sudah ada lobang mengapa pula kita susah-susah bertungkus-lumus menggalinya? Ini meruapak pekerjaan yang aneh dan sia-sia belaka.

Segendang penenarian menanak nasi juga demikian. Yang kita tanak sejatinya adalah beras, bukan nasi. Kalau kita menanak nasi sejatinya tujuannanya barangkali akan membuat bubur. Namun frasa menanak nasi ini kita pakai untuk maksud menanak beras agar menjadi nasi. Demikian kata kawan saya berapi-api.

“Sudahlah ndak usah sok kritis dengan mengkritisi ucapan Presiden. Toh semua orang bisa salah,” katanya menasehati saya.

Saya diam. Saya hanya bisa membatin, menyadari kesalahan itu satu hal, dan memperbaikinya itu satu hal yang lain. Kalau kita sudah tahu kesalahan, lalu kita memakluminya, memaafkannya tanpa berusaha untuk memperbaikinya, kok ya nanggung sekali kayaknya hidup ini.

Mati Berdiri Mengejar Ketertinggalan
Click to comment

Komentar

To Top