Celomet

Hikayat Feodalisme, Belajarlah dari Mahbub

Soal sikap anti-feodalisme, rasanya Mahbub Djunaidi bisa jadi teladan. Fadlan Djunaidi, adiknya, mungkin pernah merasa kapok lahir ke dunia sebab punya kakak seperti Mahbub. Saat lulus ujian tertulis guna menjadi pegawai Kemenag justru Mahbub menggunakan kedekatannya dengan Menteri Agama Alamsyah Ratuprawiranegara agar tidak menerima Fadlan. Ia juga melarang adiknya menjadi Caleg dari PPP meski punya pengaruh besar di dalamnya. Masih banyak cerita lainnya yang terlalu menyedihkan dalam relasi kakak-adik ini. Di luar kelaziman.

Lain lagi Jaelani Naro, Ketua Umum PPP kala itu, yang memasukan anaknya ke dalam nomor urut jadi. Usianya masih 20-an tahun. Warisan perilaku model ini lebih terasa di masa reformasi. Ayah, ibu, anak, ipar, sepupu, hingga keponakan diungsikan sebagai pejabat. Ada juga kasus keren dalam kasus korupsi pengadaan kitab suci. Si ayah eksekusi di Banggar DPR RI dan si anak menjadi eksekutor proyeknya. Kini mereka saling menjenguk tiap waktu di dalam penjara. Tidak terganggu aturan jam besuk.

Istilah dinasti politik segera menjadi popular. Apa benar politik macam dinasti politik? Apa ini hanya terjadi di Indonesia? Di negara-negara demokratis yang kaya pengalaman, Amerika misalnya fenomena ini biasa terjadi. Ada dinasti politik Kennedy dan Bush yang cukup familiar. Di Filipina ada Aquino, di Malaysia ada dinasti Razak, di India ada dinasti Nehru dan Gandhi. Praktiknya berbeda-beda.

Dilihat dari perspektif sosiologi pengetahuan sangat mungkin lingkungan hidup terdekat sejak kecil mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku. Membenamkan keinginan yang kuat agar bisa hidup seperti orang-orang terdekatnya. Si anak yang sejak kecil ikut acara partai, aktif mendengarkan obrolan ayahnya dengan kawan politiknya, hingga buku-buku yang cenderung homogen tergeletak di rumahnya. Dia terbiasa dengan istilah dan trik politik. Besar kemungkinan menjadi politisi. Ini mirip kisah Cesare Maldini dan Paolo Maldini dalam dunia sepakbola. Keduanya menjadi legenda Milan.

Pokok soalnya, tidak semua anak mau bergumul dengan kehidupan politik orang tua. Sebagian ingin menempuh jalan lain sehingga dia lebih senang mempelajari apapun di luar dunia politik. Tapi dasar orangtua, ada yang punya kehendak memaksa meski usia anak cukup dewasa. Dipaksalah si anak menjadi bupati mengingat ayahnya dibatasi hukum dua periode. Kalau si anak masih terlalu muda, direkayasalah si istri. Kalau perlu istri tua dan muda ditandingkan sekaligus seperti yang pernah terjadi di salah satu kabupaten di Jawa Timur. Siapapun yang menang, sang suami tetaplah bupati de facto. Walhasil, makin kacau-balau seisi republik.

Praktik tadi perlahan tapi pasti mulai menjangkiti sahabat-sahabat saya. Si X misalnya mengajak saudara kandungnya untuk terlibat mengurus sejumlah proyek di instansi yang dipimpinnya. Si Y pun serupa. Sementara si Z yang semua saudara kandungnya belum cukup umur akhirnya melibatkan iparnya. Kapasitas biarlah jadi nomor sekian sebab yang terpenting jangan sampai dituding orang tua tidak peduli dengan si adik. Jangan pula dianggap bikin malu keluarga. Soal malu terhadap masyarakat biarlah tidak mengapa, bukankah semua orang makin terbiasa menistakan kata ‘malu’?.

Sampai di sini, rasanya saya cukup kesal terhadap Mahbub yang gagal mendoktrinasi secara sempurna soal keburukan dari praktik feodalisme. Bub…

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Hikayat Feodalisme, Belajarlah dari Mahbub
Click to comment

Komentar

To Top