Reportoar

Risalah Tentang Rumah Baca

Area parkir disulap mejadi panggung pentas seni. Dengan gambar manusia berkepala toa, mulut menjular panjang keluar, dan tangan menggenggam gadget, yang di mana didalamnya penuh dengan aplikasi-aplikasi media sosial. Banner berukuran raksasa membentang jelas di belakang panggung. Terlihat tulisan besar di pojok kiri atas, perayaan 2 tahun Omah Aksoro. Beberapa rondown acara juga dituliskan, bersamaan tema besar kegiatan, Wabah Media Sosial; Simulakra republik tagar, inflasi budaya komentar. Lapangan parkir Kampus Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Jakarta itu menjadi saksi meriahnya perayaan 2 tahun lahirnya komunitas ini. (25/4).

Omah Aksoro merupakan komunitas literasi yang bermukim di Jakarta. Secara khusus, komunitas ini menyasar pegiat literasi di sekitaran kampus Unusia Jakarta. Meskipun tidak menutup kemungkinan pegiat-pegiat di luar untuk bergabung. Beberapa kegiatan rutin yang dikerjakan dari komunitas ini adalah tadarus buku, malam apresiasi sastra, membuka kelas-kelas menulis, baca puisi, bersenja gurau, dan lain sebagainya.

Karakter kuat dari komunitas ini adalah buku-buku sastra sebagai bahan diskusi, yang kemudian menjadi stempel. Beberapa buku dari penulis besar Indonesia pernah didedahkan. Sebut saja, Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, Trilogi Insiden, Seno Gumira A., Kolom Demi Kolom, Mahbub Djunaidi, Juga Tetralogi Buru, Pramoedya Ananta Toer dan masih banyak lainnya. Jika kalian jauh dari Jakarta, komunitas ini bisa ditemui di rumah virtualnya di alamat omahaksoro.com.

Sejumlah kelompok literasi mulai bergeliat dan berkembang, baik itu yang dikelola oleh pemerintah, perseorangan ataupun komunitas. Yang membahagiakan adalah beberapa pegiat literasi tidak saja berada di pusat-pusat kota besar, tetaapi beberapa diantaranya menembus batas pelosok-pelosok negeri. Bentuk dan caranya bermacam-macam, ada yang membuka lapak di tengah lapangan, membawa buku keliling dengan sepeda, perahu, kuda, dan juga ada yang berjualan siomay sembari membawa tumpukan buku.

Sebut saja, Kampung Kertas yang berada di Lombok Barat, NTB, Klub Baca Perempuan, Sokong, Lombok Utara NTB, Rumah Baca Aneuk Nanggroe yang berada di Aceh, dan lain sebagainya. Mereka ada, dan mengajak anak-anak pedalaman negeri untuk terus membaca.

Dalam upaya meningkatkan minat baca dan tulis, tentu tidak lepas dari pelbagai tantangan dan persoalan. Misalkan saja komunitas-komunitas yang berada di kota-kota besar, mungkin saja terkait materi ataupun akses buku bisa mudah dijumpai. Tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah seberapa sering mereka ke perpustakaan dibandingkan ke bioskop-bioskop?. Begitupun sebaliknya, komunitas-komunitas yang berada di daerah-daerah, pada titik tertentu, jika buku-buku yang disajikan atau dipinjamkan sudah dibaca semua, apakah mereka masih mau membaca kembali? Di mana akses buku begitu langka?. Ini baru bicara soal bahan alias buku, belum lagi yang lain.

Tidak heran jika Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara dalam urusan literasi. Peringkat ini didapatkan berdasarkan hasil survey world’s most literate nation yang disusun Central Connecticut State University tahun 2016. Sementara BPS di tahun 2012 juga melakukan survey tentang minat membaca anak-anak Indonesia. Hasilnya 17,66 persen anak-anak Indonesia mempunyai minat membaca. Sementara anak-anak yang menyukai minat menonton jauh lebih tinggi mencapai 91,67 persen. Sedangkan indeks membaca bangsa Indonesia di tahun 2012 juga hanya 0,001. Itu artinya adalah hanya ada 1 orang yang serius membaca dari 1000 orang.

Pada tanggal 17-19 Mei 2017, litbang Kompas juga melakukan jejak pendapat kepada 512 responden yang tersebar di 14 kota besar di Indonesia. Hasilnyapun tidak jauh dari survey-survey sebelumnya, yakni masih minus soal dunia literasi. Dengan mengumpulkan pendapat lewat telepon, litbang Kompas, pertama menanyakan soal “Apakah di tempat anda ada gerakan literasi?” 52,7 persen menjawab tidak ada, 46,3 persen menjawab ada dan 1 persen tidak tahu.

Kemudian, pertanyaan ke dua adalah soal “Semakin membaik atau burukkah minat membaca dengan hadirnya telepon pintar?”. Jawabannyapun kebanyakan mengatakan negatif. 52,3 persen mengatakan memburuk, 45,5 mengatakan membaik dan 2,2 persen tidak mengetahuinya.

Dari sinilah kita mesti belajar. Jika budaya komentar dan share dari grup sebelah itu mewabah di media-media sosial. Tak ada yang salah dengan itu, dan jangan menyalahkan pula. Mungkin saja atau bisa jadi apa yang mereka lakukan, mereka sendiri tidak menyadari apa sejatinya yang mereka lakukan.

Maka bacalah, baru kemudian sampaikan, bukan like lalu share. Beruntunglah bagi mereka yang mau berfikir.

Wallahu a’lam.

Risalah Tentang Rumah Baca
Click to comment

Komentar

To Top