Puisi

Sejak Subuh Kau Namakan Puisi

Sebuah Acara Religi di Televisi Saat Sahur

Di antara suara-suara doa,
suaramu yang paling jelas terdengar
di ujung subuh yang hampir sudah.

Aku hanyut dalam kata-kata yang percuma,
tentang kebaikan-kebaikan
yang tak kunjung kau laksanakan. Tentang
ayat-ayat suci dan nafsu birahi.

Tapi apalah kebaikan!
Cuma gerimis yang jatuh dari langit
dan hilang di sesap bumi.

Tapi apalah ayat suci!
Suara angin di perbukitan
dan lenyap di resap sepi.

2016

Sejak Subuh Kau Namakan Puisi

Sejak subuh kau namakan puisi,
magrib adalah rindu yang senantiasa
tak selesai dibaca kata-kata.

Dan di jantung puasa, puisi kau
tanamkan dengan percuma. Untuk
semangkuk sup, atau perihal pahala
yang sia-sia.

Orang-orang menamai puasa dengan
dahaga. Menahan segala apa yang
membuat mereka tampak bahagia.

Saat magrib tiba, puasa bagai percuma.
Orang-orang tak henti-hentinya
bahagia, melepas dahaga dengan
dusta.

2016

Sejak Subuh Kau Namakan Puisi
Click to comment

Komentar

To Top