Cerpen

Sebuah Dusta

Entahlah, semua bagaikan mimpi. Kini Ainun sudah terdampar di ibu kota. Semua terjadi begitu saja. Seolah-olah skenario perjalanannya hanya sebuah khayalan yang tak akan mungkin diraih. Tapi inilah kenyataannya. Senyumnya merekah, tapi hatinya kosong. Antara bahagia sekaligus duka dalam batinnya.

Masih kental diingatannya kajadian satu tahun silam, ketika ia masih berdiam di Batam. Batam telah memberikan ia segudang kisah. Dari sinilah matanya terbuka. Oh ternyata dunia ini luas. Dalam pikirannya, dunia mungkin hanya sebatas Sumatra Selatan saja. Dipikirannya dunia hanya mempunyai adat dan watak sama seperti di tempat asalnya  saja.

Lepas tamat madrasah aliyah di salah satu pesantren Pagaralam, SumSel. Ainun mengutarakan keinginannya pada sang bunda untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi. Bunda hanya terdiam, takut jawabannya membuat Ainun terluka. Tapi mau diapakan lagi? uang tak mendukung ingin putrinya.

“Bunda tak punya uang untuk kuliahmu nak”. Ujar bunda lirih tanpa melihat ke arah Ainun. Sungguh dalam hati bunda sangat ingin mengiyakan. Tapi apalah dayanya.

Ainun tersenyum,”Tenang bunda, Ainun diajak oleh salah seorang ustad di pesantren. Beliau mengajakku dan beberapa teman lainnya untuk lanjut kuliah di Batam. Gratis bun, mulai dari biaya kuliah, biaya asrama, biaya makan, dan lainnya. Mungkin untuk pendaftaran kuliah kita menggunakan biaya sendiri, itupun nggak mahal kok bun”, ujar Ainun.

“Ta-ta-ta-pi, Batam kan jauh, nak. Akan butuh waktu lama kamu untuk kembali pulang”. Bunda terbata-bata sambil menitikkan air mata kesedihan.

“Ya namanya juga kita nuntut ilmu bun, mau tidak mau ya harus begitu”, dalih Ainun.

Bunda terdiam. Merangkul sang putri, menangis.

****

Tak urung rupanya Ainun meninggalkan sang bunda. Ia harus rela pergi melihat bulir-bulir air mata suci itu berjatuhan. Tak sanggup rasanya bunda melepas putri semata wayangnya. Ia tahu betul, sang putri adalah sosok yang manja dan selalu ingin diperhatikan. Walaupun selama tiga tahun di pondok pesantren, tetap saja sang bunda harus bolak balik rumah dan pesantren untuk mengunjungi putrinya yang terkenal aktif di sekolah dan agak sedikit jahil itu. Tapi kini mana mungkin?.

Bersama 2 orang teman dan ustadnya yang bernama Budiman Hidayat, Ainun berangkat menuju bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Ainun selalu teringat bunda. Benar atau salah langkahnya kini? keraguan muncul, sesuatu yang akan buruk terjadi kedepannya. Namun Ainun segera menepis bayangan kotornya itu. Kurang ajar!.

Tepat pukul 20.00 WIB, pesawat segera take off menuju Batam. Dengan diiringi taburan bintang malam, Ainun terbawa dengan suasana hatinya yang sedang gelisah bercampur gembira. Bagaimana tidak? ia kini sudah diperjalanan menuju kota yang tidak tahu dia kapan akan kembali dalam pelukan bundanya. Tapi dia harus kejam dengan semua ini, tak bisa bersantai ria layaknya anak konglomerat dan pejabat. Dengan label mendapat beasiswa ini, ia berharap suatu saat bisa membahagiakan sang bunda, berfoto bersama bunda dengan jubah kebanggaan seorang wisudawati. Mimpi Ainun melanglang buana, terbang bersama angan.

Ainun terbangun dari tidurnya. Sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara internasional Hang Nadim. Tak menyangka Ainun menginjakkan kaki di sini, tempat yang tak pernah ia bayangkan bisa mengunjunginya. Aroma baru kota Batam seakan tersenyum mengucapkan selamat datang pada mereka. Tak lama setelah mereka mengambil barang-barang dari bagasi, jemputan datang membawa mereka ke tempat tujuan. Perjalanan tak terasa jauh. Karena selama perjalanan, Ainun dan kawan-kawan asyik bercengkrama dengan sopir yang mengemudi. Bercerita banyak hal tentang kota Batam. Namun keanehan datang dari benak Ainun, ketika mobil membawa mereka ke tempat yang berbeda dari tempat-tempat yang sebelumnya mereka lewati. Karena kondisi waktu itu sedang malam, jadi penglihatannya agak tak nampak. Tapi ini beda, gumam Ainun. Kemana mereka akan dibawa?.

Sesampainya di tempat yang Ainun sendiri tidak tahu apa namanya, tapi yang pasti tempat itu tidak terlalu bersahabat dengan keramaian. Masih banyak pohon-pohon liar di sana-sini, jalannya pun belum dilapisi aspal, masih terasa sekali tanah murni. Mereka berhenti di salah satu gedung, di sana mereka sudah ditunggu oleh beberapa wanita. Tidak seperti dalam pikiran Ainun sebelumnya, ia menyangka bahwa kebanyakan wanita Batam itu adalah perempuan yang menyukai pakaian yang lebih terbuka. Namun kali ini tebakannya meleset. Malah tiga orang wanita yang saat ini berada dihadapannya mengenakan cadar umumnya digunakan oleh perempuan Arab. Entah mengapa Ainun merasakan keanehan, ia berharap sesuatu yang tak baik tak menimpanya. Wajah bunda yang sayu dengan senyuman indah bak madu terus menghantuinya.

*****

“Bohong!! kalian berbohong. Kemarin anda mengatakan bahwa saya dan teman-teman akan ditempatkan di Universitas yang bagus. Tapi apa? lihat! jangankan Universitas terbaik, gedung saja tempat ini belum punya! masih pinjam gedung milik anak esem’a!! jangankan akreditasi, pengakuan dari pemerintah dan dikti saja kampus ini belum dapat! kalian berdalih bahwa kampus ini adalah kampus umat, kampus para kader untuk berdakwah pada masyarakat tentang kebenaran, tapi kalian tidak melihat betapa sakitnya orang tua kami ketika mereka tahu kalau mereka ternyata dibohongi oleh orang-orang seperti kalian!”, Ainun memecah malam.

Ia meluapkan kemarahannya pada ustad yang membawa mereka ke Batam, ustad Budiman Hidayat. Kekecewaannya tak terbendung lagi, hancur sudah harapannya. Sirna sudah senyum sang bunda, Ainun sangat merasa bersalah. Ia rela meninggalkan bundanya demi pendidikan yang telah membohonginya. Ia tahu bahwa berdakwah adalah hal yang mulia, namun bila dari awal saja ia di bohongi, mana mungkin hatinya tenang.

Kemarin ia dan dua orang temannya dibujuk rayu oleh sang ustad, beliau mengatakan bahwa mereka akan ditempatkan di kampus Islam terbaik, fasilitasnya bagus, serba gratis, tempatnya terjaga untuk perempuan, karena kampus itu memang dikhususkan untuk perempuan. Tapi nyatanya? mereka malah ditempatkan di sebuah daerah yang jauh dari keramaian, gedungnya belum milik sendiri, tenaga pengajarnya tak lebih dari dua puluh orang dengan basic yang tak sesuai dengan apa yang mereka ajarkan, jalanannya masih berupa tanah kuning berbongkah-bongkah, tempat tidurnya pun hanya dilapisi karpet. Selebihnya untuk kenyamanan mereka sendiri yang mengatur.

Bahkan untuk sekedar internetan saja mereka tidak diperbolehkan, haram katanya. Lebih banyak mudhoratnya. Izin keluar kampus mereka hanya diberi jatah satu bulan dua kali. Surat kabar tak ada, kecuali majalah milik kampus itu sendiri. Lalu bagaimana otak dan ide kreatif mahasiswa bisa berkembang? Untung untuk masalah asupan makan mereka terpenuhi. Tapi tetap saja mereka merasa dibohongi. Andai dari pertama ustad tersebut mengatakan hal yang sebenarnya tentang kondisi di sini, tentu hatinya tak akan sesakit ini.

Selama lima bulan belajar di Batam, pikiran Ainun hanya dipenuhi kata ingin pulang. Tak kuat hati dan otaknya menerima semua ilmu yang diberikan dosen. Semuanya terasa sia-sia. Dirinya yang dulu selalu ceria dan bersemangat dalam belajar, kini harus menerima kondisi seperti ini dengan lapang dada. Selama ini pula ia meredam rasa kesalnya yang ingin ia sampaikan semua pada bunda. Tapi bukankah ke Batam adalah pilihannya? ia terlalu terbuai dengan kata beasiswa, yang akhirnya membawa diri sendiri terjerumus dalam penyesalan.

Jiwa mudanya bergemuruh, Ainun berpikir bahwa dia harus pergi dari tempat ini. Sampai kapanpun rasanya ia tak bisa menahan gejolak emosi. Ia merasa bahwa ia harus berkembang, tak bisa hanya menunggu suapan ilmu dari dosen yang tak bisa bersamanya 24 jam, karena memang mereka tidak tinggal di tempat mereka berada saat ini.

Ainun meminta pertanggungjawaban dari ustad Budiman, yang telah membohongi ia dan teman-temannya. Tapi ustad Budiman hanya menjawab santai. Seolah-olah ia tiada bersalah, yang membuat Ainun semakin jengkel melihatnya.

“Kalian hanya belum terbiasa. Cobalah untuk mengikhlaskan diri, semuanya akan baik-baik saja. Bukankah berdakwah untuk kebaikan umat itu adalah perbuatan yang mulia?” dalih ustad Budiman.

“Anda mengatakan bahwa dakwah itu mulia. Lalu bagaimana dengan anda sendiri? anda sudah membohongi kami dengan segala kebaikan tempat ini yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan. Anda tidak hanya membohongi kami, tapi juga orang tua kami. Mereka telah lelah berjuang mencari segepok uang demi keberangkatan kami di sini. Tapi apa yang akan mereka dapat nanti? anaknya akan terjun ke lapangan dakwah, sedangkan mereka sendiri masih butuh perhatian dari kami. Kalaupun anda ingin mencari kader untuk berdakwah, kenapa anda tidak membohongi laki-laki saja? bukankah itu lebih baik?” amarah Ainun semakin memuncak. Ia tidak pernah selancang ini dalam berbicara, apalagi di hadapan seorang guru. Tapi sekali lagi Ainun bergumam,’ustad ini berbeda’.

Malam harinya Ainun berdiskusi dengan 2 orang temannya. Mereka semua menangisi nasib yang telah membawa mereka jauh dari orangtua.

“Kita harus pulang”, ujar Ainun disela tangis mereka.

Salah seorang temannya yang bernama Fatimah menyetujui usul Ainun, Fatimah memang sosok yang tidak banyak bicara. Namun akhir-akhir ini ia terlihat agak sedikit cerewet ingin pulang, tidak betah ditempatkan di permukiman yang bahkan bisa dikatakan lebih baik rumahnya. Karena memang Fatimah adalah keturunan orang berada. Entah kenapa ia bisa ikut tergiur dengan perkataan ustad Budiman. Padahal ia bisa saja melanjutkan sekolahnya ditempat yang lebih elit dan jelas keberadaannya.

Berbeda dengan Fatimah. Tuti, teman Ainun yang satunya lagi malah tidak ingin pulang. Ia memilih untuk tetap tinggal di Batam. Ia sangat yakin bahwa berdakwah untuk umat adalah tugasnya. Ia tak peduli jika Ainun dan Fatimah bersikukuh pulang, ia akan tetap tinggal di Batam. Ainun dan Fatimah tak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan Tuti tersebut. Biarlah, itu sudah menjadi kehendaknya. Karena setiap orang punya cara pandang yang berbeda-beda dalam hidupnya. Ini adalah jalan dan pilihan Tuti, maka biarkan ia menyusuri.

Esoknya Ainun dan Fatimah pamit pulang dengan guru dan teman-temannya, termasuk pada ustad Budiman. Beliau hanya melihat mereka berdua sinis, berlalu tak ingin menatap. Tapi itu tak membuat urung Ainun dan Fatimah ingin segera pulang.

Dengan mengambil jadwal pesawat sore sekita pukul 16.00 WIB, Ainun dan Fatimah terbang meninggalkan segala pengalaman pahit yang mereka terima selama 3 bulan di Batam. Ainun ingin mengubur dalam-dalam seolah hal ini tak pernah terjadi. Biarkanlah malam bertarung dengan kegelapan, asal fajar segera menyingsing. Biarkanlah awan bergumpal dengan yang lain, asal menitikkan hujan yang membawa rahmat.

Sebuah Dusta
Click to comment

Komentar

To Top