Celomet

Kaesang, Gerobak Sayur, dan Hate Speech

“Bu, bu, sudah nonton youtube #BapakMintaProyek” Mak Dasimah membuka obrolan

“Yang mana sih, mpok.” Pak Dudung, tukang sayur menyela pembicaraan

“Yang salam kecebong itu lho pak, lagi hits, masak ndak tau?” Mpok Rini menimpali

“Dasar ndeso” Mak Dasimah menungkasi obrolan sembari meniru gaya hormat dan acungan jempol Kaesang

Gerobak sayur, Ia tak pernah telat, selalu tepat pukul delapan pagi ia mangkal. Di bawah lindungan pohon sawo yang tinggal sebiji-bijinya di kampung Pegangsaan, Jakarta, ia hadir, siap melayani kebutuhan warga. Seperti biasa, tak butuh waktu lama jagat gerobak tukang sayur akan dikerumuni.

Ada yang berbeda kali ini, Ibu-ibu tidak lagi bicara soal harga minyak goreng yang naik, atau bawang merah yang harganya terus merangkak. Ibu-ibu kece, bergaya generasi milenial malahan gencar membicarakan soal Kaesang. Iyaa itu lhoo anaknya pak presiden yang doyan nge-vlog. Anak bungsu Jokowi ini dilaporkan oleh Muhammad Hidayat dengan sangkaan ujaran kebencian, lantaran guyonan “ndeso”. Konon ucapan ini yang bikin sakit hati lalu dilaporkan, mblo.

Entah mulai kapan, gerobak sayur ini menjadi pusat pergosipan ibu-ibu kampung. Yang jelas jika kalian sempat beli cabe barang satu ons kalian akan mendapat bonus informasi terhangat di sekitaran kampung. Soal Mas Yono yang gagal kawin lantaran wetonnya tidak cocok, juga Mpok Ijah, tukang pijet bayi kampung yang menambah jasa servisnya dengan buka jasa pasang susuk. Atau kebaperan ibu-ibu atas kegantengan Aliando Syarief di film Ganteng-Ganteng Serigala, yang menjadikan setengah hati membenci Prilly Latuconsina. Tau kan masalahnya? karena Aliando Syarief – Prilly Latuconsina selalu saja mengumbar kemesraan. Emang dasar ndeso.

Untuk itu, bagi kalian yang berprofesi sebagai tim sukses pemilu, entah itu pemilihan RT, RW, lurah, DPR, bupati, gubernur bahkan presiden. Kuasailah jaringan gerobak sayur di kampung-kampung. Di sanalah kalian bisa memberikan Pendidikan propaganda calon kandidat. Tentu pesan itu akan diteruskan dan dibincangkan lewat mulut ke mulut secara efektif oleh ibu-ibu kampung. Mirip iklan sabun colek, irit dan ekonomis. Bisa dipastikan, dalam kampanye tidak ada mama atau papa minta pulsa, biaya iklan tivi atau tagihan komunikasi lainnya. Praktis bukan.

Kembali ke pokok tulisan, mblo. Di sini sebenarnya penulis ingin bicara dua hal saja. Pertama, soal UU Ujaran Kebencian (hate speech) dan yang ke dua, bil hikmah yajlibul maslahah (mohon dikoreksi lewat kolom komentar jika keliru, mblo).

Tentang Ujaran Kebencian (hate speech), mari kita pahami dulu maksudnya, di dalam surat Edaran Kapolri NOMOR SE/06/X/2015 dijelaskan bahwa ujaran kebencian (hate speech) merupakan tindak pidana yang diatur dalam KUHP dan ketentuan pidana lainnya di luar KUHP, yang berbentuk antara lain; penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, memprovokasi, menghasut, menyebarkan berita bohong.

Undang-undang ini seperti permen karet, bisa memanjang. Artinya parameter undang-undang ini tidak ada ukuran pasti. Bagi orang yang baperan akan mudah merasa disakiti, dihina. Jika sedikit saja disinggung, sedikit-sedikit merasa dinista, dicemarkan.

Sejak saya main yoyo sampai sekarang kenal finger spinner, dari jaman kuliah dari kos-kosan, basecamp, sampai mampu sewa kontrakan, saya akrab dengan namanya gojoklan. Ia semacam guyonan yang pedas berjenjang seperti boncabe. Karena hidup kami sudah berat, guyonan sepedas apapun kami memilih ketawa ketimbang mencureng. Kenapa bisa? ini soal pengalaman dan cara pandang. Charlie Chaplin mengatakan, jika dilihat dari dekat memang hidup sebuah tragedi, tapi jika dilihat dari jauh bukankah ia sebuah komedi.

Ujaran kebencian memang harus diatur, apalagi jika kebencian itu diperuntukkan untuk menyerang suatu kelompok, golongan, suku, bukan pribadi-pribadi. Berangkat dari sini, sekali lagi saya setuju.

Tetapi pelanggar ujaran kebencian (hate speech) harusnya seperti pengendara lalu lintas. Jika kamu melanggar rambu-rambu kamu bisa dikenakan tilang, sanksi denda, bukan penjara. Maksudnya dari hukum pidana ke hukum perdata, kalau gak tau perbedaannya, silahkan tanya mbah google, dasar ndeso. Seperti tilang lalu lintas, tentu saja jika kamu mampu bermusyawarah, atau bahasa kerennya pandai berdiplomasi akan ada yang namanya “damai” 50 ribu.

Kedua, bicara soal bil hikmah yajlibul maslahah. Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya, dan orang-orang yang mau berfikirlah yang mampu mengambil hikmah dan menemukan jalan kebaikan.

Jaman memang mengubah banyak hal. Di jaman yang semakin ke sini, semua menjadi serba minimalis, rumah minimalis, mobil minimalis sampai juga muka minimalis. Berbahagialah jomblo yang berjuang di era kekinian, biarpun minimalis, jangan pernah takut untuk mengungkapkan perasaan ke perempuan pujaan. Sekali, dua kali, tiga kali atau bermacam kali ditolak, jangan pernah bersedih dan berhenti, mblo. Justru di sinilah pesta akan digelar.

Karena lidah diciptakan tak bertulang, pastinya di antara bermacam kali itu pasti ada yang menghina-dina kamu mblo, kamu yang bermuka minimalis  maksudnya, saya yakin itu. Bisa jadi ini memenuhi pasal, ujaran kebencian, kelar perkara. Karena kita mencintai kedamaian, tinggallah kamu sodorkan slip tilang biru beserta nomor rekening, tentu saja jangan lupa menuliskan nominal. Tinggal pilih, mau tilang apa damai?

Setelahnya, mari kita ngopi-ngopi mblo, dan hanya orang yang berfikirlah yang mampu mengubah kesedihan menjadi pesta kebahagian. Tabik sudara.

Catatan; Untuk perempuan berhati-hatilah karena orang-orang jomblo selalu mengincarmu. Salam Kecebong.

Kaesang, Gerobak Sayur, dan Hate Speech
Click to comment

Komentar

To Top