Celomet

Surat Terbuka Kepada Tim Perumus Program Full-Day School

Sampai saat ini, menjelang tahun ajaran baru dilaksanakan, persoalan full-day school (FDS) belum menemukan titik temu. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi terlihat ngotot akan melaksanakan FDS di tahun ajaran baru ini. Padahal di sisi seberang, masih banyak pihak yang menyampaikan keberatan penerapan FDS dengan menyajikan berbagai fakta yang mendukung penolakan mereka.

Terlepas dari persoalan di atas, kritik saya, sebagai sebuah program, saya menilai FDS ini tidak direncanakan secara matang. Jika dievaluasi menggunakan salah satu pendekatan model evaluasi program yang ada, model CIPP (context, input, process, dan product) misalnya, saya yakin kita akan temukan banyak kekurangan dalam tahap perencanaan program FDS ini.

Sebagai informasi, evaluasi program adalah sebuah pendekatan yang biasanya digunakan untuk mengevaluasi kualitas suatu program, apakah sudah terencana dengan baik, sehingga pada tahap berikutnya program dapat berjalan secara optimal.

Sebagaimana yang dikatakan Peter H. Rossi dan E. Freemen (1985), untuk memperoleh informasi tentang kualitas suatu program, kita dapat menilai (assessment) dan mengukur (measurement) desain dan pelaksanaan (implementasi) serta manfaat suatu program (Wirawan, 2011) dengan menggunakan salah satu model evaluasi program. Dengan kata lain, evaluasi program dapat membantu kita untuk mengetahui apakah suatu program sudah direncanakan dengan baik dan benar? Apakah pelaksanaan program tersebut sudah berjalan sesuai dengan yang direncanakan? Dan terakhir, apakah program yang dimaksud sudah mampu mencapai tujuan yang diharapkan sebagaimana dirumuskan dalam tahap perencanaan? Kaitannya dengan FDS, tulisan ini baru dapat mengkritisi tahap perencanaan saja, sedangkan tahap proses dan dampak program belum dapat dievaluasi sebab FDS belum dilaksanakan.

Ada banyak model evaluasi program yang dapat digunakan untuk menganalisis tahap perencanaan FDS kali ini. Model CIPP yang saya singgung di atas adalah salah satu model evaluoasi program yang dikembangkan Daniel L. Stufflebeam (1967). Dalam menilai kualitas suatu program, Stafflebeam menekankan ada 4 aspek yang harus dievaluasi, yaitu: aspek context, aspek input, aspek process, dan aspek product, yang disingkat dengan CIPP. Pada tahap perencanaan, perumus program harus mampu mendefinisikan secara operasional masing-masing aspek di atas sekaligus sebelum program dilaksanakan. Lalu bagaimana dengan FDS ini, apakah memang sudah direncanakan dengan matang? Mari kita evaluasi menggunakan model evaluasi CIPP.

Pertama, aspek context, yaitu latar belakang program FDS ini dilaksanakan. Pada aspek ini perumus program harus dapat menggambarkan kondisi atau peristiwa utama apa yang menjadi dasar dibutuhkannya program FDS. Sayangnya, di banyak kesempatan Mendikbud sering tidak jejeg ketika menjelaskan latar belakang atau signifikansi program FDS. Saya mencatat ada 2 (dua) alasan yang secara bergantian sering digunakan Mendikbud saat ditanya latar belakang penerapan FDS, yaitu: untuk memenuhi tuntutan hari dan jam kerja PNS sebagaimana tertuang dalam UU ASN atau untuk penguatan pendidikan karakter peserta didik.

Mengenai alasan pertama tentang jam kerja PNS, sebenarnya sudah terjawab dengan UU Guru dan Dosen yang secara eksplisit mengatur jam kerja guru (yang PNS). Ditambah lagi di Indonesia ini tidak semua guru adalah PNS. Sedangkan alasan kedua tentang penguatan pendidikan karakter, hemat saya ini juga kurang tepat. Saya menilai kalimat penguatan pendidikan karakter ini adalah deskripsi tentang hasil (product) atau kondisi yang ingin kita capai, ingin diciptakan melalui FDS, sehingga harus diletakkan pada rumusan kriteria product atau hasil program. Jadi bukan pada tempatnya jika dijadikan sebagai komponen yang menggambarkan latar belakang program.

Kedua, aspek input. Menurut Stufflebeam, pada aspek ini perumus program harus mampu menentukan kriteria sumberdaya yang digunakan serta rencana dan strategi apa saja yang digunakan supaya tujuan program dapat dicapai secara optimal. Jika pada aspek ini perumus program tidak secara terukur mengurai 2 (dua) komponen di atas, maka akan didapati banyak kendala dalam tahap pelaksanaan (aspek process) program.

Sepanjang pengamatan saya, sejauh ini perumus FDS belum pernah menjelaskan tentang sumberdaya yang dibutuhkan untuk mendukung FDS. Bahkan Mendikbud terkesan menghindari perdebatan tentang ketidakmerataan resourcess yang ada di sekolah. Belum lagi berbicara tentang kebutuhan guru, apakah guru yang ada sekarang sudah mendukung kebutuhan program FDS atau tidak, belum pernah ada penjelasan yang meyakinkan dari tim perumus FDS. Padahal, sebagai informasi, berdasarkan Uji Kompetensi Guru (UKG), profil kompetensi guru yang kita miliki masih di bawah standar. Artinya, aspek input ini pun rasanya belum juga mampu dirumuskan dengan baik oleh perumus FDS.

Ketiga, aspek process. Pada aspek ini, perumus program FDS harus sudah memiliki desain pelaksanaan (process) FDS secara utuh. Hemat saya, ini juga belum dijelaskan dengan detail integrasi antara kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler yang menjadi tulang punggung program FDS. Porsi antara ketiganya masih menjadi misteri. Ditambah lagi, berulangkali Mendikbud menyampaikan FDS tetap akan menggunakan Kurikulum 2013 dengan memodifikasi beberapa hal. Modifikasinya di sisi mana, publik juga belum pernah mendapat penjelasan tentang ini.

Terakhir, keempat, aspek product, yaitu rumusan tentang hasil yang diharapkan jika FDS ini terlaksana. Nah, di sinilah pada tempatnya jika Mendikbud menjelaskan bahwa pelaksanaan FDS adalah untuk melakukan penguatan pendidikan karakter peserta didik. Jika tidak salah menyimak, ada 5 (lima) karakter yang diimpikan Mendikbud dapat ditumbuhkan jika FDS terlaksana, yaitu: religiusitas, nasionalisme, integritas, kemandirian, dan gotong royong. Aspek ini memang belum dapat kita evaluasi saat ini, karena FDS belum terlaksana. Tapi setidaknya sebagai sebuah program, indikator yang menjadi parameter masing-masing karakter juga harus sudah terumus secara operasional (measurable).

Sampai di sini saya meyakini, memang program FDS ini belum waktunya dilaksanakan pada tahun ajaran baru ini. Bagi evaluator, penerapan FDS di tahun ajaran baru ini sangat membahayakan. Perencanaan yang tidak matang di samping akan menyulitkan guru dalam pelaksanaan program, juga akan menyulitkan Mendikbud sendiri jika suatu hari ingin mengevaluasi keberhasilan program FDS dengan membandingkan kondisi aktual dengan kondisi yang diharapkan. Kenapa bisa demikian? Karena tim perumus FDS belum merumuskan secara operasional kriteria/standard keberhasilan aspek context, input, process, dan product program FDS.

Atas dasar pertimbangan di atas, saya pribadi mengusulkan kepada Mendikbud untuk membatalkan penerapan FDS, baik yang tertera dalam Permendikbud No. 23/2017 maupun yang tertera dalam Rancangan Perpres tentang Penguatan Pendidikan Karakter yang baru saja saya baca.

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Surat Terbuka Kepada Tim Perumus Program Full-Day School
Click to comment

Komentar

To Top