Puisi

Seorang Lelaki; untuk Chairil Anwar

Seorang Lelaki;
Untuk Chairil Anwar

Pohon-pohon beku dan seakan kekal
Angin menjelma bentangan bendera kuning
Namun gorden bergetaran menguak sosok;
Seorang lelaki dari rumah Cemara Rindang Tinggi
Sesaat waktu, ada yang berdiam dalam waktu
Lampu yang lindap, sepi yang menatap, tugur
Tubuhmu (kurus bagai puisi) mengarah
Ke balik perigi. menatap jauh ke luar jendela
Jauh ke punggung cakrawala. Ada apa di sana tuan?
Apakah engkau menanti kereta kabut yang setia
Membawamu kembali ke stasiun Karet Bivak?
Ke tanah yang dulu diisyaratkan dingin dan asing

Matamu. O matamu bagai sumur tanpa dasar
Sunyi dan dalam. tajam putih kemerahan.
Kenapa kau hanya diam tuan? kesedihan
Demi kesedihan bersulaman jadi baju keabadianmu
Tapi mengapa engkau tak menangis tuan?
O lihat, langit di dalam dadamu menggugurkan hujan
Dan tak ada yang bisa menerka wajah anginmu.
Tak ada dan tak perlu. Kau, masih saja di sana
Gugur tubuhmu (kurus bagai puisi) mengarah
Ke balik perigi. menatap jauh ke luar jendela
Jauh ke punggung cakrwala
Dirimu seakan masih hidup seribu tahun lagi
Dalam seribu kehidupan

Tuter-tuter bersautan. adakah kau lihat tumpukan
Buku di bangku becak seperti ulah kekerasanmu?
Jalanan melekatkan matahari dan orang menutup diri
Rumah-rumah makan yang menjamur. Lihatkah dirimu
Ada orang yang ususnya pecah karena makan puisi
Atau karena sibuk menghimpun revolusi sekali lagi?
Apakah kau lihat ada orang yang gagah berani
Melepas diri dari barisan hampa dan memilih
Sendirian menyusur sebuah jalan panjang?

Chairil, senja tuntas menyepuh di semenanjung sana
Dermaga kenangan itu kini ditangkup gelap
Gorden telah diam, lampu telah padam
Jendela ku buka. lalu kereta kabut pun tiba;
Menjemputmu ke Stasiun Karet Bivak
Bulan di atas kotaku malam nanti
Akan merasa mati.

Cirebon, 2017

Kaca Benggala

Ada banyak alasan untuk pulang
Tapi rumah selalu menyuruhku pergi
Sambil sedia setia mengirim doa dan cinta
Yang menjelma kuda sumba untuk kutunggangi.
Tapi, barangkali aku hanya penunggang keledai
Suaranya yang buruk telah abadi dalam kitab sebuah agama
Jangan Engkau selesaikan. Biar aku. Aku hanya pinta Engkau
Tanam besi di punggung dan balok es di dadaku
Karuniakan aku air mata di puncak-puncak duka
Sebab kesedihan paling dalam tak sanggup mengirim air mata.
Kupinta padamu agar ku jadi angin, jadi api, jadi air
Agar segala gerakku adalah kehendakmu
Kupinta padamu bukakan mata kedalaman bagiku
Agar bisa kulihat di lorong, di kolong, di bantaran
Di sepanjang jalan, atau di rumah angin mereka
Yang dipental peradaban dan
Jadi angka-angka oleh sejarah
Hanya mereka kaca benggala
Pada keperkasaan mereka
Hatiku yang lemah
Berlabuh dan belajar
Membentangkan
Layar.

Indramayu, 2017

Yang dari Jauh untuk Ibu

Ibu, aku masih mesti berjalan terus
Menyusuri sebuah jalan memanjang
Melewati musim demi musim
Meski kesakitan dan kesepian
Seolah tak bisa pernah habis kureguk
Namun aku tetap berjalan terus, ibu
Hanya karena doamu di subuh yang teduh
Senantiasa memburu kemanapun pergi langkah ini
Meneteskan putik-putik embun di dadaku

Ibu, bukankah hidup
Adalah soal datang dan pergi?
Yang datang datanglah
Yang pergi pergilah
Tak perlu ada yang mesti dikekalkan
Tak perlu tertawa saat gembira
Tak perlu menangis saat bersedih
Semua datang sewajarnya
Semua akan dijemput nasibnya
Dan segalanya tak mengaggetkan lagi
Darimu ibu, aku belajar tenang seperti telaga

Bunga-bunga jambu berguguran di kepalaku
Burung-burung gereja bercumbu di tangkainya
Lalu aku mengerti, bahwa aku tak sendiri
Maka, ibu, aku masih mesti berjalan terus
Menyusuri sebuah jalan memanjang
Melewati musim demi musim.

Cirebon, 2017

*) Penulis adalah pegiat sastra di komunitas “Senja Sastra” Cirebon

Seorang Lelaki; untuk Chairil Anwar
Click to comment

Komentar

To Top