Celomet

Hak Angket; Cinta FH dan Rindu Tsamara

Bila cinta pasti ada usaha dan bila jodoh pasti tak akan ke mana adalah ungkapan yang tepat untuk orang-orang yang tak pernah menyerah pada keadaan. Cinta akan mengajarkan usaha mati-matian dan mati beneran meski jodoh adalah kekuatan yang menegaskan setiap orang hidup berpasang-pasangan. Benar tidak? Kalau tidak semoga segera mendapat pencerahan.

Hari sebelumnya, hari-hari ini dan hari-hari pada masa yang akan datang, perdebatan politisi Indonesia sesungguhnya adalah pengejawantahan dari rasa cinta, kasih sayang dan rindu yang selalu menggema dalam diri mereka. Mereka cinta profesi mereka sebagai politisi, mereka menyayangi sesama dan merindui teman-teman yang telah tiada, baik meninggal maupun di penjara karena kasus-kasus pidana.

Jika akhir-akhir ini ada dua kekuatan yang sama-sama membahas tentang KPK, adalah bagian dari rasa yang mereka tafsirkan lalu termuat dalam pernyataan-pernyataan. Semoga kesimpulan sementara ini tak salah, ada dua kekuatan yang kemudian menjelaskan bahwa angket KPK adalah bagian dari cara mereka menjelaskan pribadi masing-masing. Di sisi lain di wakili Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR non partai dan Tsamara, anak muda anggota partai baru tapi belum menjadi anggota dewan, apalagi wakil ketua DPR.

Pertarungan mereka tak hanya di dunia maya, aksi dan televisi. Mereka saling menjejaki para petani, pedagang sayuran, ojek pangkalan, ojek online atau profesi apapun, termasuk pengamat warkop yang siap menyimak perdebatan mereka. Hingga kemudian muncul asumsi saling menggurui dan berbagi.

Jadi, kita sebagai rakyat biasa, bisa jadi salah paham dengan sikap DPR dalam membuat hak angket untuk KPK. Bagaimana tidak, apa yang mereka lakukan atas nama hukum sesunguhnya rasa dan beban yang mereka rasakan, tapi tak bisa di jelaskan pada rakyat jelata. Mereka mencintai profesi mereka dengan sepenuh hati. Mereka peduli sesama anggota dan mantan-mantan anggota yang menjadi narapida. Jadi, apa yang mereka lakukan adalah bagian dari rasa peduli sesama, sesama anggota.

Hak angket adalah cinta sejati yang selalu bersemi antara sesama anggota yang terhormat dan jarang bijak. Tumbuh dan berkembang dalam kubangan yang sulit di jelaskan. Itu-itu saja dan begitu-begitu saja. Mungkin ada yang lebih baik, ada yang lebih hebat dan pandai tapi tak banyak. Lama-lama bosan dan pasti membosankan.

Sebagai orang yang aktif memilih saat Pileg, Pilpres atau Pilkada, kecuali saat bepergian dan atau bangun kesiangan, cinta mereka adalah ciri dan identitas dari cinta sejati. Cinta yang tak bisa ditukar dengan suara rakyat, kebenaran, keadilan dan kemanusiaan. Bagi mereka, cinta adalah cinta dan rindu sesama anggota meski telah di penjara adalah kutipan abadi yang harus dan layak dikenang. Jadi kita jangan gumun, jika pansus hak angket berkunjung ke Sukamiskin untuk mewawancarai teman kolega tentang proses yang mereka hadapi saat di KPK, baik sebagai saksi maupun tersangka korupsi.

Di sisi lain, generasi lain, dan yang kayaknya berlainan jenis juga memiliki rindu pada masa yang akan datang. mereka punya mimpi besar untuk Indonesia yang lebih baik dan ingin memperbaikinya. kelompok ini yakin dan berjuang bahwa negara ini gagal membangun mental, infrastuktur, ketimpangan sosial, kemiskinan dan lain sebagainya adalah karena banyak koruptor di birokrasi dan sistem yang diakali dan dikangkangi. Mereka masih yakin dan meyakinkan jika penegakkan hukum adalah solusi pas dan jitu untuk membangun negara ini.

Kelompok ini juga tak kalah banyak dibadingkan kelompok yang di wakili Fahri Hamzah, Tsamara, anak muda milenial, saya anggap cukup untuk mewakili kelompok ini. Dia dan mereka bahu membahu meski tak pernah tukar bahu. Beraksi dari aksi ke aksi penuh saksi untuk menegaskan bahwa hak angket KPK adalah bagian dari strategi anggota DPR yang kelewat batas untuk melemahkan KPK. Cinta mereka pada lembaga dan kepedulian antar sesama yang berlebihan membuat KPK menjadi ancaman. Sampai saat ini, banyak teman-teman sesama anggota dewan yang merasakan ganasnya KPK.

Tsamara yang pernah disebut masih anak bau kencur dan aktif di partai bawang dan tokoh-tokoh lain melawan dengan lantang. Dia yakin dan rindu Indonesia yang jaya, merdeka dan penuh wibawa di antara negara-negara adidaya. Dia yakin, Indonesia bisa dan bisa lebih baik karena anak muda adalah masa depan negara. Dan salah satu cara utama membangun negeri ini adalah dengan penegakkan hukum pada koruptor baik di kalangan birokrat, politisi, pengusaha atau siapapun yang terbukti melanggar hukum dan korupsi.

Menurut perindu Indonesia pada masa depan “Uang negara ini sudah menganggarkan semua kebutuhannya, masak anggaran rakyat masih dikorupsi juga. Kan aneh. Mbok ya, kalau anggaran sendiri kurang ditambah sendiri. Merekakan suka-suka. Jan kebangetan!!”

Pada akhirnya kita harus adil seadil-adilnya dalam bersikap pada kasus hak angket, bahwa Fahri Hamzah dan Tsamara memiliki niat baik dan mulia. Fahri Hamzah hadir sebagai orang yang peduli sesama dan cinta profesi sedangkan Tsamara rindu akan negaranya yang wibawa dan jauh dari rongrongan koruptor. Jadi tak ada yang baik dan buruk dari sikap mereka. Tentang baik dan buruk adalah dampak dari sikap mereka.

Dari sekian perdebatan panjang itu, ada satu hal kenapa Tsamara terasa di atas angin dan tak terlalu panas menghadapi Fahri Hamzah, karena dia masih bau kencur dan kalah kelas dengan lawan tanding. Prinsip “Menang kondang kalah tak malu” rupanya sangat dipahami. Sedangkan bagi Fahri Hamzah, sebagai politisi senior dan mantan aktifis mahasiswa yang terkenal, melawan Tsamara sesungguhnya adalah simalakama, “Kalah isin menang tak terkenal”. Tapi sebagai politisi, apapun kondisinya, tak boleh kalah eksistensi dan kehadirannya. []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Hak Angket; Cinta FH dan Rindu Tsamara
Click to comment

Komentar

To Top