Resensi

Muhammad SAW dalam Ramalan Kitab Suci Agama-Agama

Wajib dibaca! Demikian kesan peresensi ketika membaca buku yang berjudul Ramalan Tentang Muhammad Saw dalam Kitab Suci Agama Zoroaster, Hindu, Buddha, dan Kristen. Tidak hanya ulama, mualaf, cendekiawan, kristolog an sich, namun siapa saja yang sedang berproses mencari kebenaran. Pasalnya, buku ini adalah sebuah respon dari kegalauan umat beragama selama ini, mengenai siapa sebenarnya sosok Nabi akhiruzzaman. Nabi yang melanjutkan misi dari nabi-nabi sebelumnya.

Tentu dalam hal ini, sosok Muhammad Saw sudah diramalkan oleh semua kitab-kitab suci agama. Akan tetapi, dalam istilah kitab suci agama, penyebutannya berbeda-beda, tidak begitu jelas dengan nama “Muhammad Saw”. Dalam Bibel misalnya, Muhammad disebut dengan nama Himda. Dalam Zend Avesta, buku yang diakui ditulis oleh Zaratushtra (agama Zoroaster), Muhammad disebutnya dengan istilah Astvatereta atau Soeshyant(rahmat bagi dunia). Dalam kitab suci agama Hindu, Muhammad disebut sebagai Narashansah Astvishyate (Muhammad yang terpuji dan diagungkan). Sementara dalam kitab suci agama Buddha disebutkan akan datang sang Buddha Maitreya (ada juga yang menulisnya Metteyya).

Dari beragamnya penyebutan istilah untuk Muhammad Saw semakin menegaskan bahwa ramalan (baca: nubuat) yang ada dalam kitab suci agama-agama tersebut merupakan suatu bukti kebenaran akan datangnya sang juru selamat. Hanya saja perdebatan yang selalu muncul di tengah umat beragama adalah sebatas perbedaan istilah saja. Namun semuanya sepakat bahwa akan datang Nabi akhir zaman yang membawa misi keselamatan, kedamaian, dan rahmat seluruh alam.

Bila disadari, dari beberapa teks kitab suci agama akan ditemukan sebuah persamaan antara ajaran-ajaran oleh agama sebelumnya. Namun terkadang orang cenderung berpikir bahwa kitab yang diturunkan belakangan telah mencontek (copy paste) kitab sebelumnya. Dalam hal ini perlu kita tahu bahwa Tuhan yang telah menurunkan hidayah kepada satu orang nabi dan kaumnya pun juga bisa menurunkan hidayah yang sama kepada nabi dan kaum yang lain. Jadi, kemungkinannya sangat kecil adanya imitasi dan reproduksi ajaran. Apalagi mencontek atau terjadi plagiasi dalam kitab suci.

Dari rentetan ajaran (baca: syariat) yang diajarkan oleh nabinya, telah mempunyai aturan sendiri-sendiri. Namun semuanya sepakat untuk menyembah Tuhan yang Maha Agung. Dan Tuhan pun telah menganugrahkan makhluk-Nya dengan cahaya lahir dan batin. Tuhan memberi “Api” kepada Zoroaster yang kemudian digunakan untuk menerangi negara yang sekarang dikenal sebagai Iran. Tuhan juga memberi Bani Israel “Bintang Fajar” (dalam pribadi Isa Al-Masih) untuk membawa petunjuk bagi mereka, dan Tuhan juga memunculkan Krishna Chandra atau “Rembulan”, bagi bangsa India, untuk memberi cahaya kepada kaumnya. Namun yang perlu kita perhatikan adalah semua tokoh penting tersebut, mulai dari Zoroaster sang Api, Kristus sang Bintang Fajar, dan Krishna sang Rembulan, telah bernubuat tentang kemunculan ‘Matahari Terang’ yang akan menggenapkan mereka semua dalam wujud Muhammad. (hal. 12-13)

Sebab itu, sebagai umat beragama yang bajik, kita disadarkan oleh buku ini. Tidak ada  alasan yang cukup kuat di antara kita untuk melakukan perselisihan atas nama agama. Apalagi sampai menjadikan kitab sucinya sebagai legitimasi dalam melakukan kekerasan. Tidak ada alasan yang kuat bagi kita untuk melakukan penghinaan atau penodaan (intoleran) terhadap umat agama lain hanya karena mereka berbeda agama/keyakinan dengan kita.

Karenanya, buku ini mencoba mengetengahkan pelbagai persoalan dan perselisihan yang terjadi selama ini. Bukan bermaksud menonjolkan satu agama di atas agama lain. Justru kehadiran buku yang ditulis oleh Abdul Haq Vidyarthi dan ‘Abdul Ahad Dawud ini bisa menjadi titik temu atau menjadi jalan terbuka untuk dialog antar umat beragama. Bahwasannya Nabi Muhammad Saw adalah nabi yang dimiliki oleh semua umat manusia. Di dalam al-Qur’an disebutnya dengan istilah rahmatan lil ‘alamin (QS. Al-Anbiya’ (21): 107). Bukan hanya dikhususkan kepada rahmatan lil muslimin.

Menjadi menarik, manakala buku ini ditulis oleh seorang mantan pastor Katolik Roma dari Gereja Katolik Uniat Kadim. Sebelum memeluk Islam, ‘Abdul Ahad Dawud mempunyai nama asli Romo David Benjamin Keldani, B.D. Ia merupakan sosok yang kritis. Beberapa kali Romo David dalam khutbahnya sering menyinggung persoalan-persoalan sensitif. Kegalaun dan keganjilan telah ia temukan dalam memahami kitab sucinya pada waktu itu. Sehingga puncaknya ketika dia beberapa kali bertukar pikiran dengan Shaikhul Islam Jamaludin Effendi dan beberapa ulama’ lain, yang akhirnya mengantarkan Romo David memeluk Islam.

Jadi, hemat saya, buku ini merupakan kolaborasi apik dari dua tokoh agamawan yang memang benar-benar mengkaji kitab sucinya secara mendalam dan obyektif. Buku asli dengan judul Muhammad in Word Scriptures; The Bible menjadi bukti dari kekritisan Romo David. Sementara Abdul Haq Vidyarthi meneliti ramalan Muhammad Saw dari kitab suci agama non-samawi (Zoroaster, Hindu, dan Buddha). Dengan begitu menjadikan buku ini semakin berisi dengan kajiannya yang mendalam.

Pernah dimuat di blog pribadi penulis ngautad.blogspot.co.id

Peresensi; Autad An Nasher, mahasiswa Jurusan Agama Filsafat-Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Data Buku :
Judul                : Ramalan Tentang Muhammad Saw dalam Kitab Suci Agama Zoroaster, Hindu, Buddha, dan Kristen
Penulis             : Abdul Haq Vidyarthi dan Abdul Ahad Dawud
Cetakan            : I, Agustus 2013
Penerbit           : Noura Books

Muhammad SAW dalam Ramalan Kitab Suci Agama-Agama
Click to comment

Komentar

To Top