Celomet

Surat Rindu untuk Bung Mahbub

Alangkah bahagianya mendengar kabar kalau tepat pada hari ini, Kamis, 27 Juli 2017 adalah pernah menjadi hari yang sangat begitu spesial bagimu, Bung! Meskipun Bung bukanlah seorang dokter spesialis, tak menjadi apa kalau 27 Juli itu menjadi hari yang spesial. Tak lain dan tak bukan, kalau tak salah, 84 tahun silam Bung dilahirkan di muka bumi ini. Masih ingatkah, Bung? Kira-kira ekspresi atau adegan apa yang pertama kali Bung lakukan?

Namun, benar, hidup ini hanyalah bagaikan pesta, Bung. Perayaan dan perjamuan yang berlangsung sangat singkat. Bahkan banyak adagium yang menggambarkan singkatnya hidup ini. Hidup hanyalah sebatas mampir untuk minum. Hidup hanyalah sebatas mampir membaca. Hidup hanyalah sebatas mampir untuk ngopi. Atau bahkan, ada juga yang mengatakan bahwasannya hidup hanyalah sebatas mampir untuk tertawa. Tanggal 1 Oktober 1995, kau meninggalkan kita, Bung. Saat itu waktumu berpesta dan bekerja di dunia dicukupkan oleh Tuhan. Itulah, takdir, Bung. Barangkali Tuhan menilai caramu dalam mengekspresikan tawa dan berapa kali jumlahmu dalam minum kopi di dunia sudah cukup.

Dan benar perkataan yang pernah kau ucapkan kepada kami, “pesta sudah usai, pekerjaan belum selesai”. Setelah pestamu usai, kini pekerjaan-pekerjaan di masamu, ada yang sudah bisa terselesaikan, namun tak sedikit juga yang tidak bisa terselesaikan hingga hari ini. Pada hari ini, izinkanlah diriku, bersama kawan-kawanku, sahabat-sahabatku, teman-temanku maupun kolega-kolegaku untuk sejenak melepas rindu dengan Bung. Pun, akan kami ceritakan perihal yang kiranya perlu diketahui pasca Bung meninggalkan kami.

Bung! Masih ingatkah akan esai berjudul “Kecuali” yang pernah kau tulis dalam kolom Asal Usul, Harian Kompas, 30 November 1986 silam? Kalau tak salah, kala itu Bung banyak mengupas secara tuntas tentang “Lestari”. Pertama, Bung menceritakan akan tetangga Bung yang bernama Sri Lestari. Meskipun dalam namanya ada “Lestari”, sama sekali tak bisa dianggap lestari selamanya. Pacarnya sering berganti, waktunya kalau meminjam bahasa anak kuliah bagaikan bayar uang kuliah tunggal, yakni berganti tiap semester. Hewan kesukaannya pun tidak pernah lestari. Bergonta-ganti dalam beberapa waktu. Mulai dari kucing. Burung kutilang. Burung parkit. Hingga salah satu ikan yang bernama nirwana.

Walhasil, Bung melakukan percakapan dengan salah seorang kawan, dia menyebutkan tentang lestari dalam makna sebenar-benarnya lestari. Betul! Bung mendengarkan seorang kawan yang berpidato ihwal kereta api, kendaraan besi yang menjadi bagian monopoli pemerintah. Yang dimana, suka atau tidak suka, kita mesti naik kereta api itu. Bersih atau kotor, kita mesti telan dengan pasrah. Bahkan terlambat atau tak kebagian tempat duduk pun kita mesti tersenyum saja. Dari percakapan itu, kita bisa menarik kesimpulan bahwa yang lestari itu hanyalah nasi goreng di atas restorasi kereta api. Karena rasanya abadi, netral. Tidak pedas. Tidak asin. Tidak manis. Tidak pahit. Dan juga tidak gurih.

Namun, untuk saat ini, perlu Bung ketahui. Di negeri yang masih menganut demokrasi ini setidaknya ada satu kebiasaan aneh dan menjengkelkan. Tak sedikit pula, banyak orang yang berupaya untuk terus melestarikan kebiasaan itu. Mending kebiasaan baik. Itu kebiasaan buruk, Bung. Kebiasaan itu biasa dilakukan oleh mereka yang memiliki jabatan tinggi di struktur pemerintahan. Bisa DPR. Bisa DPRD. Bisa DPD. Bisa orang yang menduduki di kementerian. Bisa lurah. Bisa Bupati. Bisa Gubernur. Bahkan, bisa juga dilakukan oleh Presiden. Kebiasaan itu ialah korupsi, Bung. Yang kian hari semakin menjadi-jadi. Membuat banyak orang rugi. Apa mungkin itu juga akan lestari? Ah, entahlah, Bung. Semoga saja tidak. Biarlah nasi-nasi goreng yang ada di restorasi saja yang terus lestari.

Yang terbaru? Bung perlu tahu, hari-hari terakhir banyak pejabat di struktur pemerintah yang sedang kejang-kejang. Bukan karena penyakit demam. Bukan karena penyakit jantung. Juga bukan karena jatuh saat bermain sepakbola. Tapi apa? Dengar-dengar sih banyak tersangkut kasus. Kasus apa? Iya kasus sebagaimana telah aku ceritakan tadi, Bung. Korupsi? Iya. Entah mengapa dan bagaimana ini bisa terjadi? Beberapa waktu yang lalu aku berkesempatan ngobrol dengan temanku yang bernama Sri Lestari juga. Sekarang dia bekerja menjadi pelayan di restorasi dari salah satu kereta api jurusan Solo-Jakarta. Dia cantik dan menawan. Parasnya menarik. Hidungnya mancung. Senyumnya sangat begitu manis. Sayangnya, minggu depan dia mau melaksanakan akad nikah dan merayakan pesta pernikahan, tentunya. Dia menitipkan salam dan pesan untuk Bung. Pesan dia kurang lebih begini: “sekarang sedikit demi sedikit nasi goreng di restorasi kereta api tidak seperti yang digambarkan kawan Bung dahulu kala itu, yang lestari dengan rasa netralnya. Sekarang, yang lestari di Indonesia hari ini adalah budaya korupsi di kalangan pejabat tinggi maupun pejabat yang belum tinggi.”

Aku terdiam dalam beberapa saat. Sebelum kemudian datanglah seorang pria gagah perkasa. Memakai celana panjang yang berwarna hitam. Berjas dengan sangat rapinya disertai dengan memakai dasi. Bersepatu layaknya pegawai kantoran. Dari kejauhan kukira dia salah satu petugas keamanan yang biasa memeriksa dan mengecek tiket para penumpang kereta satu per satu. Ternyata bukan. Dalam jarak yang cukup dekat aku mendapatinya melepas jasnya. Dibalik jasnya itu dia ternyata mengenakan kaos. Alangkah kagetnya, di bagian depan kaosnya bertuliskan kurang lebih seperti ini, Apabila seorang anak sudah duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, paling lambat di kelas 6, ajaklah dia ke kebun binatang. Begitu menginjak pintu gerbang segera bisikkan di kupingnya, “Kamu tidak mau dijebloskan ke dalam kandang seperti makhluk-makhluk itu, bukan?” Nah, jadilah kamu manusia yang paham politik. Manusia yang tidak berpolitik itu namanya binatang, dan binatang yang berpolitik itu namanya manusia.”

Lantas, apa yang ia lakukan? Ia menyuruhku untuk berhenti menyudahi menulis surat yang sejatinya kutujukan kepada Bung. Dia mengajakku turun di Stasiun Pasar Senen dan kemudian mengajakku untuk melanjutkan perjalanan ke Taman Safari Indonesia. Dalam pikirku, pasti ada kaitannya dengan tulisan yang ada di bagian depan kaosnya itu. Di sisi lain aku juga membatin bahwasannya aku bukanlah anak SD yang sedang berada di kelas 5 atau bahkan kelas 6. Tapi kenyataannya dia mengajakku betul untuk masuk ke salah satu kebun binatang yang berada di Bogor itu.

“Sudahi dulu suratmu kepada Bung itu! Kita masuk ke kebun binatang ini. Biar tahu apa politik itu yang sebenarnya. Sudah bukan persoalan umur lagi untuk kali ini,” ucapnya.

“Iya, sudah. Baiklah kalau begitu,” ucapku. Baru kemudian setelah keluar dari kebun binatang, kulipat secarik kertas itu dan kumasukkan kedalam amplop. Kukirim bersamaan dengan beberapa kepingan senja sisa dari potongan Seno Gumira Ajidarma itu. Kemudian kuminta tolong pada tukang pos untuk mengirimkannya. Kuberharap semoga sampai kepada Bung. Di dalam bagian depan amlop kutulisi, “selamat hari lahir yang ke-84 untuk Bung! Kami rindu pada Bung Mahbub!”.

Al Fatihah…. []

*) Tulisan ini didedikasikan untuk Sahabat Mahbub Djunaidi sebagai Ketua PMII (1960 – 1967) yang pada tanggal 27 Juli 2017 merupakan hari lahir yang ke-84 nya

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Surat Rindu untuk Bung Mahbub
Click to comment

Komentar

To Top