Celomet

Happy Birthday Bub, Kado Sederhana dari Kami

“Selaku penulis saya ini generalis, bukan spesialis. Saya menulis ihwal apa saja yang lewat depan mata. Persis tukang loak yang menjual apa saja yang bisa dipikul.”

Apakah di antara pembaca mengetahui H. Mahbub Djunaidi sebelum duduk di bangku kuliah atau bergabung dengan organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia (PMII)? Jika jawabannya “iya” itu adalah keberuntungan tersendiri bagi anda. Karena penulis mengetahui Bung Mahbub setelah bergabung dengan PMII. Itupun hanya sekedar tahu kalau beliau adalah salah satu pendiri organisasi dan ketua umum pertama.

Bergabung di PMII pada tahun 2013, tetapi membaca buku-buku karya Bung Mahbub atau buku tentang beliau yang ditulis orang lain baru empat tahun berikutnya, atau lebih tepatnya tanggal 16 Juli 2017. Itulah sedikit kisah penulis mengenal Bung Mahbub, bisa dikatakan miris. Oleh karena itu, penulis belum berani mendaku sebagai pengagum dari beliau. Bagi penulis butuh waktu panjang untuk mendaku dirinya pengagum dari penikmat rokok kretek yang satu ini. Setidaknya untuk mengklaim pengagumnya harus membaca berulang-ulang buku karyanya: Asal Usul, Kolom demi Kolom, Dari Hari ke Hari, Angin Musim, Politik Tingkat Tinggi Kampus. Ada juga beberapa buku asing yang beliau terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan buku-buku tentang beliau yang ditulis oleh sahabat-sahabatnya. Atau bahkan juga melakukan wawancara dengan orang-orang terdekat dari beliau.

Nasionalis-Religius

Bung Mahbub adalah figur nasionalis sejati di samping juga religius, jiwa nasionalis beliau memang tidak bisa terbantahkan—berbicara di forum internasional dengan menggunakan bahasa Indonesia, menulis di koran “Duta Masyarakat” dengan isi: Pancasila lebih agung dari deklrasi kemerdekaan Amerika Serikat dan Manifesto Komunis, kemudian dari tulisan tersebut Bung Karno yang waktu itu menjabat sebagai presiden mengundangnya ke istana negara.

Ridwan Saidi (salah satu sahabat) juga memperlihatkan sifat nasionalis dan kekaguman Bung Mahbub terhadap Bung Karno saat keduanya berbincang singkat, “Wan, rakyat perlu dididik politik, mereka mesti tahu, neokolim itu brengsek. Bung Karno, Wan yang bener.” Ungkap Bung Mahbub kepada Ridwan Saidi. Kekaguman beliau terhadap Bung Karno semakin tidak terbantahkan, dengan menduduki posisi “Ketua Majelis Pendidikan Yayasan Pendidikan Soekarno” sampai wafat. Bahkan Rachmawati Soekarno (anak kelima Bung Karno dari pernikahannya dengan Fatmawati) menjuluki Bung Mahbub sebagai salah seorang pendekar pelaksana ajaran Bung Karno.

Perihal ke-religius-an Bung Mahbub tidak bisa dibantah lagi. Beliau mendapatkan pendidikan agama langsung dari ayahnya dengan kultur Islam Nadhatul Ulama (NU), yang bernama  K.H.M. Djunaidi. Sejak kecil Bung Mahbub sudah didisiplinkan oleh ayahnya untuk sholat lima waktu tepat setelah adzan, bahkan di umur beliau yang masih tujuh tahun sudah diangkat sebagai asisten muazin dan penabuh beduk. Dari kultur NU itu membawanya aktif di beberapa organisasi terkait semasa muda sampai tua, beberapa organisasi yang pernah ia ikuti.

“…Tahun 1950-1960-an dia terjun di IPPI, memimpin IPNU, turut dalam PB HMI, mendirikan PMII dan menjadi ketua umumnya selama 7 tahun. Dalam Jamiyah NU, dia pernah menduduki sejumlah jabatan, dari Ketua GP Ansor sampai wakil ketua PBNU (1984-1989) dan Mustasyar PBNU (1989-1994).”

Dedikasi Bung Mahbub kepada organisasi NU tidak bisa diragukan lagi, pemikiran yang kritis dan memiliki jiwa kepemimpinan dituangkannya dalam bait-bait mars PMII dan GP Ansor.

Idealisme dan Kritisisme

Jika manusia dan pemuda Indonesia (tidak semua) saat ini royokan jabatan dan hidup mewah di atas penderitaan rakyat. Maka, Bung Mahbub di era presiden Soeharto lebih memilih menjauh dari lingkaran kekuasaan dan selalu melakukan kritik. Padahal, jika beliau mau bisa menjadi menteri, wakil gubernur, dan berbagai tawaran jabatan lainnya. Sampai pada puncaknya akibat kritik keras terhadap rezim orde baru beliau dipenjara pada tahun 1978. Sikap menjauh dari rezim ini diungkapkan oleh anakanya yang bernama Fairuz Mahbub Djunaidi kepada Umar Said (salah satu sahabat Bung Mahbub dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia era Bung Karno). Kemudian perbincangan dengan Fairuz ditulis oleh Umar Said.

“Apakah situasi yang kemudian itu merupakan faktor sehingga Mahbub mengambil sikap politik yang miring terhadap orde baru, sehingga ia terpaksa harus mengalami penahan dalam penjara? Kelihatannya memang ya, demikian. Fairuz menceritakan betapa gencarnya godaan-godaan yang harus dilawan oleh Mahbub waktu itu. Ada yang mengajaknya untuk berbisnis, umpanya, dan antara lain, dalam soal-mencetak dan distribusi kitab suci al-Quran. Di Kementrian Agama ada proyek-proyek basah yang bisa mendatangkan uang dengan gampang. Sebagian teman-temannya ada yang sudah menempuh jalan itu, dan menjadi kaya. Tetapi, rupanya Mahbub tidak mau terserat dalam kegiatan haram semacam itu. Ia memilih jalan yang lain, yang halal dan sesuai dengan suara hati-nuraninya.”

Humor dan Pena

Julukan “Pendekar Pena” yang disematkan kepada beliau memang pantas adanya. Beliau sudah aktif atau bahkan cinta terhadap bidang penulisan sudah sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama hingga akhir hayatnya. Keaktifan beliau mengisi rubrik mingguan Asal Usul, Koran Kompas, yang bertajuk kritik terhadap sosial, politik, budaya dengan gaya humor tahun 1986 sampai empat bulan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, menjustifikasi pernyataannya, bahwa “Saya akan menulis dan terus menulis hingga saya tak mampu lagi menulis.”

Salah satu kritik Bung Mahbub terhadap orde baru di rubrik Asal Usul, ialah perihal tanda tahanan politik di kolom Kartu Tanda Penduduk (rakyat yang bebas dari penjara akibat dianggap menggangu stabilitas negara atau “diklaim sebagai antek-komunis) dengan diberi judul Eks Tapol terbit pada tanggal 28 Desember 1993, berikut kalimat singkatnya:

Tekadnya sudah bulat jadi pegawai Pemda. Siapa tahu nasib baik bisa jadi Gubernur, atau Mendagri.

Tapi kerikil ada di mana-mana. Karena kawan-kawan sekerja mengkritiknya berbini anak tapol, ia berpikir keras. Walau ia tahu persis bininya tak tahu apa-apa, tak tahu apakah Karl Marx itu sebangsa manusia atau jenis mobil, maka diajaknya sang bini bicara baik-baik. Demi kelancaran tugas, sebaiknya kita bercerai saja.

Satir dalam penulisan bisa dibilang itu akibat dari sifat humor, tanggung jawab, dan kejujuran, Bung Mahbub. Salah satu kejadian dikisahkan oleh Ridwan Saidi mengambarkan sifat Bung Mahbub tersebut.

Ia tidak pernah menganggap enteng apa yang menjadi hak orang lain. Walau hari menunjukkan pukul 23.00 malam, Mahbub mengetuk-ngetuk rumah sahabatnya sekedar untuk mengantarkan lusinan botol kecap titipan. Seraya membuka pintu saya berbasi-basi, “kok malam-malam begini bela-belain mengantar kecap.” Dengan enteng Mahbub menjawab, “kalau gue kagak anter sekarang, gue khawatir lu kagak bisa tidur mikirn kecap.”

Bung Mahbub dan Bung Pramoedya

Penulis di sini sedikit mengetahui detail awal perkenalan dari dua penulis besar Indonesia ini. Tapi, ini salah satu hal penting yang harus diketahui publik tentang Bung Mahbub. Penulis  hanya mendapatkan sumber dari buku “Sketsa Kehidupan dan Surat-surat Pribadi Sang Pendekar Pena: Mahbub Djunaidi”. Bung Mahbub di dalam buku tersebut mengungkapkan, bahwa “Nggak ada orang yang kemampuan berbahasanya seperti Pram.” Dan suatu waktu pernah beliau menulis tentang Bung Pram (waktu orde baru), tapi sialnya ditolak oleh koran yang bersangkutan, dan ini adalah satu-satunya tulisan Bung Mahbub yang ditolak oleh koran. Sebaliknya, Pram pun mengagumi Mahbub. Menurut Koesalah Toer di buku “Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali”.

Pada peluncuran buku “Sketsa Kehidupan dan Surat-surat Pribadi Sang Pendekar Pena Mahbub Djunaidi” tahun 1996, Pram yang biasanya enggan diminta sambutan, kali ini maju ke depan forum. Dikatakannya, di kala ia diserang dari segala penjuru, hanya Mahbub yang membela.

Itulah sedikit ulasan mengenai Bung Mahbub, Sang Pendekar Pena. Terakhir, tulisan ini hadir dinikmati pembaca sekalian bukan berarti penulis mendaku diri sebagai pengagum Bung Mahbub. Perlu diingat juga kalau kekaguman terhadap seseorang itu harus dilandasi dengan “tahu” secara mendalam terhadapnya. Tulisan ini hadir hanya untuk memperingati hari lahir Bung Mahbub, 27 Juli serta rasa hormat penulis sebagai kader organisasi yang telah didirikannya.

Sekian, habis perkara. []

*) Penulis adalah kader PMII Komisariat Brawijaya Malang

**) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Happy Birthday Bub, Kado Sederhana dari Kami
Click to comment

Komentar

To Top