Resensi

Kitab Yang Mengajak Bernalar

Semenjak membaca tulisan Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara, karya fiksi Seno secara tidak sadar masuk dalam perangkap sebuah kerangka pemikiran. Bahwa fiksi yang ia tulis adalah upaya untuk menuliskan fakta tertentu. Kumpulan cerpen Saksi Mata dan novel Jazz, Parfum dan Insiden bercerita soal pembantaian di Dili. Salahsatu cerpennya yang amat termasyhur, Clara, berkisah tentang kekerasan terhadap etnis Tionghoa pada 1998 silam. Begitu pulalah yang terjadi ketika saya membaca tulisan ini. Cerita Ramayana adalah hanya perantara.

Namun bagi para pembaca yang mungkin berada dalam kerangka yang sama dengan saya, mari berhenti sejenak. Kitab omong kosong ini hendak menceritakan dunia pewayangan yang membaur dengan kenyataan. Bayangkan Anda duduk, sembari menyeruput kopi, melihat layar kelir tergelar di depan. Remang lampu penerangan, dan segala macam jenis wayang tertata rapi. Seno bercerita tentang Ramayana, Persembahan Kuda, dan dua anak manusia biasa bernama Satya dan Maneka.

Kitab ini dibagi menjadi tiga bagian : Persembahan Kuda, Perjalanan Maneka, dan Kitab Omong Kosong. Dalam dua bagian pertama, pembaca disuguhi dengan kisah Ramayana. Sri Rama yang jatuh hati kepada Sinta, kisah penculikan Sinta, pembakaran Alengka, dan invasi Ayodya ke Alengka untuk memboyong Sinta. Para pembaca yang hafal cerita Ramayana tidak usah gelisah, Seno Gumira Ajidarma menuturkan Ramayana disertai selang-seling kisah dan berbagai versi Ramayana yang ada. Dus, tidak akan membosankan. Namun ada yang berbeda. Tokoh Sinta ditampilkan lebih dominan. Sinta menggugat Rama. Dan Sri Rama menjadi berangasan, memerintahkan segenap pasukan Ayodya dan sekutunya untuk menjalankan Persembahan Kuda. Selain tentu saja, imajinasi Seno yang sekali lagi berusaha mengaburkan antara cerita dan kehidupan nyata.

Sinta menggugat Sri Rama. Terlalu banyak sekali tuntutan Rama terhadap Sinta atas nama kesetiaan dan kesucian cinta. Demi membuktikan Sang Dewi tidak tersentuh tangan Rahwana saat di Alengka, Rama memerintahkannya untuk terjun dalam kobaran api. Jikalau Sinta suci dan setia, selamatlah ia. Lanjutan ceritanya, seperti dalam kisah Ramayana biasanya. Lalu terjadilah bencana Persembahan Kuda.

Rama yang semula dipuja di seantero jagad pewayangan menjadi penjagal. Dalam Persembahan Kuda, semua daerah yang dilewati oleh Sang Kuda mesti takluk dibawah Ayodya. Suka atau tidak suka. Konon, hancurlah peradaban dunia. Rumah-rumah rata dengan tanah, perpustakaan terbakar, dan cerdik pandai tewas karena laku balatentara Ayodya.

Orang-orang Kecil Hendak Mengubah Nasib

Maneka adalah seorang pelacur, pemilik rajah kuda yang menjelma Sang Kuda. Sedangkan Satya adalah pemuda desa yang tanah warga dan tanahnya menjadi korban Persembahan Kuda. Nasib mereka tercatat buruk dalam skenario Ramayana. Nasib pula yang mempertemukan mereka berdua. Diceritakan, mereka menyusuri anak benua ke arah terbitnya senja mencari Walmiki si penulis Ramayana. Demi menuntut Walmiki untuk mengubah suratan mereka dalam Ramayana.

Di sinilah Seno menerabas batas antara penulis, tokoh dan latar cerita. Wayang keluar dari kelir untuk mencari si dalang. Seno sepertinya hendak bermain dengan diskursus soal penulis dan karyanya. Wacana ini diawali oleh kalimat “penulis telah mati”-nya Roland Barthes dalam The Pleasure of The Text (1975). Bagi Barthes, saat sebuah teks sudah berada di tangan pembaca si penulis tidak lagi memiliki kendali atas makna. Sebuah teks tunggal melahirkan makna yang berbeda buat masing-masing pembaca. Atau dalam bahasa Seno, dunia adalah tempat pertarungan makna-makna.

Bagi Maneka, Walmiki mesti bertanggungjawab atas Ramayana. Ia mesti keluar dari takdirnya sebagai korban. Sementara Walmiki sendiri menganggap bahwa ia tidak bisa bertanggungjawab atas nasib dari tokoh-tokoh yang ia tuliskan. Selesai menuliskan Ramayana, selesailah tugasnya sebagai tukang cerita. Dengan narasi ini, Seno menggugah kita berpikir, bagaimanakah mestinya kita memaknai sebuah cerita?

Sebuah cerita adalah refleksi dari kehidupan nyata. Kadang ia menyamarkan kehidupan nyata dengan berbagai perlambang. Terkadang ia menyampaikan fakta dengan gamblang. Ketika menghadapi sebuah cerita seolah kita dihadapkan sebuah cermin kehidupan itu sendiri.

Ajakan Bernalar   

Yang saya tidak habis pikir, mengapa harus ada Kitab Omong Kosong dalam cerita ini. Kitab ini hadir, menyela perjalanan Maneka dan Satya mencari Walmiki. Bahkan inilah yang pada akhirnya dituju oleh keduanya. Saya kemudian membayangkan serunya perburuan kitab ini. Sayangnya, Seno entah luput, atau sengaja membuat perburuan menjadi datar. Pada akhirnya, Satya dan Maneka mendapatkannya dalam kebetulan demi kebetulan seolah takdir membimbing mereka. Mungkin saja, Seno terlalu berpusat pada penyampaian isi Kitab Omong Kosong ini, alih-alih proses pencariannya.

Padahal, konon kitab ini adalah kitab yang berisi kunci ilmu pengetahuan. Begini cara Seno menggambarkan Kitab Omong Kosong. “Kitab Omong Kosong adalah kisah penemuan kesadaran manusia dengan penalarannya yang ketat dan teruji, tetapi kitab ini rupa-rupanya telah menjadi berhala, sehingga dipercaya bisa memecahkan segala-galanya, sehingga yang dimiliki dan memahaminya akan mempunyai suatu kuasa,” (hal.286). Menemukan lalu menyebarkan kitab ini, manusia tidak perlu mengulang tiga abad demi membangun peradaban.

Bagian terakhir novel ini mungkin bagian yang terberat. Kitab Omong Kosong agaknya metafor dari sejarah pemikiran. Melalui pembacaan Kitab Omong Kosong ini kita diajak untuk memikirkan filsafat tentang ada (ontologi). Menurut saya, inilah salahsatu kekuatan Seno Gumira Ajidarma dalam novel ini, selain kepiawaian sastrawinya. Ia mengajak pembaca menggunakan nalar, berpikir lumayan keras, alih-alih hanya keasyikan membaca kisah. Untungnya, perbincangan filosofis mengenai yang ada dan yang tidak ada ini dikemas dalam dialog dan refleksi dengan bahasa awam.

Novel yang semula cerita bersambung di Koran Tempo pada 2011 ini, pada akhirnya mengajak pembaca untuk berpikir lebih kritis kembali tentang ilmu pengetahuan. Kitab yang berisi kunci-kunci ilmu pengetahuan saja dinamai Kitab Omong Kosong. Omong Kosong karena ia tidak berisi pengetahuan purna tentang segala hal, yang ada hanya penghampiran dan pendekatan. Ilmu pengetahuan bukanlah sebuah kebenaran, tetapi usaha manusia untuk terus menerus mendekati kebenaran.

Yang membikin susah, novel ini akan jadi rumit bila pembaca belum mengenal sama sekali Ramayana. Selain itu, Seno sepertinya terlalu ingin menyampaikan banyak hal dengan sekali gebrak. Ia hendak menyampaikan Ramayana, takdir manusia, sejarah pengetahuan, ontologi, diskursus pertarungan makna dalam satu cerita. Namun, konten padat ini terimbangi dengan kelincahan berkisah sastrawan sekaligus jurnalis ini. Selamat bergulat dengan Kitab Omong Kosong.

Peresensi; Muhammad Nafi’, Editor lepas

Data Buku :
Judul                : Kitab Omong Kosong
Pengarang       : Seno Gumira Ajidarma
Cetakan            : Edisi III, Mei 2013
Penerbit           : Bentang Pustaka

Kitab Yang Mengajak Bernalar
Click to comment

Komentar

To Top