Cerpen

Mencintaimu Adalah Rasa Sakit yang Paling Dalam

“Sejak kuputuskan untuk mencintaimu, segala derita, juga kepedihan yang diakibatkan karenanya sudah siap sepenuhnya aku tanggung sendiri tanpa melibatkanmu. Bukan aku egois, tapi ada hal-hal di dunia ini yang tak perlu dibagi. Perihal cinta yang teramat rumit ini misalnya, biarkan aku saja yang menanggung segala pedihnya, kau, berbahagialah saja. Tak perlu khawatir, sakit ini adalah bahagia yang berbentuk luka, tidak perih. Aku, tentu saja amat bahagia menjalaninya. Kau tak perlu risau, berdoalah saja, barangkali dengan doa, Tuhan luluh hatinya dan mengizinkan kita bersama.”

Sesaat setelah pemuda itu membuka percakapan, tubuh Ayu seketika gemetar. Raut mukanya memucat, matanya berkaca-kaca.

“Alangkah pedih cinta, jika ketulusan tak bisa dibalas dengan kesetiaan, dan perjuangan adalah kesia-sian semata. Tapi tak apa, sebab bukankah sebenar-benarnya cinta adalah kerelaan untuk melepaskan?” lanjutnya.

Tubuh Ayu lemas. Kali ini matanya benar-benar penuh dengan air.

“Kau tahu, jauh di atas sana.” Tangan pemuda yang kurus itu menunjuk ke arah langit yang gelap. “Segala doa-doa telah kuterbangkan, dan bintang-bintang yang menyala itu, kau tahu, adalah kebaikan-kebaikan untukmu. Untuk segala kebahagiaan-kebahagiaanmu.”

“Cukup!” dengan suara yang serak dan linang air mata, Ayu mencoba menghentikan omongan pemuda itu. Menarik lengannya, menutup mulutnya dan memeluk tubuhnya yang ringkih erat-erat.

“Sudah, aku tak mau mendengarmu lagi. Terlalu menyakitkan jika kau terus bicara padaku soal cinta. Soal segala yang membuat kita sakit dan saling menyakiti.” Ayu melanjutkan.

“Kau, kan sudah kukatakan sejak awal, biar aku saja yang menanggung derita dari cinta ini. Kau, berbahagialah saja. Aku di sini akan baik-baik saja.” Pemuda itu mencoba melepaskan tubuhnya yang ringkih dari pelukan Ayu. Tapi Ayu memeluknya semakin erat. “Aku tidak akan melepaskanmu.”

“Dengarkan aku, aku mencintaimu, itu cukup. Dan untuk memilikimu, aku benar-benar tidak ingin menyakiti semua orang yang mendoakanmu dengan doa yang baik-baik, dengan restu yang baik-baik. Maka lepaskanlah aku, sebagaimana aku juga melepaskanmu karena cinta.”

“Tapi aku tak ingin kau mati di sini. Dengan tajam pisau yang kau sembunyikan entah di mana.”

“Aku tak menyembunyikan apa-apa di sini, tajam pisau, racun atau perihal lain yang membuat kita terluka. Kau, tenanglah saja, selain cintamu tak ada yang lain yang kusembunyikan di sini.” Pemuda itu menunjuk dadanya yang kerempeng.

“Tapi aku benar-benar tak ingin melepaskanmu. Aku ingin memelukmu sekali lagi, sebelum kau benar-benar pergi.” Sambil menyandarkan kepalanya di dada kerempeng pemuda itu, Ayu merayu.

“Hei, aku tak akan pergi ke mana-mana. Percayalah, kau akan selalu dengan mudah menemukanku di sini.” Sambil menunjuk dada Ayu, pemuda itu terus berkata “tapi kau harus berjanji, jangan bersedih, sebab kesedihanmu akan menghalangiku untuk menemuimu.”

“Benarkah? Aku tak percaya padamu. Kau pembohong!” Ayu semakin erat memeluk tubuh ringkih pemuda itu. Ayu tahu bahwa kehilangan yang disebabkan oleh kebohongan akan menyisakan rasa sakit yang teramat pedih. Maka dalam pelukan yang ia jatuhkan, berkali-kali juga air mata ia tumpahkan.

“Hei, aku tak pernah membohongi orang yang aku cintai, kau tahu itukan? Haruskah aku berjanji lagi? Perihal cinta dan nganga luka di lengan yang pernah kutunjukkan padamu waktu itu?”

“Tidak! Aku tidak mau kau terluka. Aku ingin kau tetap baik. Tapi aku tidak mau melepaskanmu, aku takut kau membohongiku dan pergi, kemudian menyisakan kenangan dan kesedihan.”

“Percayalah, cinta tidak akan menuntunmu kepada kesedihan-kesedihan, kau harus tahu itu. Semakin kau erat, cinta akan semakin jauh. Maka lepaskanlah, kau akan merasakan cinta begitu dekat.”

“Benarkah? Baiklah, tapi kau tidak akan meninggalkankukan?”

“Aku mencintaimu, itu sebabnya aku ingin kau melepaskanku.”

Maka pelan-pelan Ayu melepaskan tubuh pemuda itu dari pelukannya. Jantungnya berdebar saat kedua lekuk lengannya yang gemetar rebah pada pahanya yang putih bersih.

“Aku tetap di sinikan? Aku tak akan membohongimu. Aku tak pernah membohongi orang yang aku cintai.”

Ayu tersenyum, wajahnya merekah meski kedua matanya penuh dengan air mata. Dengan suara yang nyaris tak terdengar, dan sesekali diiringi sesenggukan Ayu berkata pada pemuda itu.

“Aku ingin tinggal bersamamu di sini. Membantumu membuat kopi, dan menemanimu menulis puisi.”

“Hei, kan sudah kukatakan dari awal, aku mencintaimu, itu cukup. Dan untuk memilikimu, aku benar-benar tidak ingin menyakiti semua orang yang mendoakanmu dengan doa yang baik-baik, dengan restu yang baik-baik. Lagi pula, kau tak akan bahagia hidup denganku, penyair yang hidupnya penuh getir.”

“Aku ingin kau menulis puisi untukku. Aku ingin mendengar kau membaca puisi untukku. Aku ingin tinggal bersamamu di sini!”

Pemuda itu mengambil beberapa lembar kertas dan bolpoin, lalu menuliskan beberapa bait puisi, kemudian meremas-remasnya dan melemparnya ke dalam tempat sampah yang ada di sebelah kanannya.

“Aku akan membuatkanmu nanti, saat hari kelahiranmu tiba.”

“Kau janji?”

“Ya.”

Ayu berjalan, pergi ke ranjang yang tepat berada di belakang pemuda itu berdiri. Ia duduk, sambil menyeka kedua matanya yang basah dengan tisu yang tergeletak di atas ranjang itu.

“Kau tahu,  kita tak pernah benar-benar tahu kepada siapa cinta akan dijatuhkan. Dan secara tiba-tiba kau hadir. Aku mencintaimu, kau juga mencintaiku, tapi kita lupa kepada siapa masa depan akan dihabiskan, bukan?” suara Ayu memelan.

“Bukankah itu baik untukmu? Aku senang kau bersamanya. Menjalani kehidupan sebagaimana orang-orang yang lain lakukan. Kau akan menjadi ibu dan melahirkan anak-anak yang lucu.”

“Dan, kau?”

“Aku? Apa yang akan kau harapkan dari penyair sepertiku ini?”

Ayu berdiri, berjalan menuju pemuda yang berdiri tepat di hadapannya. Lekas ia memeluknya dari belakang.

“Kenapa kau tidak menikah denganku saja?”

Pemuda itu berhasil melepaskan diri dari pelukan Ayu, lalu pergi, berdiri di dekat jendela. Langit malam itu begitu indah, dengan sinar bulan, juga bintang-bintang dan nyala lampu-lampu gedung yang tinggi menjulang.

“Kau harus pulang sekarang, ini sudah larut malam, aku tidak mau kau terluka lagi. Suamimu akan memukulmu jika kau terlambat sampai rumah.”

Dengan wajah kesal, Ayu berkali-kali menggerutu sambil pelan-pelan ia memasukkan barang-barang miliknya yang tercecer di atas ranjang, bedak, lipstick, tisu, dan peralatan kosmetik lainnya ke dalam tas jinjingnya berwarna biru tua.

“Sumpah, aku benar-benar tidak menyukai perpisahan! Kau tahu, ia hanya akan menyisakan ingatan dan sesekali muncul sebagai kenangan yang menyakitkan!”

“Kau akan menelponku hari-hari ini, kan?” lanjut Ayu.

Belum sempat pemuda itu menjawab. Dari luar, terdengar suara langkah kaki yang bergegas menaiki tangga menuju pintu kamar pemuda itu, dan “brakk!” pintu terbuka. Berdiri seorang pemuda berbadan tegap dengan stelan jas hitam kelam dengan  sebuah pistol di tangan kanannya.

“Mas Iyan! Aku bisa jelaskan semuanya, mas.”

“Sudah terlambat, Yu.”

“Dor!”

 Pemuda ringkih itu jatuh, tersungkur dengan darah mengalir dari dadanya yang kerempeng.

Ayu berteriak histeris. Dengan tubuhnya yang gemetar, ia memeluk tubuh ringkih pemuda yang tersungkur itu, sambil berkali-kali berteriak meminta pertolongan.

Dengan sisa napas yang ada, pemuda itu berbisik lirih kepada Ayu.

“Mencintaimu, haruskah sesakit ini!” []

Mencintaimu Adalah Rasa Sakit yang Paling Dalam
Click to comment

Komentar

To Top