Puisi

Kasmaran, Sulbi Api, dan Cahaya Dosa

Kasmaran

Pada malam yang gelap ini

Akan kuantarkan birahimu

Mengembara jauh

—bersama gairahku

 

Aku sihir yang merasuk

Di perih jiwamu

Bibirmu pintu rahasia

Ciumanku tangan misteri

Mencabut durinya

 

Aku kuku-kuku hitam

Dukamu kucengkeram dan kutikam

Dengan cara paling lembut

Saat dua bibir saling pagut

 

Pun aku tajam lidah

Mengiris resah di putih lehermu

Mendayungmu ke laut asmara

Ke ujung desah yang paling basah

 

Aku juga gelapnya mata

— yang menduga-duga

Barangkali surga adalah

Kancing pertama

Saat bajumu kaubuka

 

Dan ketika kau sampai

Di tepi birahi

Kita sama setuju

Surga itu hangat madu

Yang kusesap dari buah dadamu.

2013

 

Sulbi Api

Tak ada yang perlu kita pahami

Waktu sudah abu dibakar asmara

Sukmaku—sukmamu membara

Tak satu iblis pun menanggung apinya

 

Kasmaran kita adalah

Geletar sulbi yang memancar

Ke dalam tubuhmu yang gaib

Dosa raib dalam taraib

 

“Sebaik-baiknya dosa, cintaku

Adalah ciuman-ciuman

Yang kusujudkan di bibirmu.”

 

Sungguh khuldi, bibirmu

Jantungku jari yang gemetar

Memetik dosa semanis itu

Dalam ciumanmu

 

Kudengar rintih di jantungmu

Seperti sup sedih mendidih:

Sunyi yang dirasakan wali

Bergemeritih perih dalam kuali

 

“Benamkan aku, dosa,” pintamu

“Pejamkan aku dari cahaya

Yang tak membuatku bahagia.”

 

Maka biar kubakar gairahmu

Bibirku ayat yang berpijar

Ke dalam nikmat yang kekal

Duka pun pudar

 

Lalu kunyalakan bahagiamu

Lewat sinar kudus yang berdebar

Bulu-bulu halus di susumu

Bergetar dicumbu gairah berkobar

 

Percayalah, cintaku

Tak ada dusta yang suci

Selain senggama

 

Basuhlah lidahmu ke dalam bibirku

Maka, kusalamkan kau pada dosa

Yang wanginya tak bisa kaulupa

Bibirku akan membawamu

Berziarah ke jazirah para nabi

Di mana malaikat

Hanya pencatat sepi

 

Sebab surga itu alegori

Bagi dua pezinah

Yang tak takut terbakar api

Ke dalam ciumanmu

Dosa hanyalah abu

 

Kita ciptakan surga baru

Dari lidah api para pendosa

Sukmamu—sukmaku menyatu

Terbakar bibir yang saling adu

 

Akhirnya tak jua kita pahami

Hasrat yang kian bara ini

Maka tak perlu kita padami

Nyala birahi di sulbi api.

2014

 

Cahaya Dosa

Seputih warna surga

Usai sunyi tumpah

Terdengar doa pecah

Dari cangkang cahaya:

Wajah dosa pertama

 

“Tuhan yang bisu

Selamatkan aku

Dari senyap

Maka kudekap kau

Dalam gelap.”

 

Dingin yang malap

Menggurat ayat

Di jantung kitab

 

Tanpamu, hawa

Surga hanya  apologi

Yang tak terbaca;

Suci cahaya ilahi

Yang tak terpahami

 

Sedang api neraka

Hanya tamsil semata;

Pada yang berkobar

Dosa hangus terbakar

 

Bukan benar mata ular

Yang menggoda kita

Tapi surga tak lagi kekal

Bagi dua pendosa

Kita memilih fana

Sebab keabadian

Tanpa kebahagiaan

Apalah artinya

 

Sekukuh iman

Dalam genggaman

Sebuah apel runtuh

Menyentuh ruh

Dosa pun jatuh

 

Dengan mesra

Kita sandang dosa

Sebagai cahaya.

2014 []

Kasmaran, Sulbi Api, dan Cahaya Dosa
Click to comment

Komentar

To Top