Celomet

Melihat Gus Dur dari Kacamata Santri Pas-Pasan

Beberapa hari yang lalu, keluarga besar Gusdurian Jakarta (4/8) menyelenggarakan harlah Gus Dur yang ke 77. Tokoh yang terkenal dengan Guru Bangsa itu benar-benar menjelma menjadi inspirasi anak-anak muda, baik NU sebagai keluarga besar maupun anak bangsa yang lain. Meski telah tiada, Gus Dur seolah masih selalu membimbing dan menginspirasi siapapun.

Beliau seolah tahu apa yang sedang terjadi dan dialami bangsa ini. Saat Kasus Ahok booming, saat Habib Rizeq kabur dan saat perpu tentang ormas dan pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, bukan Hari Tanoe Indonesia, ia ada di setiap tarikan nafas orang-orang yang memperjuangkan kebebasan, penolakan premanism dan kebangsaan. Beliau sosok yang selalu ada dalam alam pikiran dan alam bawah sadar bahwa kita butuh sosok beliau. Buktinya, setiap kejadian, di medsos, Percakapan imajiner seolah Gus Dur masih sugeng selalu hadir dan sedang menyampaikan pendapat pada orang lain. Dan itu, sering di akhir percakapan menyisakan senyum kerinduan padanya.

Aku, tak pernah bersentuhan langsung dengannya.  Bahkan mungkin belum mengenal baik sampai saat ini, atau selamanya. Saat itu, antara tahun 1997-1998, aku kerap kali membaca nama beliau di koran langganan Sekolah Dasar. Kalau tidak salah saat itu, berita tentang kunjungan Gus Dur ke Pak Harto menjelang lengser. Sejak itu aku benar-benar suka dengan sosoknya, seperti  jatuh cinta pada cerita pertama hingga benar-benar ingin tahu banyak tentangnya.

Setelah itu, aku hanya beberapa kali bertemu langsung dengannya meski sering kali menghadiri acara beliau. Terakhir adalah tahun 2009, saat acara di kampus S1-ku. Kebetulan saat itu aku jadi pejabat mahasiswa, jadi mendapat hak istimewa untuk sowan langsung dan mencium tangan beliau sekedar kagum dan ngalap berkah dengannya. Selain itu, aku hanya mengenal beliau dari tulisan-tulisannya dan tulisan tentang beliau, Gus Dur.

Bagiku, Santri pas-pasan yang sering kali tak paham keadaan dan pemikiran, Gus Dur adalah sosok yang tak pernah silau tentang ramai dan sunyi, bahagia dan sedih atau apapun kondisinya sebagai manusia. Beliau telah sukses mengabaikan kekawatiran, ketakutan, ketenaran atau apapun. Ia menjelma mati rasa untuk dirinya sendiri dan penuh empati dan simpati pada siapapun. Beliau peduli bukan atas nama agama, keluarga besar NU atau apapun. Dimensi itu sudah selesai dan tak pernah risau. Beliau punya dimensi lain yang sulit dipahami oleh umumnya manusia, kecuali dirinya sendiri.

Sosok yang sering disebut kontroversial lebih layak disebut pahlawan. Dan kini semua benar-benar nyata. Beliau selalu bisa ramai di saat sunyi dan saat sunyi beliau bisa meramaikan. Berbeda pendapat adalah hal yang lumrah baginya, beda pilihan adalah identitas kebebasan dan membela yang lemah adalah kewajiban. Tak ada yang baku dan otentik baginya. Tentang kekuasaan, kekuatan, perbedaan dan keutuhan adalah hal yang bisa didiskusikan baik-baik. Hal yang final dan mengikat bagi beliau adalah kemanusiaan dan persamaan hak dan kewajiban, baik sebagai anak bangsa maupun penganut agama.

Bagi santri pas-pasan seperti aku ini, Gus Dur adalah legenda yang selalu menggema. Jasadnya mungkin telah tiada tapi pemikirannya setia mendamping kita dalam cerita-cerita. Aku tak akan berani protes atau mendebatnya, karena akhir-akhir ini kita sering mendapatkan penjelasan-penjelasan logis tentang keadaan yang tempo dulu sering kali dicap kontroversi.

Dan kini, di tengah arus dinamika agama dan bernegara yang cepat, menembus batas dan jarak seolah semua mengikat, Negara Indonesia yang penuh potensi dan daya ini membutuhkan sosok seperti beliau. Isu-isu sosial keagamaan yang berkembang, tolerasi, keberagaman dan lain sebagainya, adalah isu yang harus dijaga dan perlu hadirnya sosok seperti Gus Dur.

Kita, anak-anak muda yang sering mengidentifikasikan diri sebagai pengagum, penyuka bahkan fans-nya, tak cukup sampai di situ. Kita tak cukup belajar dan belajar saja, meski itu sudah lebih baik dibandingkan  tidak sama sekali.  Kita sudah tak cukup lagi dengan wacana-wacana tanpa aksi, ide-ide tanpa eksekusi dan jalan-jalan hanya karena menanti kesempatan.

Negara ini, butuh orang-orang hebat dan penuh amanah seperti beliau meski akhirnya kita tak pernah akan mampu menyamainya. Tokoh yang piawai berwacana, berdoa dan bekerja. Komitmen tinggi pada kemanusian dan mampu menerima keadaan. Tokoh yang mampu berkamuflase dengan ide dan gagasan sehingga dapat diterima oleh semua agama dan golongan.

Beliau adalah tokoh sejati. Dia tokoh bangsa yang meski menjadi tokoh agama tapi tak melupakan sisi kemanusiaan, yang menjadi politisi tak pernah melihat masalah hanya dari satu sisi. Sosok penguasa yang selalu dirindu umatnya dan intelektual sejati yang tak pernah kehilangan jati diri yang saat ini, di negeri kami, gersang dan sepi.

Akhirnya kita harus jujur, saat ini kita tak punya tokoh seperti beliau. Yang ditunggu jutaan umat dan menginspirasi anak-anak muda. Saat ini kita hanya di suguhi drama-drama rasa korea dan cerita melankolis india untuk aktor para pejabat penguasa.  Umat hanya menjadi penikmat yang dilarang tertawa karena candanya adalah dosa. Sensor sana-sini demi ending cerita yang hampar rasa dan makna. Semua kuasa atas wacana tapi selesai di ujung-ujung loakan belaka. Semakin dibaca lama-lama semakin membosankan dan kala tak dibaca kian membutakan.

Gus, tak ada kamu, semua jadi repot. []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

Melihat Gus Dur dari Kacamata Santri Pas-Pasan
1 Comment

1 Comment

  1. Wahid Imam

    10/08/2017 at 11:48 am

    Saya mau masuk komunitas Gusdurian… Di lampung…. Gimana caranya

Komentar

To Top