Puisi

Berdiri Di Depan Cermin

BERDIRI DI DEPAN CERMIN

di depan cermin aku telanjang berdiri dan mencari engkau
tiba-tiba aku merasa asing dan usang
tak lagi kutemukan engkau

dalam wajahku ada sepasang danau
sepasang kesepian yang tak bisa saling mengunjugi
atau sepasang kemarahan
yang menyala
keduanya tak bisa kukenali

bibirku gunung yang sering kau daki
kini dipenuhi udara yang pucat
kabut di sepanjang lekukan jalan
jika malam, sering dipeluk suara lengking kijang
di sana aku mencarimu

leherku adalah kelemahan
tempatmu meluluhkan dan melelehkanku
kau selalu mengatakan
hal indah mengenai leherku
ketika kau gigit dan kau sesap darahku
leherku adalah taman kecil
yang merindukan kau
sebagai teman bermain

aku menelusuri leher hingga pinggang
tebing tempatmu bermain layang-layang
kau sering kelelahan menanjak
ke puncak
kini dibahuku ada benang angan
mengikat kenangan yang melayang-layang

aku bergerak menuju lengan dan jari tangan
keduanya seperti pohon yang rantingnya kehilangan daun
dahannya memeluk angin yang kian dingin

tubuhku masih ingat aroma bibirmu
juga tubuhmu
tetapi aku masih mencarimu

aku berdiri telanjang di depan cermin
menjelajahi tubuhku yang bumi
tempat kau pulang
dan bersenang – senang
nanti lagi, barangkali

Lamongan, 2016

 

MEMINTA

ada yang diam-diam dalam diriku
mengalir menjalari aku
ia lepas dari layu
dan bebas dari waktu

di hutan belantara ini ia dahaga,
lapar, juga gamang pada dirinya
wajahnya memantul tajam
matanya tiada kenal pejam
bibirnya menyeringai kejam

pada kesakitan yang dalam
saat segalanya terasa petang dan mematung
ia menciptakan ribuan palung
membuatku terbuang dari jalan pulang

ketika ia melintas di jantungku
lidahnya selalu mengarahkan senjata
sepasang taring yang melengking paling nyaring
bisanya mengucur di mana-mana

ia memeluk sekaligus mencekikku
serupa sepi yang sembunyi di balik sebotol bir
sepi yang bersepakat dengan air dan mata
menunggu diriku lepas satu-satu

sungguh aku kehilangan daya
aku malu mengunjungi Tuhan sendirian
tetapi,
memintamu aku tak mampu

Lamongan, 2017

 

KATA TU(H)AN, BARANGKALI

kala itu
kepadaku kau berkata
kepalamu ialah layang-layang
sementara waktu ialah langit
keduanya bagai sepasang kekasih
mencukupkan kebetuhan masing-masing
lengan waktu merentang luas
tiada tepi
tempat bagi layang-layang
menari sesuka hati
sementara layang-layang
tiada bosan terbang
mengatakan pada langit
jangan pernah merasa sendirian

kali lain
kepadaku kau berkata
waktu merupa bumi
harusnya tempat layak huni
bukan terdapat banyak hina
sememtara kepalamu hutan
penuh pohon-pohon dan semak belantara
membuat pemiliknya tersesat di sana

kali ini
kepadamu aku berkata
waktu tak menjelma apa-apa
hampa, luasnya tiada terkira
sementara kepalamu mati
terjepit dalam luasnya dugaan manusia

Lamongan, 2014

Berdiri Di Depan Cermin
Click to comment

Komentar

To Top