Cerpen

Nyonya Manora

SEPERTI dalam sebuah dongeng, kau akan tahu betapa hidup adalah serangkaian cerita yang tak akan ada habisnya. Terus menerus menulis kisah untuk diceritakan. Seperti malam ini, kau akan tahu bagaimana sebuah kisah menceritakan sebuah kehidupan.

1/

TEPAT pukul setengah dua belas malam –udara meniupkan kesepian, daun-daun menggugurkan keceriaan- seseorang berlumuran darah keluar dari rumah tua dekat taman kota dengan tergesa-gesa. Dari kejauhan ia seperti gagap dan gugup melihat cahaya-cahaya lampu yang menerangi sepanjang jalan yang ia lewati.

Rumah tua itu terlihat sepi dan sunyi tiap hari, tak ada cahaya, apalagi tawa yang membahana. Pekarangan rumah yang dihiasi rerumputan kering akan langsung kau jumpai. Bengkel yang beralih fungsi menjadi gudang usang, juga dinding tembok dengan cat kelabu hasil goresan polusi akan menjadi pemandangan berikutnya yang akan kau temui, bila suatu saat kau ingin berkunjung ke rumah tua itu.

Sesungguhnya rumah tersebut, dulu adalah rumah yang ramai berpenghuni, cahayanya memancar dari ventilasi udara yang berjajar. Hampir tiap malam selalu ada pesta barbekyu di depan rumah.

Rumah tersebut adalah bekas kediaman seorang hakim. Beberapa tahun lalu, ia dibunuh oleh seseorang dengan sangat tragis. Kemaluannya dipotong dan di masukkan ke dalam lubang anusnya sendiri. Dengan tangan terikat, lengkap dengan dasi, kemeja, serta jubah kehakimannya –tapi tanpa celana- ia didudukkan dalam kematian sambil menggigit sebuah pesan misterius: “Kebenaran adalah sesuatu hal yang mengecewakan!”. Hingga kemudian rumah tersebut benar-benar tak berpenghuni.

Kini rumah tersebut dihuni oleh seorang perempuan tua bekas narapidana. Ia tak akrab dengan tetangga, juga tak akrab dengan dirinya sendiri. Menurut cerita tetangga yang pernah saya dengar, hampir tiap tengah malam, ia sering berteriak seperti kesurupan, sambil mengiris daging sendiri sebelum ia keluar rumah, dan akhirnya kembali lagi pada kesesokan harinya dengan luka yang menganga di sekujur tubuhnya.

Cerita tentang seorang tua yang suka mengiris danging sendiri inilah barangkali yang akan menjadi awal dari kisah yang akan saya ceritakan.

2/

AKAN saya ceritakan kisah orang tua dengan luka menganga di mana-mana di sekujur tubuhnya, ia seolah berkeringat darah. Kenapa ia tega mengiris dirinya sendiri.

Namanya Erline Manora, biasa dipanggil nyonya Manora. Ia adalah bekas narapidana dengan kasus pembunuhan berencana. Ia didakwah seumur hidup, sebelum kemudian ia mendapatkan remisi dari pengadilan dan akhirnya keluar dengan sisa umur yang tak tangguh lagi.

Ia masuk dalam kategori pembunuh yang terkenal sadis dalam membunuh korbannya. Tak ada kehidupan berarti yang ia jalani di setengah usianya kini, hidupnya hanya berkutat pada pembunuhan dan kematian. Saat ia dipenjara, pun tak ada perubahan. Ia selalu bermain-main dengan kematian.

Hingga akhirnya ia dikeluarkan oleh pihak kepolisian dengan dalih memberikan remisi, sebab pihak kepolisian telah menganggap dia gila. Sejak keluar dari penjara ia hidup secara nomaden. Mengemis untuk makan, dan sesekali mencuri barang milik tetangganya.

Barangkali menjadi pembunuh adalah seperti pilihan yang memilih hidup di ujung mulut senapan yang kapan saja memuntahkan peluru. Segalanya terasa bagai permainan, kematian akan terus membuntutimu, dan kehidupan hanyalah cara nasib menguji, seberapa kuat engkau menjalani.

Manora, tentu bukanlah perempuan yang dilahirkan untuk menjadi pembunuh, dan mengakhiri nyawa siapa saja yang dia inginkan. Saat masih muda, dia dikenal sebagai perempuan baik-baik, sopan, dan juga senang membantu sesama. Selain sifat-sifatnya yang bagus tersebut, dia juga dikenal sebagai perempuan tercantik di komplek tempatnya bekerja, selain cantik dia juga rajin bekerja. Manora adalah seorang buruh cuci yang bekerja di rumah seorang hakim muda yang adil, hakim muda itu bernama Carlos.

Lalu bagaimana nyonya Manora yang baik dan cantik itu bisa bermetamorfosis menjadi pembunuh yang sadis? Kau akan tahu setelah mendengar kisah bagaimana hakim muda itu meninggal secara tragis dan mengerikan.

3/

KISAH ini dimulai sehari setelah hakim bernama Carlos itu mendapatkan promosi jabatan dari kantor pengadilan tempatnya bekerja. Dia naik dari posisinya yang lama yakni panitera menjadi hakim ketua. Dia dinilai pantas karena kinerja dan integritasnya dalam penegakan hukum. Carlos memang terkenal tidak pandang bulu dalam penegakan hukum, sesiapa saja yang melanggar aturan hukum, maka akan dia tindak tegas.

Tepat pada pukul delapan malam, saat Carlos baru saja tiba di rumah, di hadapannya sudah ada empat lelaki berbadan kekar dan satu lelaki berbadan kurus tinggi menghadangnya di depan pintu rumahnya. Tanpa basabasi, keempat lelaki tersebut lekas menghapiri hakim Carlos, lalu melayangkan pukulannya yang kencang ke wajah hakim Carlos hingga berdarah dan tersungkur. Keempat lelaki tersebut kemudian membawa hakim Carlos masuk ke dalam rumahnya dalam keadaan babak belur.

Manora yang saat itu sedang berada di beranda rumah, melihat tuannya babak belur, berusaha untuk meminta pertolongan, namun lelaki berbadan kurus dan tinggi tersebut menghalanginya, lalu mengikat kaki, tangan dan mulut Manora dengan seutas kain yang dia ambil dari tumpukan pakaian di samping Manora berdiri. Manora disekap di samping tuannya yang babak belur dihajar oleh kelima lelaki itu.

Sesekali Manora berontak saat melihat tubuh hakim Carlos disayat-sayat pisau tajam oleh kelima lelaki tersebut secara bergantian. Tubuh hakim Carlos yang ringkih memerah darah, ia tersungkur di lantai tak berdaya. Manora hanya bisa menangis, dan sesekali berontak, tapi kekuatan yang dimilikinya tak kuasa melawan eratnya ikatan kain yang dililitkan di tangan, kaki dan mulutnya oleh lelaki kurus tinggi itu.

Setelah hampir setengah jam berlalu, dengan siksaan tiada henti, hakim Carlos akhirnya meninggal kehabisan darah. Manora seketika berontak dengan cukup kencang, menendang-nendang apa saja yang ada di sekitarnya. Lelaki kurus tinggi itu mencoba menenangkannya, namun tak kuasa menahan tubuh Manora yang bergerak-gerak semakin kencang. Satu dari salah satu empat lelaki berbadan kekar tersebut akhirnya memukul kepala Manora untuk menenangkannya. Manora tersungkur.

Sesaat setelah Manora sadarkan diri, didapati dirinya telanjang bulat, percik darah terlihat mengering di sela-sela selangkangannya. Manora menjerit, berteriak-teriak, menangis, dan memukul-mukul wajahnya dengan tangannya sendiri.

Manora terluka, dia hancur, tapi dia masih hidup. Ingatannya kembali mengingat apa yang menimpa dirinya dan tuan Carlos. Dia mengingat-ingat, siapa lelaki yang tega membunuh majikannya dan memperkosa dirinya. Lamat-lamat ia teringat dengan baju yang dikenakan oleh lelaki kurus tinggi saat akan mengikatnya itu. Meski ditutupi oleh jaket, Manora masih dapat cukup jelas melihat warna bajunya. Baju itu sama persis seperti baju yang dikenakan oleh tuan Carlos, dan di sisi dada kanan baju itu tertulis sebuah nama “Rafael”.

Kau tahu, Rafael adalah teman akrab hakim Carlos di kantor pengadilan. Mereka berdua berkarir bersama dan bersama-sama memulai karir dari bawah. Namun tragis, Rafael tega menghabisi nyawa karibnya sendiri. Setelah membaca kisah ini, kau akan tahu kenapa hakim Rafael tega melakukannya.

4/

RAFAEL dan Carlos sama-sama hakim yang cerdas, tapi tidak sama-sama hakim yang tegas. Hakim Rafael seringkali mempermainkan hukum, dia sering menyelesaikan kasusnya di bawah meja. Sedangkan Carlos, dia hakim muda yang bersih dan tegas. Ketegasannya dikagumi banyak orang, dan mendapatkan banyak pujian, hingga akhirnya membuahkan jabatan.

Pujian yang didapatkan Carlos, tidak pernah didapatkan oleh Rafael, dan hal itulah yang membuat Rafael membenci Carlos. Dia juga bersumpah akan menghabisi nyawa Carlos jika ia gagal menjadi hakim ketua. Bagi Rafael, jika jabatan itu tidak untuknya, maka tidak juga untuk Carlos. Dan benar saja, dia tega menghabisi nyawa temannya sendiri.

Namun, tidak lama setelah pembunuhan itu terjadi, polisi akhirnya menangkap Rafael sebagai tersangka di rumah dinasnya. Setelah melakukan pemeriksaan yang cukup panjang, sidang kematian hakim Carlos akhirnya digelar, beberapa orang dihadirkan untuk menjadi saksi dalam persidangan tersebut, termasuk nyonya Manora.

Sidang berjalan cukup singkat dan cepat, dan diakhiri dengan putusan yang mengagetkan, bahwa hakim Rafael dinyatakan tidak bersalah. Majlis hakim memutuskan bahwa hakim Rafael dinyatakan tidak bersalah dan berhak menempati jabatan hakim ketua yang kosong.

Lalu bagaimana nasib nyonya Manora setelah sidang putusan itu usai? Lalu bagaimana hakim Rafael menjalankan tugasnya sebagai hakim ketua yang baru? Kau akan tahu setelah tuntas membaca kisah ini.

5/

SEMINGGU setelah putusan itu dijatuhkan, hakim Rafael akhirnya dilantik menjadi hakim ketua. Dalam pidato sambutannya, dia mengaku bangga dan sekaligus terharu karena akhirnya bisa mengenakan jubah kehakiman yang agung itu, sambil kedua matanya berkaca-kaca, dan sesekali diiringi sesenggukan. Dia berdiri dan berorasi, berapi-api menyampaikan perihal kebenaran-kebenaran, yang tak pernah ia amalkan.

Tujuh jam seusai prosesi pelantikan dilaksanakan, tepat pukul delapan malam, bel pintu rumah hakim Rafael berkali-kali berbunyi. Setelah bunyi bel yang kesekian kalinya usai, pintu terbuka, nyonya Manora datang bertandang, dan mata hakim Rafael terbelalak. Malam itu, rasa senyap dan kosong tiba-tiba terasa merangkak ke dalam tubuh hakim Rafael.

Nyonya Manora
Click to comment

Komentar

To Top