Catatan Perut

Pinter Njladur, Goblok Ngawur

Percakapan di warung kopi itu sedemikian riuh. Sesekali saya hanya mengamati sekelebatan saja. Selebihnya saya kembali menujukan pandangan ke buku yang sedang saya baca. Lamat-lamat saya mendengar pembicaraan seputar kebijakan full Day school. Sebagian pro, sebagian yang lain kontra.

Sampai kemudian tiba-tiba salah seorang peserta diskusi mengemukakan pendapat dengan nada setengah berteriak “Mestinya pemerintah paham dikit dong! Si  Kipli pan selepas sekolah harus bantu gua dagang cilok keliling kampung. Nah kalau kudu sekolah sampai sore, ntar siape nyang bantu gua dagangan? Bikin kebijakan yang pinter dikit nape”

“Pan bagus, semakin anak lama di sekolah, semakin pinter nantinya…,” yang lain menimpali.

“Kate siape? Orang pinter mah banyak. Kita butuhnya bukan orang pinter. Kite butuhnya orang ngarti”

Sementara yang lain pada diam, saya hanya tersenyum sendiri. Saya jadi teringat al-Ghazali. Ilmuan kesohor itu pernah mengatakan bahwa manusia itu ada empat macam. Pertama yang tahu bahwa dirinya tahu. Kedua yang tahu bahwa dirinya tidak tahu. Ketiga yang tidak tahu bahwa dirinya tahu. Dan keempat yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.

Fenomena hari ini barangkali manusia jenis keempat yang paling banyak mendominasi. Manusia-manusia yang kadar keilmuannya cupet dan tidak mengerti bahwa ilmu yang dimilikinya itu terbatas. Jenis manusia seperti ini sejatinya cukup membahayakan dan menyusahkan.

Namun tunggu dulu, al-Ghazali nampaknya luput memotret satu jenis manusia lagi, yakni mereka yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu namun sok tahu. Inilah fenomena mutakhir yang jamak kita temukan. Manusia-manusia yang cakrawala pengetahuannya terbatas namun sok-sokan. Bahasa jawanya Ita-itu dan kemlinthi.

Jumlah manusia yang disebut belakangan ini sangat banyak. Mereka yang sejatinya tidak cukup pengetahuan, namun kadar suaranya ketika berkomentar lantang menggelegar. Dalam bahasa Syahrini “cetar membahana”

Manusia jenis seperti ini sangat memang menyulitkan. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk mula-mula mendengarkan orang lain. Mereka hanya mampu mendengarkan apa yang keluar dari bibirnya sendiri.

Tiba-tiba saya juga teringat dengan apa yang pernah dikatakan al-Zarnuji dalam Ta’lim Mutaalim. Ia mengatakan bahwa dua penyebab utama kerusakan dunia adalah membiaknya orang pintar yang ceroboh dengan kepintarannya dan juga mengecambahnya orang bodoh yang berbuat ngawur dengan kebodohannya.

Istilah jawanya dua kerusakan dunia itu disebabkan oleh mereka yang “pinter njladur dan bodoh ngawur”.

Saya tidak mengerti, apakah kebijakan-kebijakan yang dilahirkan oleh Pemerintah, yang belakangan banyak melahirkan polemik itu lahir dari kepintaran yang dijalankan dengan penuh kecerobohan atau justru sebaliknya lahir dari kebodohan dan ketidaktahuan yang kadarnya luar biasa?

Bagitulah. Renungan saya buyar ketika tiba-tiba sebuah notifikasi twitter masuk. Rupanya tautan berita. Judulnya “Jokowi Bagi-bagi Sepeda kepada Santri”

Saya hanya bisa nyengir dan bergumam dalam hati “Ya sudah sana ambil sepedanya” []

Pinter Njladur, Goblok Ngawur
Click to comment

Komentar

To Top