Celomet

FDS, Jokowi, dan Punk

Saya boleh bangga, punya presiden menyukai musik. Apalagi musik Rock. Kenapa? Pelajaran wajib saat akademia-akademia bermula di Yunani Kuno memasukan pelajaran musik (seni dan sastra), selain retorika, astronomi, dan geometri. Siswa menguasai alat musik, berpuisi, bermain drama, mengerti seni rupa, dan lain-lain. Itulah mengapa dalam pendidikan modern di Finlandia, setiap siswa wajib mengikuti dengan baik pelajaran ini. Seumpama ia tidak bisa main alat musik, ia bisa belajar olah vokal. Tidak mengerti teknik seni rupa kontemporer dengan berbagai instalasi, ia bisa belajar menulis dan meresensi novel. Kesulitan menyukai puisi, ia bisa membuat karikatur. Begitulah seterusnya.

Kenapa ini menjadi penting? Sebab siswa bukan hanya belajar pengetahuan untuk mencari kebenaran, tapi juga menyukai keindahan. Orang yang biasa bergulat dengan seni dan sastra akan dengan mudah membuat dunia menjadi harmonis. Terbiasa menghormati perbedaan cara pandang tiap orang dalam upayanya memaknai dunia.

Kegemaran Gusdur akan sastra, membuatnya menjadi peduli akan nilai-nilai kemanusiaan. Meski digugat, sosok bergelar kiai ini malah merelakan dirinya menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Ada juga Mahbub Djunaidi, kolomnis dan sastrawan, yang menurut Ridwan Saidi, “Orangnya sangat humanis.” Orang-orang yang dibenci rezim dikawani, tak peduli dengan keselamatan diri.

Kembali lagi ke Jokowi, kunjungannya kemarin ke We The Fest (11/8) bertujuan untuk mengamati secara langsung perkembangan generasi milenial. Apalagi festival ini memasukan unsur musik, dance kontemporer, fashion, dan kuliner. Untuk apa? Mencari solusi pengembangan industri kreatif. Keren kan Presiden Jokowi? Apakah dia hanya mementingkan sisi industri daripada pembangunan kebudayaan, ini soal lain.

Lalu ingatan saya mundur ke beberapa tahun silam. Saat Jokowi menjadi Walikota Surakarta (baca: Solo) ia melakukan dialog puluhan kali, butuh waktu sekitar 7 bulan, hanya untuk memindahkan pedagang kaki lima ke pasar. Inilah yang membuat namanya meroket. Sepertinya tiba-tiba mengalahkan ketenaran nama Yuri Gagarin, kosmonot Soviet, sebagai manusia pertama yang pernah buang hajat dari luar Bumi.

Jokowi menyukai musik rock. Semangatnya ia asupkan ke dalam kebijakan. Ia enggan memakai metode kepala daerah lainnya: cukup beri surat peringatan tiga kali dan berikutnya digusur paksa. I like him at the moment.

Ini sejalan dengan kajian sosiologi terhadap musik rock. Dalam disertasi akademisi UIN Sunan Kalijaga, Abdullah Sumarhadi, di UGM, menurutnya musik mempengaruhi perubahan sosial. Merespon permasalahan sosial dengan kritik sosial dalam wujud lirik. Namun dalam perkembangannya kemudian, “Semangat rock yang bermuatan nilai atau spirit kritisme terhadap kultur massa melalui aransemen, komposisi, atau liriknya kemudian hanya dimaknai dangkal,” ujarnya. Spirit-nya hilang. Apakah ini juga mempengaruhi para penikmat musik rock sebagaimana halnya Jokowi?

Superman is Dead (SID), band punk asal Bali, pernah mengungkap soal tadi dalam lirik lagunya, “Rock n’ Roll telah mati…Coba tuk tak curiga. Tak kuasa menahan. Penuh tattoo juga piercing. Nyanyikan lagu cengeng.” Musik rock menjadi hanya sekedar gaya hidup dan selera telinga. Ruhnya telah terbang dan bersembunyi di balik awan.

Betul SID pendukung Jokowi di Pilpres, tapi mereka tetap memelihara nalar kritisnya. Mereka menolak reklamasi di Bali, mendukung petani Kendeng, dan paling ekstrem menolak lagu mereka “Jadilah Legenda” dijadikan soundtrack dalam program #JokowiMenjawab yang dibuat tim media presiden.

Di wall FB-nya, Jerinx menulis, “Hampir saja jadi miliuner. Kid you not. We (SID) just said NO to the (team of) President of Indonesia. They sent us a request to use the song (which I wrote) ‘Jadilah Legenda’ for their campaign. It was a really good offer that could bring us lots of fortune. But humanity comes first. Unless there”s justice for the Kendeng revolution, we will not associate our band and our songs with the President.” Dan, menegaskan bahwa mereka bukan “Musisi Istana”.

Ini sekedar usul, ada baiknya presiden mulai mendengarkan lagu-lagu punk. Musik punk identik sebagai ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Tidak peduli usia anda sebab spiritnya tetap sama: memiliki kesadaran sosial.

Apa hubungannya tulisan ini dengan Full Day School (FDS)? Mungkin saja ketika Jokowi sudah menyukai genre musik punk akan mengingat kembali masa-masa ia menjadi Walikota Solo. Betapa ia merupakan sosok perubahan. Mau berdiskusi, meski puluhan kali, dengan seluruh stakeholder yang terkait dengan implementasi kebijakan FDS. Tanyalah orangtua siswa, guru sekolah negeri, guru sekolah swasta, pengelola yayasan, pemerhati pendidikan, sosiolog, psikolog, institusi sosial dan keagamaan, dan tentu saja pihak kementerian pendidikan dasar. Hingga semuanya mau bersepakat layaknya pedagang kaki lima yang pernah direlokasi.

Tulisan ini diakhiri oleh lirik lagu dari penyanyi Pink yang paling saya suka, “Dear Mr. President, come take a walk with me. Let’s pretend we’re just two people and you’re not better than me. I’d like to ask you some questions if we can speak honestly.” Wouldn’t you? []

*) Celomet ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi omahaksoro.com

FDS, Jokowi, dan Punk
Click to comment

Komentar

To Top