Resensi

Menuju Surga Bersama Guru Sufi

Surga dan segala pernak-pernik kenikmatannya tentu menjadi harapan semua manusia untuk menjadi tempat terakhirnya di alam akhirat kelak, beberapa orang berlomba-lomba untuk menemukan kunci atau pembuka surga sewaktu di dunia. Mereka berusaha untuk menjadi hamba-hamba Allah yang paling baik, agar supaya kelak mereka berhak untuk mendapat kunci-kunci “rumah kenikmatan” yang tidak ada bandingannya, karena hanya hamba yang beriman dan beramal shaleh yang akan mendapatkannya. Para kaum sufi misalnya, mereka berusaha untuk menjadi hamba yang beruntung kelak dengan cara beribadah secara konsisten yang disertai dengan akhlak-akhlak mulia. Dengan segala tenaga dan waktu yang ada, mereka pergunakan untuk mengabdi kepada-Nya. Tiada hari terlewati tanpa ibadah, dan tiada malam berlalu tanpa bersujud kepada sang pemilik kunci kenikmatan.

Amal shaleh atau akhlak yang baik menjadi syarat utama untuk menggapai surga Allah, baik kepada sesama mahkluk, lebih-lebih kepada sang Khaliq. Tidak cukup hanya beribadah secara lahiriah, melainkan harus disertai dengan hati yang suci dan penuh keikhlasan. Ada beberapa sufi tempo dulu yang sangat baik untuk dijadikan panutan bagi masyarakat di era sekarang. Dalam buku ini terhimpun kisah keseharian para guru sufi yang menghabiskan masa hidupnya hanya untuk beribadah dan beribadah.

Bagi kaum sufi, menyambut waktu shalat merupakan keharusan yang tak perlu ditunda-tunda, menyiapkan diri dengan sempurna untuk segera melaksanakan perintah Allah merupakan ciri khas akhlak para sufi. Seseorang yang dipanggil raja dunia saja akan segera menghampirinya, apalagi yang memanggil adalah raja di atas raja. Mereka berusaha untuk menghentikan segala aktivitas kesehariannya beberapa saat sebelum adzan berkumandang. Mereka ketakutan kehilangan takbiratul ihram bersama imam dan tidak menempati shaf pertama.

Dikisahkan, Syaikh Afdhal al-Din senantiasa bersiap-siap untuk melakukan shalat satu jam menjelang datang waktunya. Menurutnya, beliau akan menghadapi kajadian yang sangat penting, oleh karenya beliau menyiapkan dirinya dengan pakaian yang rapi dan hati yang bersih. Dan bahkan konon, terkadang beliau kesulitan untuk tidur di malam hari, karena khawatir tidak bisa menyambut datangnya waktu subuh (halaman 32).

Di samping bersegera dalam menyambut waktu shalat, mereka juga berusaha untuk menyempurnakan ibadah fardhu. Bahkan bisa dikatakan, menyempurnakan ibadah fardhu merupakan sebuah kewajiban, karena merasa bahwa ibadah fardhu mereka masih jauh dari kesempurnaan. Penyempurnaan itu mereka lakukan dengan cara melaksanakan amalan-amalan sunnah, dengan maksud menjadikan ibadah sunnah sebagai penambal berbagai kekurangan ibadah fardhu, seperti yang disampaikan oleh Al-Harits Al-Muhasibi “Sempurnakanlan ibadah fardhu kalian dengan ibadah sunnah! Sesungguhnya amal-amal sunnah dapat menutupi kekurangan amal wajib.” (halaman 21).

Dalam penyempurnaan itu, mereka melaksanakan amalan-amalan sunnah sekuat yang ia mampu, atau bahkan sampai memaksakan diri mereka untuk melatih jiwa-raganya agar terbiasa dan tetap konsisten mengerjakan amalan sunnah, baik yang bersifat sederhana, seperti shalat sunnah setelah shalat fardhu (qabliyah-ba’diyah), shalat dhuha, puasa enam hari pada bulan Syawal, dan sebagainya. Ataupun yang bersifat cukup sulit bagi orang awam, seperti beribadah pada pertengahan malam, atau bahkan semalam suntuk.

Kaum sufi dengan ibadah malam bagai bayang-bayang dengan benda, ia tidak bisa dipisahkan dan pasti akan bersama, selagi ada cahaya yang menyinarinya. Pertengahan malam menjadi waktu yang sangat dinanti-nanti oleh mereka, di saat orang lain terlelap dalam buaian indahnya dunia mimpi, mereka bersembah syukur, bersujud, bermuhasabah, dan bermuamalah dengan Allah.

Malam layaknya surga bagi kalbu-kalbu mereka. Abu Al-Darda’ berkata, “Jika bukan karena rindu untuk shalat malam, aku tidak akan mau hidup di dunia ini”. Dan konon, Malik ibn Dinar shalat malam seribu rakaat. Jika dia hanya dapat melaksanakan 500 rakaat, 500 rakaat berikutnya dilakukan sambil duduk (halaman 44).

Buku ini merupakan saduran dari Kitab Tanbih Al-Mughtarrin (peringatan bagi orang-orang yang terpedaya) karya guru sufi terkemuka, Al-‘Allamah ‘Abd Al-Wahhab Al-Sya’rani. Dalam buku ini disajikan beberapa akhlak dan perangai para sufi yang selalu berpegang teguh teguh pada ajaran al-Qur’an dan Sunnah. Di dalamnya, kita bisa mengambil banyak pelajaran tentang bagaimana cara kita—sebagai makhluk ciptaan-Nya—mengabdi dan beribadah kepada-Nya.

Terdapat 40 bahasan yang semuanya memaparkan kezuhudan dan keshalehan para sufi tempo dulu. Ada banyak kisah sufistik yang dapat memompa semangat kita untuk terus beribadah dan bersujud kepada-Nya, sehingga kita bisa mendapatkan kunci “rumah kenikmatan”, dan bersama-sama menuju surga-Nya.

Peresensi; Saiful Fawait, Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep

Judul                : Jalan-Jalan Surga: Akhlak dan Ibadah Pembuka Pintu Surga
Penulis             : Abdul Wahhab al-Sya’rani
Cetakan            : 1, April 2017
Penerbit           : Mizan Pustaka

Menuju Surga Bersama Guru Sufi
Click to comment

Komentar

To Top