Cerpen

Mempersiapkan Perpisahan

Dua tahun lalu….

“Adakah yang salah dengan mempercayai orang lain?”

“Tidak ada yang salah. Cuma sepertinya kamu butuh periksa ke psikolog, Ros” jawaban-jawaban jailnya selalu menyebalkan.

Kami nyengir. Perbincangan semakin kacau. Meracau. Lalu aku meminta diantar pulang, sebelum malam semakin membodohi imajiku. Dengan manusia satu ini, sejak pertama kenal aku tak mau jauh-jauh, enggan berpisah lama, resah jika sebentar saja tak menerima kabar darinya.

Hubungan ini rumit. Terlampau rumit untuk dijelaskan. Aku tahu ia sedang mempersiapkan sebuah perpisahan yang menyakitkan untukku yang mungkin sakitnya akan masih terasa hingga bertahun berikutnya. Tapi aku hanya ingin pura-pura tidak terjadi apa-apa saja.

***

Setiap hal berjalan sesuai dengan zona waktunya masing-masing. Jika ada keinginan terpendam yang sampai saat ini enggan tumbuh menjulang di dasar realitas menembus timbunan imaji, itu hanyalah soal waktu. Seberapa kuat dorongan untuk tumbuh atau hanya merasa nyaman di alam pikiran saja. Begitu pula menyoal perpisahan, kiranya perpisahan adalah jarak terjauh dari dua hati. Entah keduanya yang sama-sama dibuai kasmaran namun dipisah jarak, atau hanya sekedar cinta tiada berbalas. Keduanya, perpisahan menjadi penyebab perih dengan kadar sakitnya tersendiri.

Terkadang aku merasa senang dengan kekuranganku yang pelupa. Tapi tentang kamu? Sudah berapa bulan kita tak lagi bersua? Sudah berapa lama kita tak lagi bertukar kabar? Sudah berapa percakapan yang berlalu dan hanya mengungkapkan kegusaranmu untuk kuganggu? Ah, melupakanmu terasa begitu menyiksa. Sementara kau enggan mengulik sebuah penjelasan yang bisa aku terima.

Kadang, pekikan-pekikan rindu itu kukirim dalam larik semilir angin di malam sunyi yang dinginnya seolah mengejek kepiluanku. Berharap angin yang sama membelaikan wajahmu untukku. Berharap setiap hirupannya menyelimuti jantungmu, lalu dipompakan ke otakmu. Barangkali kau sedikit punya waktu untuk mengingat aku, meski tak sampai merindu. Tak apa, aku saja yang rindu. Kamu tak perlu.

Apa yang salah dari cinta yang aku haturkan padamu? Aku bersedia menunggu, tapi kau risih ditunggu. Aku bersedia ikut denganmu, tapi kau bilang akan terganggu. Lalu aku belajar pasrah. Mengubur kesakitan karena mengingatmu adalah rasa sakit yang paling nikmat. Mengingat kebodohan masa lalu mengapa aku pernah menerimamu, mengapa kemudian aku mempercayakan cinta ini padamu. Lalu kemudian aku mendadak bodoh, berharap dapat memutar waktu untuk meninggalkanmu terlebih dahulu sebelum kau tinggalkan. Karena selalu benar, ditinggalkan lebih menyakitkan dari pada meninggalkan. Sebab meninggalkan dapat dipersiapkan.

***

Mungkin ini terakhir kalinya ia mengantarkanku pulang. Dan rasanya meski telah sampai di depan Kost-an, enggan hati ini mengizinkan tubuhku turun. Masih ingin berlama-lama mencium aroma parfumnya yang khas. Masih ingin menatap lama-lama leher bagian belakangnya, ia bilang itu tato yang keren, meski itu hanya bekas luka, aku bilang itu aneh. Tapi semakin lama aku perhatikan, persepsi aneh bergeser menjadi unik.

“Ros, besok tolong jangan megantarkanku ke Bandara ya!”

Bisakah kau tak perlu memperjelas perpisahan ini, Ren?

“GR kamu, Ren. Aku capek. Malam ini mau tidur sampai besok sore. Ganti rugi begadang 3 harian ini. Hahaa”

“Dasar kebo. Sukanya mbangkong mulu. Segera selesaikan kuliahmu, Kebo”

“Nggak kebalik, Ren? Perasaan kamu deh yang terancam DO. Hahaha”

Dia nyengir. Mungkin ini tawa terakhirnya yang dapat aku nikmati. Ah, perpisahan yang menyebalkan.

Aku nyengir. Terpaksa. Karena aku benci terlihat lemah saat ditinggalkan.

***

Katanya, hidup adalah pilihan. Mengapa tak bisa aku memilih untuk tetap bersamamu? Katanya, cinta itu buta, mengapa tak bisa hanya kita berdua saja tetap dalam kebutaan dan hanya saling menggenggam tangan masing-masing untuk saling menuntun?

Ada banyak hal yang tak bisa kita paksakan dalam hidup ini. Iya, itu aku paham. Namun ada juga hal-hal yang sekalipun tahu itu adalah ketidakmungkinan, kita tetap sakau mengejar kemungkinanya. Karena kufikir, manusia tidak benar-benar memiliki patokan ajeg tentang larangan dan kebolehan. Ada banyak pertentangan batin yang sulit untuk di urai ujung pangkal permasalahan dan turunan masalahnya. Kita hanya sibuk dililit benang kusut tanpa bisa berfikir jernih untuk mengurainya. Ah, salah itu cuma aku, bukan kamu. Kau terlampau berfikir jernih untuk segera menyudahi ketimbang meladeni hal yang  tak begitu penting. Waktumu terlalu berharga untuk dibuang menghiraukanku.

Kemudian melupakan menjadi begitu berat bagi seorang pelupa sepertiku. Apakah melupakan menjadi hal yang begitu mudah untuk seorang yang jago mengingat sepertimu? Ada banyak perasaan takut yang berkeliaran. Ada banyak keberanian yang menagih untuk dilepaskan mejadi keliaran. Takut akan benar-benar kehilanganmu. Maka di waktu-waktu tertentu, takut berkonsolidasi dengan berani untuk mengaktifkan si liar. Seumpama tangan mulai gatal untuk sekedar mengirimkan sapaan hey yang berlanjut dengan percakapan-percakapan nakal, yang hampir selalu berujung perdebatan, yang hampir selalu menambal lubang di hati dengan kesakitan lainnya.

Harusnya melupakan menjadi perkara yang mudah bagi seorang pelupa. Mestinya, melupakan adalah hal yang logis dan mutlak dilakukan mengingat perlakuanmu sudah tak lagi mencerminkan keinginan untuk bersamaku. Cinta bukan perkara perasaan seseorang, tapi dua orang. Jika sudah tak lagi saling berbalas, untuk apa terus dipertahankan? Suara tidak akan pernah muncul hanya dari satu tepukan sebelah tangan. Tapi, malangnya… cinta bagi sebagian orang (mungkin juga bagiku) itu buta. Tak peduli rasa malu. Tak peduli harga diri apalagi melanggar prinsip.

Maafkan aku yang tak tahu diri ini.

Maka, menyendiri kemudian menjadi pilihan yang paling dibenarkan. Tak perlu dekat-dekat dengan siapapun. Jangan percaya siapapun, jangan menjadi kepercayaan siapapun. Jangan bercerita apapun tentang dirimu pada siapapun, jangan mencari tahu informasi apapun dari siapapun tentang siapapun. Mungkin hanya itulah cara untuk tidak menyakiti orang-orang disekitarmu.

***

Semalam….

“Ros, ikut aku ya besok!”

“Kemana, Rik?

“Besok Papa Mamaku dan adikku bakal berkunjung. Aku ingin memperkenalkanmu”

“Teman-teman yang lain juga ikut?”

“Cuma kamu yang aku ajak”

“Jangan, Rik. Bahaya. Kamu ajak pacar kamu saja. Kita kan cuma teman. Kamu ini ada-ada saja”

Aku nyengir. Mukanya masam. Perasaanku semakin tak enak. Ini tidak benar, sama sekali tak benar.

“Kamu sudah faham aku, Ros. Aku tidak pandai menggombal. Kali ini kamu tidak boleh menolak. Aku sudah bosan mendengar penolakanmu. Aku ini serius”

“Dan kamupun sudah faham kan jika aku masih menunggu Rendra?”

Dia mencengkeram kedua pundakku. Tatapan tajam seolah hendak memangsa, aku takut.

“Rendra lagi Rendra lagi. Mau sampai kapan kamu menunggu? Yang bahkan chat dan telfonmu sudah tak pernah ia respon? Jangan keterlaluan begitulah tak tahu dirimu, Rosnaku sayang”

Ini bukan tentang Rendra. Dia sudah lama ku pendam dalam-dalam. Tapi aku enggan jatuh lagi. Bagiku, cinta hanya persoalan jatuh yang menyakitkan. Bukan trauma, bagiku kepercayaan itu sudah enggan aku percaya. Bukan persoalan mencoba lagi, bagiku hidup bebas itu adalah tanpa diikat atau mengikat hubungan dengan siapapun.

***

Malam ini….

Surabaya, yang aku tahu adalah kota yang panas. Tapi kali ini tanganku mengkerut dan memutih, bukan karena AC, mungkin anemiaku kumat, darahku tersedot ke otak hanya untuk berfikir keras. Memantapkan diri untuk sebuah upacara sakral. Mempersiapkan perpisahan.

Jangan panggil aku jahat. Jangan sebut aku pendendam. Jangan anggap aku tak tahu diri. Aku sudah katakan untuk jangan dekat-dekat denganku. Aku tidak pandai dalam menjaga kepercayaan.

Malam ini Riko menggandeng tanganku erat, kepercayaan dirinya mengalir dalam genggaman tangannya, ya aku merasakannya dan itu membuat tanganku semakin dingin saja. Khusus malam ini aku suka dekat-dekat dengannya, parfumnya kali ini berbeda dari biasanya yang kadang mengganggu penciumanku. Mungkin benar, hidung perempuan itu sudah terlatih dengan bau-bauan. Setelan bajunya baru, sepertinya sengaja ia beli untuk malam ini. Baunya masih tercium bau baju baru.

Dengan mantap Riko memperkenalkan aku pada keluarganya. Aku memilih lebih banyak diam. Setiap pertanyaan aku jawab singkat saja. Riko terlihat geram, sering yang terjadi ia menjadi juru bicaraku.

Diseberang meja makan kami, duduk seorang wanita yang sedang mempersiapkan kemarahannya. Renata, pacar Riko. Aku yang memberitahukannya. Riko melihatnya, sebentar ia pamit ke kamar mandi memberikan kode pada Renata untuk mengikuti langkahnya. Apa yang mereka bicarakan, silahkan kalian terka sendiri.

2 jam usai. Riko mengantarkanku pulang.

“Terima kasih untuk malam ini. Kejutannya luar biasa”

Aku tahu ia memaksakan senyum bercampur geram. Aku tak peduli, itu masalahnya.

Aku juga hanya membalas dengan senyum yang dipaksa. Aku jadi merasa bersalah. Dan yang bisa kulakuakan hanyalah masuk ke kost-an tanpa menoleh sedikitpun.

Mulai malam ini aku akan menjadi manusia yang kau anggap paling kejam, Riko. Aku terima sebutan hina apapun yang hendak kau sandangkan padaku. Tidurlah lelap, esok lupakan aku. Karena besok aku akan menjadi orang yang sama sekali berbeda. Aku bukan lagi Rosnamu yang kau sayang. Bukan lagi orang yang kau sebut paling banyak tahu rahasiamu. Sudah aku katakan, jangan mempercayaiku. Bukankah sudah jelas, rahasia hanya untuk disimpan sendiri, diketahui hanya oleh satu orang bukan pengampunan dan takkan lagi disebut rahasia. Kali ini aku memberikanmu pelajaran, Riko. Sebuah pelajaran yang dulu aku terima dari Rendra, bahwasanya jangan pernah berbagi rahasia apapun sekalipun dia kau anggap orang yang paling bisa dipercaya. Karena hukumnya, apapun yang kau ceritakan pada orang lain, meski hanya satu orang, bersiaplah untuk diketahui orang lainnya. Jika tidak ingin diketahui orang, cukup simpan untuk dirimu sendiri. Aku tidak sedang balas dendam, namun persoalan lidah memang tak bertulang.

Maafkan aku yang tak tahu diri ini.

 

Pengurus KOPRI PMII Surabaya yang sedang berjuang mengakhiri Program Pendidikan Profesi Apoteker di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga.

Mempersiapkan Perpisahan
Click to comment

Komentar

To Top