Catatan Perut

Tak Ada Mekkah Hari Ini

Konon bencana dimulai dari banyak pintu. Salah satunya adalah dari pintu tata ruang. Banyak kalangan yang sinis dan menyebut tata ruang sebagai tata uang. Konsentrasi para pengembang tata kota adalah bukan pada mekanisme harmonisasi kota bangunan dengan alam, namun sebaliknya konsentrasi mereka hanya pada uang dan keuntungan kocek semata.

Meminjam analisis budayawan Prie GS (2009), sepanjang yang ditata adalah uang, maka apalah artinya sebuah ruang. Industrialisasi di mana pun akan bertarung dengan keseimbangan ekosistem. Musuh utama indutrialisasi adalah aneka keseimbangan alam yang meliputi sawah, tanah lapang, dan tentu saja mata air dan sungainya.

Di hadapan manusia-manusia yang tak memedulikan ruang dan hanya berkonsentrasi pada uang, kota tidak lebih hanya sekedar komoditas yang harus diubah dan diberi lipstik agar terkesan tidak tertinggal dari apa yang dikenal sebagai sebuah kemodernan. Modernitas adalah simbol kemajuan. Untuk mencapai modernitas manusia melakukan berbagai cara, celakanya yang banyak dipilih hari ini adalah cara-cara mengerikan yakni menyulap tata kota dengan tanpa mempedulikan keseimbangan alam.

Dengan pola pikir yang demikian mengerikan itu, lahirlah kota-kota yang kita anggap modern hari ini antara lain, Paris, Las Vegas, Manhattan dan tentu saja yang terakhir Mekkah. Mekkah adalah kota yang konsep tata kelolanya seolah copy paste dari aneka kota-kota besar di dunia. Bangunan yang menjulang tinggi, gedung-gedung pencakar langit, jam raksasa yang entah fungsinya untuk apa, adalah simbol utama wajah kota Mekkah hari ini.

Bahkan Irfan Al-Alawi dalam wawancaranya dengan tirto.id mengatakan bahwa Mekkah dan Madinah bukan haramain lagi. Sebab kesucian itu hilang sejalan dengan diberangusnya 95% situs bersejarah umat Islam.

Wajah yang modern itu, entah mengapa menjadi begitu mengerikan dilihat. Ia sangat kontras dengan keadaan manusia-manusia yang sedang khusyuk bergumul mengitari kakbah dengan hanya memakai selembar kain yang menyimbolkan kesederhanaan. Jamaah haji dan umrah yang berbalut kesederhanaan harus berhadapan dengan bangunan kota Mekkah yang angkuh dan berbalut kemewahan.

Kesederhanaan dan juga kemewaan adalah dua kutub opisisi biner yang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa disatukan. Dan celakanya hal ini sedang melanda kota Mekkah yang merupakan titik konsentrasi simbolik ibadah umat Islam seluruh dunia.

Modernitas Simbolik

Jean Baudrillard (2001), seorang filsuf Prancis, pernah mengatakan bahwa hari ini sesungguhnya manusia hanya hidup dalam apa yang disebut sebagai galaksi simulakra. Manusia hanya hidup dalam realitas yang imitasi, bukan dunia nyata. Realitas ini dibangun sering kali melebihi dunia nyata. Gejala yang demikian disebut dengan hyper reality.

Nampaknya apa yang dikatakan Baudrillard juga sudah menjangkiti pola pikir pemerintah Arab Saudi. Mereka ingin membangun kota Mekkah berdasarkan imajinasi yang mereka punyai. Celakanya imajinasi itu tidak membumi sama sekali, imajinasi yang melambung tinggi tanpa menemukan pijakan yang kokoh dipermukaan bumi.

Gedung-gedung yang dibangun seperti Abraj Al-Bayt yang memiliki lampu lebih dari 21.000 buah itu untuk apa gunanya kalau bukan untuk mengeruk keuntungan finansial dan mengeksploitasi jamaah haji? Atas dasar apa gedung-gedung pencakar langit itu dibangun? Untuk siapa?

Pesan utama ibadah haji dan umrah adalah kesederhanaan. Itu dibuktikan secara simbolik dengan dilaksanakannya wukuf di Arafah dan juga selama pelaksanaan haji yang jamaah hanya diperbolehkan memakai selembar kain tanpa jahitan sama sekali. Namun pesan kesederhanaan itu nampaknya lunas diruntuhkan dengan begitu saja oleh para pengembang dan pemerintah Arab Saudi dengan cara membangun gedung-gedung megah yang membuat Arab Saudi menjadi seolah Las Vegas Jilid II atau –meminjam Irfan Al-Alawi-Mekkahattan.

Apa yang dialami oleh Mekkah hari ini dengan fenomena galaksi simulakranya tidak lebih hanyalah merupakan modernitas simbolik. Modernitas simbolik adalah sebuah kemodernan yang berhenti pada tataran permukaan saja. Ia tidak megakar dan hanya berkutat pada kulit saja.

Ekplotasi dan kapitalisasi

Mekkah bagaimanapun juga adalah destinasi “wisata religi” yang sampai kapanpun tidak akan pernah sepi pengunjung. Setiap tahun bukan malah berkurang pendatangnya, justru sebaliknya, jamaah haji kian hari kian bertambah. Daftar antrean haji pun semakin panjang dan melelahkan.

Dengan antrean menunggu yang bahkan bisa mencapai 40 tahun sebagaimana yang terjadi di wilayah Makassar (Kompas.com), jika jamaah haji tidak dilayani dengan baik, maka betapa lalimnya pemerintah Arab Saudi. Sebab para jamaah haji adalah tamu-tamu Allah yang tentu saja datang ke Kakbah bukan untuk plesiran namun lebih dari itu untuk beribadah.

Virus wisata religi ini nampaknya menjadi ideologi pemerintah Arab Saudi saat ini. Mereka seolah hanya berkonsentrasi menggenjot devisa negara pada sektor pariwisata, sehingga gedung-gedung dibangun dengan begitu megahnya tanpa mempedulikan filosofi tata pembangunan kota.

Akibatnya tentu saja kita masih ingat sebagaimana yang terjadi tahun lalu, banyak korban berjatuhan akibat pembangunan dengan nalar kapitalistik tersebut. Tragedi Mina dan juga jatuhnya crane satu setengah tahun lalu adalah bukti sahih alpa-nya pembangunan tata ruang akan kepedulian terhadap filosofi pembangunan.

Eksploitasi dan kapaitalisasi ibadah adalah kejahatan berkedok agama. Menjadikan ibadah sebagai lahan ekonomi sah-sah saja, namun persoalannya kemudian ia harus dibatasi. Ia tidak boleh diekploitasi, apalagi dikapitalisasi. Nah, hari ini pemerintah Arab Saudi telah melakukan  kedua-duanya, yakni mengekploitasi dan juga sekaligus mengkapitalisasi. Pemerintah Arab Saudi nampaknya sadar betul bahwa di era modern seperti ini, haji bukan saja merupakan peristiwa religi, namun lebih dari itu, haji merupakan peristiwa budaya yang mudah sekali dibumbui libido sosial. Salah satunya ditandai dengan bejibunnya jumlah belanjaan dan juga citra peningkatan status sosial di masyarakat sepacsa pulang haji. Di titik inilah kapitalisasi dan eksploitasi itu menemukan medan persemaiannya.

Sujud tertingi adalah membahagiakan sesama, demikian kata Sujiwo Tedjo (2013). Dan pertanyaannya adalah sudah seberapa sujudkah pemerintah Arab Saudi?

Tak Ada Mekkah Hari Ini
Click to comment

Komentar

To Top