Cerpen

Jadi Begitu, Id.

“Jadi begitu, Id. Kamu bantu anak pak Samad untuk kali ini saja. Bagaimana?”

Yang ditanya hanya diam saja sembari menyeruput kopi pahit melawan dinginnya hawa lereng gunung Dempo. Ia memijit-mijit kepala seperti orang yang pikirannya sudah melanglang buana entah berlari ke mana. Sesekali ia menopang dagu dan alisnya nyaris saja bertautan. Kemudian lama terdiam dengan tatapan kosong melompong terbuang di hamparan kebun kubis.

“Zaid?”

Ia menghela nafas panjang,” Aku sudah terlanjur kesal dengan bapaknya, si Samad itu. Bahkan kini ketika ia sudah terkubur bertahun-tahun dan tak melihatnya pun aku masih terus tak lupa dengan kepongahannya.” Wajahnya sudah mulai terasa tak menguntungkan bagi pak Kangkam yang sudah jauh-jauh datang dari Lahat kota. Lelaki bungkuk itu membetulkan cara duduknya yang tak nyaman.

“Ya itu terserah kamu. Kalau nggak mau bantu juga nggak apa-apa, nak. Masalahnya, kamu satu-satunya saudara kandung pak Samad. Selain kamu ya nggak ada lagi. Iya memang ada, tapi apa peduli mereka dengan keluarga Samad. Bapak nggak sanggup mbantu dia. Bapak saja beberapa tahun ini kan bergantung sama kamu.”

Zaid menggosok-gosok tangan dan meniupnya perlahan. Ia menatap sepiring sarapan pagi yang disediakan putrinya. Mulutnya mulai melahap singkong rebus yang ditaburi gula itu, hasil kerja tangan rajinnya di sela-sela sibuknya bertani kubis. Hanya itu saja pekerjaan yang ia lakoni 7 tahun terakhir sejak ia memutuskan untuk tinggal di kampung tempat ia dilahirkan. Istrinya sudah mendesak Zaid untuk tidak pindah dari kota. Karena kota sudah cukup membahagiakan ia sekeluarga. Tapi nekad saja ia pulang. Jelas istrinya tak ingin ikut serta. Hingga 3 tahun kepergian Zaid, sang istri memutuskan untuk berpisah dan mengirim kedua anaknya ke kampung dan tinggal bersama Zaid dengan alasan ia tak sanggup membiayai mereka. Zaid sebenarnya menyesalkan hal tersebut terjadi. Tapi apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur. “Alasan wanita tengik tak tahu diuntung. Kurang apa aku selama ini? Uang bulanan masih tetap aku kirim untuk keperluannya dan anak-anak.”

“Sekali lagi aku nanya, Id. Kamu mau nolong dia nggak? Abdullah butuh uang itu besok untuk uang bulanan dia nyantren. Dia sudah 5 bulan nunggak. Kalau nggak segera dibayar Bedul akan dikeluarkan.”

“Masa orang pesantren tega mengeluarkan orang yang nyerap ilmu, pak? Kiai-kiai di pesantren itu orang taat agama. Mana mungkin mereka tega kayak gitu dengan Bedul. Apalagi itu katanya si Bedul sudah hafal 10 juz. Itung-itung beasiswa tahfidz begitu.”

“Orang pesantren di sana juga bukan orang-orang kaya. Mereka nggak ada dana untuk menggratiskan biaya makan, air, dan listrik.”

Zaid tak menggubris pak Kangkam lagi. Ia langsung masuk ke dalam meninggalkan bapak angkatnya itu sendirian duduk di kursi panjang terbuat dari anyaman bambu yang baru saja Zaid beli dari pasar loak.

Pak Kangkam membiarkan tubuhnya tersender lemah di kursi. Rambutnya berwarna perak yang ia biarkan memanjang subur sebahu itu melayang-layang. Beberapa helai menggelitik wajahnya yang keriput, sapaan nakal agar disentuh oleh tangan rentanya.

Muncul seorang gadis tinggi semampai, kuning langsat dan bersih sekali kulitnya tanpa ditumbuhi oleh bulu. Kata orang di Pagaralam kulit yang seperti itu sebenarnya kurang bagus, tapi mata tetap sedap saja memandangnya. Ia mengenakan abayya dan berkerudung selendang berwarna krem lembut. Rambutnya ia biarkan meyembul sedikit. Gadis berbibir mungil itu berumur kisaran tujuh belas tahun ke atas. Tapi entahlah.

Tak ada senyum di bawah hidung mancung itu. Ia duduk di kursi tepat  berseberangan dengan kursi tempat pak Kangkam duduk.

“Bapak masih sangat marah dengan keluarga Ninek Samad. Sudah berulang kali aku menasehatinya, kalau Bedul jelas tidak tahu menahu pasal mereka berdua berselisih paham.”

“Aku tahu itu, kakek juga sudah melakukan hal yang sama. Kita lihat saja nanti sampai mana hati bapakmu akan mereda.”

Wajah gadis itu terangkat pelan dan menajam ke arah pak Kangkam. Matanya ingin sekali keluar dan membentur mata orang yang berada di hadapannya. Dengan sigap lelaki jangkung itu membuang matanya jauh. Tangannya bersilang di dada menutup kekalutan. Ia menatap seperti mencari jalan keluar yang paling cepat untuk berlari dari sengatan runcing sepasang bola mata itu.

“Aku tahu Ninek Samad dan bapakku adalah korban kerakusan pihak yang ingin untung banyak mendapatkan warisan keluarga besar buyutku.”

“Kamu masih curiga dengan kakek buyut yang sudah ikut serta membesarkan kamu ini?” Ujar pak Kangkam walau matanya masih kocar-kacir ingin mangkat.

Gadis itu mengeluarkan amplop berwarna coklat dari saku kanannya,”Ini uang 3 juta untuk Bedul. Sampaikan salamku dengan dia. Uang ini tabunganku dan aku berikan untuk Bedul tanpa sepengetahuan bapak. Lusa aku baru bisa ke sana, karena besok aku masih ada urusan.” Ia berdiri lalu langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan pak Kangkam sendirian menatap segepok uang di atas meja bundar itu.

***

Tepat 40 tahun yang lalu di bulan Juli musim kemarau. Bocah itu merengek karena baru saja meninggalkan kebahagiaan di kasur empuk, kamar yang nyaman tempat ia biasa bermain ke sana kemari. Dan kini ia berpindah ke gubuk reyot di dataran yang agak tinggi. Rumah megah tempat ia kemarin berlindung masih terlihat jauh mata memandang. Hari ini ia menjadi orang pesakitan. Ia terus meraung-raung sampai larut malam. Berulang kali si ibu membujuknya untuk diam dengan janji akan dibelikan mainan baru. Bocah malang itu menangis karena nyamuk, siapa yang tahu? Entah tungau barangkali.

Berhari-hari kemudian ia sudah mulai terbiasa dan menerima keadaan. Namun setiap sore menjelang senja terbenam ia berdiri dekat jendela di kamarnya. Ia masih setia menatap bangunan itu. Semua orang tak akan tahu perasaannya, termasuk ayah dan ibunya sendiri. Tapi ayahnya kini jungkir balik mencangkul di ladang milik orang lain. Ayah hanya mendapat imbalan sekitar 15 ribu perhari. Ia terus mencangkul dari pagi hingga sore. Tapi pintarnya bocah yang kini menjadi anak buruh tani itu. Ia selalu menyambut kedatangan pahlawannya di depan pintu dan memanggilnya penuh kasih.

“Aku rindu ayah.” Ujarnya lugu, “Kapan kita pulang lagi ke sana yah?” Jarinya menunjuk ke arah rumah megah itu.

Ayah hanya tersenyum, “Nanti kalau kamu sudah besar. Kamu yang bikin rumah seperti itu juga ya.” Bocah itu mengangguk pelan dan menatap lembut ayahnya.

Dua minggu yang lalu bocah itu ikut menangis melihat ayah dan ibunya memuntal pakaian dan bersiap untuk pergi dari rumah warisan itu. Seharusnya ayah bocah itu yang kedapatan rumah. Sesuai dengan tradisi adat  yang sudah turun temurun, rumah adalah hak wajib bagi anak tertua dan laki-laki. Namun dua saudara dan satu saudarinya bersikeras untuk ingin mendapatkan hak yang sama. Mereka berpendapat tradisi itu adalah hal yang kuno. Maka dipilihlah oleh ayah mereka dengan jalan pengocokan kertas semacam ibu-ibu arisan. Nama siapa yang keluar maka dialah yang berhak sepenuhnya untuk mendapatkan rumah mewah itu. Semuanya setuju saran tersebut. Satu kali dikocok, nama ayah bocah tadi yang keluar, dua kali, sampai 5 kali nama ayahnya yang selalu keluar. Satu sama lain lunglai dengan hasil tersebut dan pasrah melihat hasilnya. Kecuali satu orang, si bungsu.

“Hudi sudah lama mengecap kekayaan bapak, aku rasa dia sekarang sudah mandiri dan bisa mencari harta sendiri. Sedangkan aku? Nasib memang anak terakhir. Tidak akan bisa mendapatkan apa-apa.” Samad ketus.

“Hmmm, begini Mad. Aduh aku bingung bagaimana mesti menjelaskannya…” pak Kangkam gagap menimpali. Ia ikut nimbrung dalam kemelut keluarga itu. Pak Kangkam bisa disebut sebagai tangan kanannya ayah mereka.

“Aku tidak peduli bagaimanapun hasil undian tersebut. Aku hanya ingin rumah, itu saja.” Samad menepuk lantai dengan wajah merah padam. Semua yang ada di ruangan hanya tertunduk, begitupun dengan Hudi. Tapi ayah mereka hanya santai melihat kelakuan si bungsu. Ia menghisap cerutu di tangannya. Lalu menatap tenang Samad, kemudian ke arah Hudi. Tenang sekali.

“Menurutmu bagaimana Kam?”

“Anu kak ipagh[1], sebenarnya saya setuju dengan Samad. Dia juga berhak untuk mendapatkan rumah ini. Hudi sudah besar kak, dia dan istri pasti sudah bisa menata sendiri bagaimana kehidupan dia kelak. Lihat si Samad, dia masih bujang. Belum kawin sudah diusir dari rumah kan kasihan kak.”

Ayah hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Kangkam.

“Kalau menurutmu Hudi?”

“Sebenarnya saya keberatan ayah. Anak tertua dan sudah menikah tidak menjamin keberhasilan saya di luar rumah ini. tanggung jawab anak tunggu tubang[2] kan bukan hanya perihal menempati rumah, tapi juga menjaga amanah untuk terus menjalin silaturahmi dengan sanak keluarge kundang kance[3].

Samad melengos tak senang mendengar penyataan Hudi, karena menurutnya itu sama sekali tidak masuk akal, “Kau kira kau saja yang tahu silsilah turun temurun ninik puyang? Aku juga tahu.”

“Kau ingat, Di. kau harusnya tahu dirimu sendiri. aku hanya ingin kau sadar dengan keputusanmu yang tetap menginginkan rumah. Semua orang juga tahu siapa kamu. Apa perlu aku yang memberitahu sekarang juga di depan tetangga kita?”

“Kau bicara apa, Samad?”

Samad cikikikan mendengar jawaban Hudi. Muka Hudi tenggelam bersamaan dengan kenangan asal usul dirinya di dalam keluarga. Itu memang tidak layak dan sebenarnya tidak pantas jika Samad mengungkitnya di muka umum. Samad keterlaluan. Bukan, bukan,  Hudi sama sekali bukan bocah kemarin sore yang mudah merengek di depan orangtua. Apalagi sekarang buyut, ninik, mamak, dan uwaknya pun turut berkumpul. Semua tertunduk mendengar perkataan Samad barusan.

“Samad, kamu jangan gegabah begitu. Kurang baik, anakku.” Kangkam merangkul Samad yang tengah menggebu di atas angin. Kali ini ia akan mendapatkannya apa yang diinginkannya.

“Kalau kau ingin menjaga nama baik keluarga, maka tinggalkanlah rumah ini.”

“Bagaimanapun kau tidak layak bicara seperti itu Samad!!! Hudi tetaplah kakakmu. Soalan asal usul dia, itu hanyalah kesalahanku dan ibumu.”

Seisi rumah bungkam. Tak ada yang berani mengangkat muka. Istri Hudi menangis sendu lalu berlari meninggalkan ruangan menuju dapur sambil menggendong Zaid kecil, disusul oleh mertuanya.

Selepas itu istri Hudi tak tahu lagi apa yang terjadi. Ia hanya terisak mendengar kemelut yang terjadi di ruang tempat pemutusan hak warisan. Berulangkali ia menciumi Zaid hingga Zaid ikut menangis. Mungkin ia tahu apa yang dirasakan oleh ibunya. Yang pasti ibunya sedang bersedih, walaupun ia tak tahu sedih karena apa.

Tak lama, Hudi datang dan menarik tangan istrinya lembut.

“Kita pergi saja. Nanti bisalah kita membikin rumah sendiri yang lebih bagus. Rumah ini hanya warisan, suatu saat juga pasti harus diwariskan lagi kan? Rumah ini tidak akan pernah bisa kita miliki seutuhnya walaupun surat kepemilikanpun dijatuhi atas nama kita.”

Ninik sangat tahu apa yang dirasakan oleh suaminya. Sedihnya tak dapat bersembunyi dari merahnya muka. Ninik terjatuh dan bersimbah memeluk kaki suaminya.

“Aku tahu apa yang kau rasakan. Jadi jangan pernah sembunyikan apapun dariku, kau tahu kan? Aku adalah dirimu, dan dirimu adalah aku.”

Zaid ikut meraung di tengah malam mencekam itu. Esok mereka akan minggat di rumah itu. Entah ke mana, tapi yang pasti mereka akan pergi. Semalaman Hudi dan Ninik tak dapat memejamkan mata walau sebentar. Hanya Zaid yang perlahan mulai terlelap. Sesekali Ninik mengusap airmata Zaid yang tiba-tiba jatuh. Mungkin dalam mimpi ia menangis. Oh anak ini…

***

“Ayah, besok nanti aku mau ke pesantren tempat Bedul mondok. Entah kenapa aku ingin sekali menengoknya.”

Zaid hanya mengangguk pelan tanpa menoleh ke arah Atun, anak gadisnya. Usai makan malam, Atun memberesi piring kotor. Zaid langsung keluar. Kebetulan malam ini jadwalnya meronda di kampung mereka. Adam sudah lama terpekur di balai bambu tempat biasanya Zaid istirahat lepas seharian ia berkebun di ladang kubis. Di rumah itu hanya mereka bertiga saja yang tinggal. Terkadang pak Kangkam datang menginap sambil meminta beberapa sen uang pada Zaid,”Dasar tidak tahu malu, dia lupa akan kelakuannya pada kakek kita.” Atun menggerutu di hadapan Adam ketika melihat Kangkam datang menakuk tangan pada Zaid. Adam hanya diam saja melihat kekesalan Atun,”Sudahlah, Datuk kan sudah tua. Kasihan dia.”

Keesokan harinya Atun berangkat dari rumah menuju pesantren Bedul. Ia pergi naik angkutan kota yang biasanya ditempuh 2 jam perjalanan. Sebenarnya itu pesantren tempat ia belajar juga, tapi itu dulu ketika ia masih duduk di bangku SMP. Sudah bertahun-tahun ia tidak pernah berkunjung lagi di pondok itu. Entah bagaimana perubahannya, santri-santrinya, guru-gurunya, kantin tempat ia biasa nongkrong dengan teman-teman di kala istirahat, pohon jambu keras, pohon alpukat, gedung kesenian, laboratorium, dan masih masih banyak lagi kenangan di tempat itu.

Angkot sudah sampai di depan gerbang utama pondok pesantren. Setelah itu, Atun masih harus naik ojek menuju kompleks santri. Sepanjang perjalanan, Atun menikmati jejeran pepohonan jeruk dan jambu, juga ada kebun kopi, sayur-sayuran yang menjadi sumber ekonomi pesantren. Sesekali Atun bercerita dengan tukang ojek pesantren tersebut perihal perkembangan pesantren.

“Ha-ha-ha, tambah maju saja, Yuk[4].”

Yah, pesantren Darul Fattah itu terkenal dengan julukannya sebagai permadani surga. Tempatnya yang jauh dari keramaian kota, masih asri, tanahnya yang tertutup oleh rumput-rumputan, bermacam warna-warni bunga, ditambah lagi hiasan kokohnya gunung Dempo yang berdiri tegak di penghujung sana. Nikmat sekali mata memandang.

“Kita anggap saja gunung Dempo itu adalah tiangnya, dan pesantren Darul Fattah adalah pasaknya. Selama Darul Fattah berdiri dan terus menegakkan kalimatul haq, selama itu pula kota ini akan terus terjaga.” Seluruh santri mengamini kata-kata sang kiai.

Ah, kenangan itu sangat kuat di memorinya. Atun berjalan menuju tempat penerimaan tamu. Oh ya, tempat itu tidak berpindah letaknya. Masih di tempat yang sama. Konon kata sang kiai pendiri pesantren, Mes itu adalah bangunan yang pertama kali didirikan. Pantas saja sudah papannya sudah kelihatan keropos walaupun dilapisi cat berwarna biru itu.

“Itu dia santri yang piket rayon.” Atun bergumam sambil mempercepat langkahnya menghampiri dua santriwan.

Beruntung dua santri itu menyambutnya dengan ramah. Jadi Atun tidak perlu bersusah payah lagi sok ramah di depan mereka. Setelah mengutarakan maksud kedatangannya, Atun dipersilakan duduk di mes sembari menunggu Bedul.

Tidak menunngu lama, seseorang datang menuju mes. Bajunya kumal tak terurus. Aduh kasihan melihatnya. Mata Atun mulai berair. Nyaris dia tidak mengenal lagi sosok Bedul. Semasa bapaknya masih hidup, perawakan Bedul gempal sangat sehat dan bersih. Entah sudah berapa kilo berat badannya turun melihat tubuhnya sekarang yang demikian kerempeng persis seperti tiang listrik, tinggi dan kurus.

“Apa kabarmu Dul?” Atun berusaha tersenyum sambil menahan isak. Tak tahan dia melihat keadaan Bedul.

“Seperti yang kau lihat.” Ujarnya serak. Matanya tak berani menatap Atun.

Atun meraih tangan Bedul, “Kemarilah Dul. Coba cerita padaku, kenapa kau kumal sekali. Badanmu juga Dul. Kau tidak dikasih makan di sini? Atau bagaimana?”

Bedul mengusap matanya dan terisak,”Aku malu Tun. Aku nggak sanggup makan di sini. Aku hanya makan sedikit saja. Rasanya dzalim aku memakan hak orang lain.”

“Dzalim bagaimana Dul?”

“Kiai sebenarnya sudah menggratiskan biayaku selama mondok di sini. Tapi ya itu Tun, aku nggak sanggup. Aduh Tun, aku malu. Aku mau pulang tapi tidak tahu harus pulang ke mana.”

Atun terisak melihat anak malang di hadapannya kini. “Rumah peninggalan bapakmu bagaimana? Itu kan, kalau bapakmu sudah tidak ada, otomatis sudah jadi milik kamu Dul.”

“Tidak Tun. Rumah itu sudah dijual oleh bapak seminggu sebelum ia meninggal dalam keadaan sekarat.”

“Lalu uangnya? Ditaruh di mana?”

“buat bayar utang Tun. Bapak suka judi. Jadi utangnya ada di mana-mana. Uang hasil penjualan rumah habis untuk itu saja.”

“Dul, dua hari yang lalu Datuk Kangkam ke rumah bapakku. Dia bilang mau pinjam uang untuk biaya kamu. Tapi bapakku sudah kelewat kesal dengan bapakmu, tahu sendiri kan mereka sudah jadi musuh bebuyutan semenjak kejadian rumah warisan itu. Tapi aku ada tabungan Dul. Aku kasihkan uang 3 juta untuk biaya SPP dan kebutuhanmu yang lainnya.”

Bedul masih terisak di rangkulan Atun. Tangisnya makin meraung mendengar penjelasan Atun barusan.

“Tun, semenjak bapakku sakit, kakek Kangkam tidak pernah datang ke rumah lagi. Apalagi sampai mau datang ke sini menjengukku. Mana peduli dia denganku Tun.”

“Lalu?” Atun menggaruk keningnya yang tak terasa gatal sebenarnya.

“Ya uangmu pasti dibawa kabur. Asal kau tahu saja Tun, lanang tua itu doyan judi juga. mungkin uangmu sudah habis juga. Naas memang, dia sama seperti bapakku yang tidak pernah menang judi. Tapi mereka tetap saja tidak ada kapoknya.”

Atun menghela nafas pelan-pelan. Tangisnya berubah jadi amarah yang berusaha ia pendam di hadapan Bedul. Dalam hati ia tak akan pernah memaafkan pak Kangkam lagi.

“Sudah cukup kesabaranku dan keluargaku melihat tingkah Datuk gila itu.”

Atun menatap Bedul. Anak itu masih saja terisak. Seperti bebannya terlalu banyak ia pikul karena kedunguan bapaknya.

“Dul, aku rasa aku ingin pulang. Aku sudah tidak sanggup lagi mendengar keburukan orang tua itu.” Atun tersenyum.

“Kau tahu Tun? Aku tidak sanggup lagi rasanya hidup.”

“Jangan bicara begitu Dul. Kau ingat kan? Kakekku pernah menderita, bahkan ia harus memulai hidupnya dari nol lagi pasca terusir dari rumah itu. Jaga dirimu baik-baik Dul. Masa depanmu masih panjang. Jangan terlalu berlarut dalam kesedihan. Lihat keturunan kakekku, semuanya baik-baik saja kan?”

Bedul mengangguk pelan, tangisnya mulai reda.

“Sekarang aku mau pulang. Ini ada sedikit uang untukmu untuk beli peralatan mandi. Bersihkan badanmu sebersih-bersihnya, dan jangan lupa makan yang lahap.” Bedul tersenyum ketir mendengar perkataan Atun.

Atun beranjak dari mes. Ia tak berani menoleh lagi ke arah Bedul. “Beda nian sekarang si Bedul.” Gumam Atun.

Sesampainya di rumah. Atun menceritakan apa saja yang baru di dengarnya dari Bedul siang tadi di hadapan Zaid dan Adam. Seperti biasa, Zaid seakan tidak peduli dengan semua kisah tentang Samad dan keturunannya. Selesai Atun bercerita, Zaid tidak menanggapi apa-apa, ia langsung merebahkan badannya di balai-balai.

“Tun. Kau belum baca koran ya pagi tadi?” Adam bertanya pada Atun sambil memegang koran. Atun menggelengkan kepala. Adam meletakkan koran tersebut di dekat Atun.

“Baca koran tuh. Buka halaman 7.”

Atun cepat-cepat membuka halaman 7. Ia membaca serius, sangat serius. Tak lama matanya terbelalak melihat berita itu.

“Ini, ini, ini betulan Dam?” Atun masih merasa tak percaya dengan apa yang barusan ia baca. Adam mengangguk sambil mengaduk kopi buatannya.

“Innalillahi wa innailaihi roji’un…” kemudian Atun terdiam.

“Kau senang atau malah sedih Tun?”

“Dua-duanya Dam. Tapi tak baik juga kalau aku senang di kala ia meninggal. Entahlah Dam.”

“Kau mau melayat? Tetangga kita tadi siang ada beberapa yang ke kota Lahat. Mereka bilang tak banyak orang yang ke sana. Kabar-kabarnya ia meninggal 2 hari yang lalu. Mungkin pas ketika ia pulang dari sini. Uang 3 juta itu saja masih di kantongnya. Tapi sudah digunakan oleh warga untuk biaya pemakamannya Tun.”

“Iya Dam, tidak apa-apa. Mungkin sudah saatnya kita memaafkan datuk Kangkam.”

Kemudian Atun terdiam lama. Ia menoleh ke arah jendela. Cuaca sudah mulai temaram. Matahari sudah tergelincir ke Barat. Malam itu perasaan Atun campur aduk. Ada rasa menyesal di dalam hatinya. Ingin ia berlari ke pemakaman Kangkam dan meminta maaf sekalipun ia sebenarnya tidak bersalah. Tapi jauh di lubuk hatinya, Atun masih perlu menghormati datuk Kangkam yang sudah berusia senja itu.

Atun berjalan menuju kamarnya. Yah, dia hanya butuh istirahat dan terlelap. Lusa ia akan ke pesantren lagi menemui Bedul. Entah bagaimana Bedul menanggapi tragedi meninggalnya datuk Kangkam yang ditabrak lari oleh truk pengangkut batu bara itu. Yang pasti, Atun ingin bertemu dengan Bedul secepatnya.

 

[1] Kakak ipar, dibaca ipae. Karena aksen orang Pagaralam yang tidak bisa melafalkan huruf R

[2] Anak yang mendapat amanah menjaga rumah warisan.

[3] Sanak keluarga dan teman dekat

[4] Ayuk, sebutan kakak perempuan di daerah Sumatra Selatan.

Jadi Begitu, Id.
Click to comment

Komentar

To Top