Catatan Perut

Agama di Jalan Raya

Seorang kawan tiba-tiba menyodorkan pertanyaan: di bagian mana kita bisa mengukur pola keberagamaan masyarakat secara akurat?

Saya diam sejenak. Saya mengamati tesktur pertanyaan itu. Ini pertanyaan, ataukah ujian. Jangan sampai saya terjebak pada pertanyaan yang sifatnya hanya “menguji”. Pernyataan yang sejatinya si penanya sudah memiliki jawaban. Namun entah mengapa Ia seolah ingin “bergulat” gagasan dengan teman bercakapnya.

Pertanyaan jenis demikian ini biasanya lahir dari mereka yang lunglai dihajar kesepian. Kesepian itu menjadi-jadi dan gagal berkali-kali dibunuh dalam diri. Akibatnya: jumud. Kaku.

Kekakuan ini akhirnya membuat si empunya membrutal ndak karu-karuan. Punya sehelai gagasan saja sudah kemaki-nya naudzubillah. Kepinginnya adu gagasan terus. Kegemarannya adalah tarung argumen melulu. Pertanyaannya Bukan benar-benar berdasarkan niat untuk mencari kebenaran, cakrawala, atau prespektif baru. Alih-alih, yang dicari justru ‘perdebatan’ yang menembatkan pihak lain selalu salah dan harus salah.

Setelah beberapa saat terdiam, maka saya putuskan untuk menjawab saja. “Di jalanan,” jawab saya lantang dan lugas.

Kawan saya itu mengernyitkan dahi. Sekonyong-konyong menggugat “kok bisa?”

Puncak beragama seseorang itu tercermin dalam perilakunya. Keberislaman, atau bahkan kesuksesan keberagamaan apapun, dapat dinilai berhasil atau tidak diukur dan dilihat menggunakan parameter seberapa beretika, bermoral, dan berkahlakkah pribadi itu.

Jika kita belajar agama di sekolah, di ceramah-ceramah masjid, di taklim-taklim rutin, di seminar-seminar keagamaan, maka laboratorium untuk menguji sukses dan tidaknya “pembelajaran” itu adalah jalan raya . Di sanalah kita bisa menilai tingkat religiusitas masyarakat.

Ujian hidup sesungguhnya adalah ketika jalanan sepi, kita berada di perempatan jalan sedangkan lampu lalu lintas berwarna merah. Keputusan untuk patuh kepada rambu-rambu lalu lintas bukan semata soal keselamatan, namun juga soal akhlak dan religiusitas.

Banyak di antara kita diam-diam punya kesimpulan bahwa semakin jalan itu mulus, semakin jalanan diperpebar, semakin pula diperbolehkan untuk kebut-kebutan. Jalanan semakin lebar, namun tetap saja kemacetan di mana-mana. Klakson menjadi suara yang selalu memekakkan telinga. Ia beralih fungsi dari sekedar alat untuk “memperingatkan” pihak lain akan keberadaan sebuah kendaraan bermotor, kini berevolusi menjadi alat untuk “mengungkapkan” rasa kesal, jengkel, dan marah.

Jalanan memang semakin lebar dan luas, namun hati akhlak dan kesadaran kita semakin sempit.

Agama di Jalan Raya
Click to comment

Komentar

To Top