Catatan Perut

Perkara Lupa dan Melupakan

Sudah seminggu lebih isu soal kebangkitan PKI hilir mudik di telinga kita. Bising. Ruwet. Semrawut.

Media sosial, media cetak dan juga elektronik menguarkan berita seputar isu ‘tahunan’ itu. Bahkan, di bilangan Menteng tempat saya tinggal, warga menutup jalan demi menggelar acara nonton bareng film G30S/PKI besutan Arifin C. Noer itu.

Yang menarik untuk diketengahkan adalah mengapa mayat-mayat isu soal PKI dan juga komunisme menjadi komoditas yang selalu berulang saban tahun? Apalagi menjelang tahun-tahun politik. Adakah kita tidak pernah belajar–sebagai bangsa–bahwa isu kebangkitan PKI dan komunisme ini merupakan ‘rutinan’ dengan pola yang sama, corak gerakan yang begitu-begitu saja, dan juga cara propaganda yang itu-itu saja?

Atau pertanyaan yang lebih menghujam: adakah pihak yang dengan sengaja menabuh gendang ‘isu’ kebangkitan PKI? Jika iya, apakah kita termasuk pribadi atau pihak yang ikut larut dalam genderang yang dibuat pihak tertentu tersebut?

Bagi generasi seusia saya, isu PKI adalah kegaiban yang paling gaib di antara yang gaib-gaib. Kabut sejarah menyelimuti kita. Kita tidak pernah mengerti kepada siapa, pihak mana, dan lembaga apa yang bisa memberikan informasi kepada kami secara gamblang dan jujur. Kami tidak memiliki peta sejarah, sehingga kami tersesat di belantara semak-semak zaman.

Pada generasi yang trakhum dan rabun sejarah itu, jikapun mereka menebar kebencian, percayalah itu disebabkan oleh ketidaktahuan yang mereka miliki. Ketidaktahuan sampai kapan pun akan memproduksi kebodohan. Kebodohan akan memproduksi kebencian. Kebencian akan memproduksi kekasaran dan tindakan yang cenderung anti liyan.

Saya teringat Gus Dur. Dalam sebuah kesempatan, Gus Dur mengatakan bahwa melarang-larang sebuah ideologi adalah pekerjaan yang sia-sia. Ideologi tak bisa dilarang. Ia akan berkembang dan mati secara alamiah. Jika tidak diminati dan usang, maka ia akan lapuk dimakan zaman. Sebaliknya, jika ia terbukti hebat dan bermanfaat bagi kemajuan sebuah masyarakat, maka ia akan lestari seiring sejalan dengan perkembangan zaman.

Ketakutan yang teramat, saya menduga, jangan-jangan disebabkan dan diproduksi oleh kelemahan kita. Orang yang takut biasanya adalah orang yang lemah dan tidak memiliki kekuatan mental. Untuk membunuh rasa takutnya tersebut maka ia mati-matian menutupinya dengan menyerang pihak yang “ditakuti”.

Semukabalah dengan hal itu, barangkali tahun 1965 adalah tahun yang akan selalu diingat. Tahun yang selalu menjadi langganan perdebatan. Tahun yang selalu menjadi bahan bakar polarisasi: yang pro dan yang kontra.

Ada pepatah yang bilang bahwa time is healing, waktu adalah penyembuh. Tentu saja pepatah itu berangkat dari asumsi bahwa seiring berjalannya waktu, kita sebagai pribadi atau pun bangsa bisa lupa akan sebuah peristiwa, kejadian, cerita, atau bahkan sejarah. Namun, nampaknya itu tidak berlaku untuk 1965.

Bangsa kita nyatanya tidak pernah lupa. Selalu ingat. Bahkan sekuat tenaga ada pihak-pihak yang dengan sangat serius merawat ingatannya itu. Membangunkan mayat-mayat kenangan. Mendaurulang kebencian.

Kuasa ingatan barangkali memang selalu kejam.

Lalu haruskah kita belajar untuk melupakan? Saya rasa tidak. Pekerjaan melupakan itu sejatinya pekerjaan yang sia-sia belaka. Sebab melupakan tidak berarti muradif dengan lupa. Lupa itu alamiah, melupakan itu rekayasa. Sama dengan ingat dan mengingat. Ingat itu alamaih, mengingat itu rekayasa.

Melupakan itu politis, sementara lupa itu alami, begitu kata Umberto Eco.

Perkara Lupa dan Melupakan
Click to comment

Komentar

To Top