Catatan Perut

Mati Ketawa Cara Mahbubian

Seorang Filsuf Yunani pernah mengatakan bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah berumur tua. Demikian Soe Hok Gie menulis dalam Catatan Seorang Demonstran.

Saya mendengar langsung dari Ridwan Saidi, seorang tua yang oleh orang-orang Betawi dipanggil dengan sebutan Engkong karena sudah kelewat tua, bahwa menjadi orang tua itu susahnya cuma satu dan itu tidak ada penawarnya kecuali kematian. Apa itu? Tidak ada lawan ngobrol yang sepadan. “Gua kalau ngomong sama anak mude kaya’ kagak berase ngomong. Gua kangen temen-temen gua yang udah pada ko’id. Gua kesepian kagak ade temen ngobrol,” begitu selorohnya.

Pada tahap ini, sah bagi kita untuk mempertanyatakan apa sesungguhnya yang dimaksud dengan konsep panjang umur dalam doa-doa yang dinudubkan dan diuarkan dalam pesta-pesta ulang tahun yang dirayakan dengan penuh kegirangan itu? Kalaulah Tuhan benar-benar iseng lalu kemudian memanjangkan umur kita hingga dua ratus tiga puluh sembilan tahun misalnya, lalu kita kesepian, lalu kita lunglai tak berdaya dihajar kesendirian, lalu tiba-tiba tubuh kita mati separo, lalu dada kita kembang kempis dan hanya menyisakan puting kehitam-hitaman yang menajang dan lunglai. Lalu tiba-tiba karena ndak mati-mati, kita kesepian. Sepanjang hari dipenuhi rasa teror kesendirian. Bibir kita tidak lagi bisa tersenyum sebab tidak ada kelucuan yang bisa kita konsumsi. Selera humor, kian hari kian menurun. Dan dalam keadaan itu, tidak ada jaminan bagi kita untuk mati secara gembira. Kita akan mati dalam keadaan memanggul kesedihan. Apakah itu termasuk mati sahid? Entahlah. Namun yang demikian ini peristiwa yang amat mengerikan.

Tapi itu dulu. Barangkali kita patut menjulurkan gugatan ndak mutu itu dulu, sebelum Mahbub Djunadi ‘lahir kembali’. Ada segerembolan anak muda yang nampaknya secara serius dan terus menerus berusaha untuk ‘membangunkan’ Mahbub Djunaidi. Sekawanan teman itu menamakan diri sebagai Mahbubian. Ini istilah yang belakangan acap pula diuar-uarkan oleh kawan saya, seorang sosiolog perkotaan Dwi Winarno.

“Dunia sudah kelewat serius. Maka humor ada penawarnya,” demikian seloroh seorang kawan.

Sepasca Mahbub Djunaidi ‘lahir’ kembali saya membayangkan bahwa kehidupan itu fana, yang abadi adalah humor dan kelucuan. Setua apapun kita, di hadapan humor bahasa kita sama: bahasa kebahagiaan.

Dari mana sumber humor itu semua? Tentu saja dari Mahbub Djunaidi. Anatomi humor Pak Muahbub-demikian saya nyaman menyebutnya—bisa dilacak di sekujur batang tubuh tulisan-tulisannya. Bahkan lebih dari itu, tulisan adalah bagian kecil dari jelmaan humor Pak Mahbub. Sebab sejatinya humor itu tersimpan jauh di kedalaman ‘gagasan’ dan ‘pikiran’ Pak Mahbub. Artinya, Mahbub Djunaidi memang lucu sejak dalam pikiran. Produksi humornya tidak pernah defisit, apalagi sampai kemarau. Selalu segar, baru, dan anget atau aktual bahasa kekiniannya.

Kalau kita menengok-nengok sejenak demografi kehidupan kita, sejatinya belakangan sudah tidak ada humor lagi. Mereka yang mengaku pelawak di televisi itu, sejatinya tidak bisa memproduksi humor lagi. Mereka hanya saling ejek dan memperlakukan lawan main sebagai bahan olok-olok. Mereka bukan komedian, mereka adalah budak zaman yang dikapitalisasi atas apa yang disebut sebagai komedi, walaupun sejatinya dan hakikatnya bukan komedi. Tidak ada kelucuan lagi. Tak ada suara kakeh lagi, kecuali yang bersumber dari saling olok antar manusia. Malah belakangan yang ada dan tersisa mungkin hanya suara pekik takbir yang memekakkan telinga.

Mulanya, saya tidak sadar setidak sadarnya bahwa keputusan sekawanan teman untuk ‘membangunkan’ Mahbub Djunaidi merupakan keputusan yang sudah matang dan bulat. Barangkali sebulat tahu yang digoreng dadakan lima ratusan itu. Laiknya tahu, sangat mungkin keputusan bulat membangunkan Mahbub Djunaidi mungkin—dalam prasangka saya– juga dilakukan dadakan. Saya bersak wasangka seperti itu. Namun sangkaan itu buru-buru saya anulir sebab saya teringat Soe Hok Gie yang mengutip filsuf Yunani di atas.

Diakui atawa tidak, gagasan untuk membangunkan Mahbub Djunaidi adalah gagasan yang filosofis sekali. Gagasan yang barangkali hanya bisa dilahirkan oleh mereka yang suka bertahanus dan gemar bertetirah. Istilah jawanya rajin tapa brata. Mereka sangat paham bagaimana memilihkan nasib untuk Mahbub Djunaidi. Dan pilihan mereka itu jatuh pada gradasi nasib nomor dua dengan sedikit modifikasi: mati dan hidup lagi!

Seorang teman bercerita bahwa ia terbiasa menghibur kakeknya yang berusia senja dengan cara mengajaknya berhumor ria. Kakeknya bisa tertawa terkekeh saat misalnya menyimak artikel-artikel Mahbub Djunaidi. Gagasan orisinal soal “Buku Petunjuk Politik Sejak Dini”, soal “Peradaban Sungai”, soal rasa nasi goreng dan seterusnya dan sebagainya.

Mendapati cerita sorang kawan itu, saya jadi teringat kejadian yang saya alami beberapa waktu lalu, ketika seorang tua menasehati saya.

“Anak muda, kau harus tahu bahwa puncak pengetahuan adalah kebijaksanaan dan puncak kebijaksanaan adalah kelucuan. Maka kalau kau pintar mestinya kau bijaksana. Kalau kau bijaksana mestinya selera humormu juga bagus. Dan sudah semestinya kau akan lucu. Kalau kau pintar dan bijaksana tapi ndak kunjung lucu berarti ada yang salah dengan cara hidupmu,” begitu katanya.

Saya diam saja. Manggut-manggut sembari memegangi janggut yang hanya ditumbuhi beberapa helai rambut.

“Konon, yang kelak akan masuk surga adalah mereka yang lucu. Golongan yang pinter nglucu dan ndagel ini akan cuepet sekali masuk surga,” Ia melanjutkan.

“Lho kok bisa?” Saya bertanya setengah nekat.

“Lha iya. Soalnya mereka bisa menghibur dan membuat orang gembira dan bahagia”

“Berarti yang di neraka adalah mereka yang pinter-pinter dan bijaksana tapi ndak lucu?”

He-em. Yo seperti kamu ini, ndak lucu blas orangnya”

“Aku masuk neraka?”

“Iya!”

“Yawislah ndak masalah. Kalau memang aku harus masuk neraka yo ndak apa-apa, ntar aku tak mbangun surga di dalam neraka saja”

Edyan. Kok awakmu sekarang cerdas dan lucu?”

Kami sama-sama tertawa sembari ngemut ciplukan.

Saya membayangkan Mahbub Djunaidi—mudah mudahan juga diikuti oleh sekawanan Mahbubian– kelak menjadi barisan terdepan yang masuk surga—lengkap dengan membawa membawa panji-panji kelucuan–karena amal jariahnya yang demikian melimpah: berhasil menghibur segenap umat manusia.

Selamat selalu untuk sekawanan Mahbubian. Humor itu serius dan darah itu tetap merah, Kamerad!

Mati Ketawa Cara Mahbubian
Click to comment

Komentar

To Top